0
Mensinkronisasi logo dan berita terbaru...
    Home Berita Featured Ilmu Pengetahuan IPTEK Sains Spesial

    Bukan Sains, Alasan Sebenarnya Amerika Kembali ke Bulan Terbongkar - CNBC Indonesia

    6 min read

     

    Bukan Sains, Alasan Sebenarnya Amerika Kembali ke Bulan Terbongkar


    Foto: Pemandangan Bumi, yang sebagian tertutup oleh Bulan, difoto melalui jendela pesawat ruang angkasa Orion pada pukul 18.41 EDT (22.41 GMT) tanggal 6 April 2026, selama penerbangan lintas Bulan oleh awak Artemis II. (via REUTERS/NASA)

    Jakarta, CNBC Indonesia - Keberhasilan misi Artemis II yang membawa empat astronaut mengelilingi Bulan dan kembali ke Bumi pada April 2026 kembali menghidupkan ambisi Amerika Serikat membangun pangkalan permanen di Bulan.

    Namun, di balik pencapaian tersebut, sejumlah ilmuwan menilai persaingan geopolitik dengan China menjadi pendorong utama program eksplorasi Bulan terbaru NASA.

    Program Artemis yang diluncurkan pada 2017 menargetkan pembangunan pangkalan permanen di Bulan sebelum China mewujudkan rencana serupa.

    Langkah ini muncul setelah Beijing menyatakan ambisinya membangun stasiun penelitian ilmiah di Bulan dan mempercepat program eksplorasi Bulan, baik robotik maupun berawak, selama dua dekade terakhir.

    Peneliti rekayasa antariksa berkelanjutan dari University of Auckland, Priyanka Dhopade, mengatakan hubungan antara eksplorasi antariksa dan geopolitik bukanlah hal baru.

    "Antariksa dan geopolitik selalu berjalan beriringan. Perbedaannya sekarang adalah dorongan yang lebih kuat untuk membangun kehadiran manusia jangka panjang di Bulan dengan bantuan perusahaan seperti SpaceX dan Blue Origin," ujar Dhopade, dikutip dari Science Focus, Senin (8/6/2026).

    Menurut dia, alasan ilmiah untuk membangun pangkalan berawak di Bulan tidak sekuat eksplorasi robotik atau pengembangan stasiun antariksa internasional seperti Lunar Gateway.

    "Sebaliknya, kita justru melihat pemotongan anggaran misi sains Amerika Serikat dan pembatalan efektif program Gateway. Jadi, geopolitik dan ekonomi tampaknya lebih banyak mengarahkan agenda dibanding rasa ingin tahu ilmiah," jelasnya.

    Pandangan serupa disampaikan astrofisikawan University of Oxford Becky Smethurst. Ia menilai motivasi utama program Artemis bukanlah sains, melainkan kepentingan politik dan ekonomi.

    "Motivasi misi ini bukanlah sains. Sejak awal, motivasinya bersifat politik dan ekonomi. Jadi, kita kembali memasuki perlombaan antariksa, kali ini Amerika Serikat ingin mengalahkan China dalam menempatkan manusia di Bulan," ungkap Smethurst.

    Perdebatan mengenai eksplorasi Bulan semakin mengemuka karena keberadaan sumber daya bernilai tinggi di satelit alami Bumi tersebut.

    Selain es air yang penting untuk mendukung kehidupan dan produksi bahan bakar, Bulan juga diyakini menyimpan unsur tanah jarang serta helium-3 yang berpotensi dimanfaatkan sebagai sumber energi masa depan.

    Di tengah meningkatnya persaingan global, Amerika Serikat memimpin lebih dari 60 negara menandatangani Artemis Accords, kesepakatan yang mengatur penggunaan Bulan secara damai. Namun, kesepakatan itu juga memperbolehkan ekstraksi sumber daya dan pembentukan zona keselamatan di area aktivitas tertentu.

    Kebijakan tersebut memicu kekhawatiran karena dinilai dapat membuka jalan bagi negara maupun perusahaan swasta untuk menguasai wilayah dan sumber daya Bulan.

    "Tidak ada yang bisa menghentikan NASA, badan antariksa China, atau bahkan perusahaan komersial untuk mendarat di suatu lokasi di Bulan dan mengklaim semua sumber daya yang dapat mereka tambang lalu menghasilkan keuntungan dari sana," kata Smethurst.

    Selain sumber daya, Bulan juga memiliki nilai strategis. Bulan dapat menjadi titik transit ideal untuk eksplorasi ruang angkasa yang lebih jauh, termasuk misi ke Mars. Bulan juga dapat digunakan untuk mengamati Bumi. Sisi jauh Bulan bahkan berpotensi menjadi lokasi pengembangan teknologi tanpa pengawasan langsung.

    Nilai ekonomi Bulan saat ini masih sulit dihitung karena informasi mengenai sumber daya dan potensi strategisnya masih terbatas. Karena itu, perlombaan menuju Bulan saat ini pada dasarnya merupakan upaya untuk mengamankan klaim atas apa pun yang nantinya terbukti bernilai.

    "Pertanyaan sebenarnya adalah siapa yang akan mendapatkan manfaat dari semua ini?" ujar Dhopade.

    (dem/dem)

     Add logo_svg as a preferred
    source on Google 

    Saksikan video di bawah ini:

    Video:Spam & Scam Mengancam Era AI, Gimana Jurus Bangun Trust Digital?

    Komentar
    Menyiapkan Link & Penunjuk Waktu...
    Menyiapkan Link & Penunjuk Waktu...
    Menyiapkan Link & Penunjuk Waktu...
    Additional JS