Sosial Media
0
Mensinkronisasi logo dan berita terbaru...
    CONNECTING TRANSMISSION...
    Home Berita DBD Demam Berdarah Dengue Featured Kesehatan Spesial

    Fakta Serangan DBD di Indonesia, 41 Persen Korban Jiwa Anak-anak, 42 Persen Diderita Usia Produktif - Tribunnews

    5 min read

     

    11:33 Tok! 2 Sosok WNA Bakal Resmi Dinaturalisasi Jadi WNI & Bermain Sepak Bola untuk Timnas Indonesia

    Laporan Wartawan Tribunnews.com, M Alivio Mubarak Junior

    Ringkasan Berita:
    • Ancaman DBD di Indonesia sudah sangat mengkhawatirkan dan bisa menyerang siapa saja tanpa kenal waktu, bahkan berujung pada kematian.
    • Hingga pertengahan tahun ini, Kemenkes mencatat puluhan ribu warga Indonesia telah terjangkit penyakit ini.
    • angka kematian tertinggi akibat DBD justru didominasi oleh kelompok anak usia sekolah.
    • Jumlah kasus atau penderita terbanyak, justru disumbang oleh kelompok usia produktif dan dewasa, yakni usia 15 sampai 44 tahun.

    TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Mitos Demam Berdarah Dengue (DBD) hanya menyerang anak-anak atau sekadar penyakit musiman biasa kini resmi dipatahkan. 

    Data terbaru menunjukkan ancaman DBD di Indonesia sudah sangat mengkhawatirkan dan bisa menyerang siapa saja tanpa kenal waktu, bahkan berujung pada kematian.

    Baca juga: Waspada DBD, Nyamuk Lebih Cepat Berkembang dan Sering Menggigit Manusia Akibat Peningkatan Suhu Bumi

    Kementerian Kesehatan RI merilis data terbaru per Januari 2026 yang mengungkap fakta mengejutkan mengenai profil para korban. 

    Hingga pertengahan  2026, Kemenkes mencatat puluhan ribu warga Indonesia telah terjangkit penyakit ini. 

    Sepanjang 2025 lalu, angka kematian tertinggi akibat DBD justru didominasi oleh kelompok anak usia sekolah, tepatnya pada rentang usia 5 hingga 14 tahun, dengan persentase mencapai 41 persen dari total korban jiwa.

    Sementara itu, untuk jumlah kasus atau penderita terbanyak, justru disumbang oleh kelompok usia produktif dan dewasa, yakni usia 15 sampai 44 tahun, dengan total 42 persen dari keseluruhan kasus nasional.

    Menanggapi fenomena ini, Ketua Satgas Imunisasi Anak Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Prof. Dr. dr. Hartono Gunardi, Sp.A, Subsp.T.K.P.S(K), mengingatkan para orang tua agar tidak lagi meremehkan penyakit yang ditularkan oleh nyamuk Aedes aegypti ini.

    "Padahal risiko penularan dapat terjadi kapan saja, dan pada sebagian kasus dapat berkembang menjadi kondisi yang mengancam jiwa, termasuk syok dengue yang memerlukan penanganan segera," jelas Prof. Hartono dalam keterangannya di Jakarta, baru-baru ini.

    Ia menegaskan, di tengah cuaca pancaroba yang tidak menentu seperti sekarang, pola pencegahan konvensional saja tidak lagi cukup. 

    Perlu ada perlindungan ganda untuk keluarga, terutama anak-anak.

    "Menerapkan 3M Plus dan mengenali gejala DBD sejak dini tetap penting," katanya menambahkan.

    "Selain itu, pendekatan yang benar-benar komprehensif termasuk perlindungan dari dalam melalui vaksinasi, juga dapat membantu mengurangi risiko hospitalisasi dan komplikasi akibat DBD," lanjutnya.

    Kenali Ciri Nyamuk dan Gejala Awal Sebelum Terlambat

    Sebagai langkah antisipasi dari rumah, masyarakat diimbau untuk kembali mengenali karakteristik penularan penyakit ini. 

    Mengenali gejala sejak dini dan melengkapi proteksi keluarga dengan vaksinasi dengue menjadi kunci utama agar terhindar dari fatalitas atau risiko kematian.


    Berbeda dengan nyamuk kebun atau nyamuk rumah biasa, nyamuk Aedes aegypti memiliki waktu sirkulasi yang spesifik. 

    Nyamuk Aedes Aegypti vektor pembawa virus dengue
    Nyamuk Aedes Aegypti vektor pembawa virus dengue (Shutterstock)

    Mereka cenderung sangat aktif menggigit manusia pada waktu pagi dan sore hari.

    Nyamuk ini juga sangat betah berkembang biak di area air bersih yang tergenang dan tenang. 

    Beberapa tempat yang sering luput dari perhatian adalah bak mandi, ember, talang air yang tersumbat, hingga wadah atau barang bekas di pekarangan rumah yang menampung air hujan.

    Masa inkubasi virus di dalam tubuh manusia biasanya memakan waktu sekitar 4 hingga 10 hari setelah gigitan nyamuk. 

    Para orang tua diminta segera membawa anak atau anggota keluarga ke fasilitas kesehatan jika mendapati sejumlah gejala klinis yakni.

    • Sakit kepala yang hebat
    • Demam tinggi mendadak yang mencapai suhu 40 derajat celsius.
    • Nyeri pada otot, sendi, dan tulang, rasa nyeri yang khas di bagian belakang mata.
    • Muncul ruam atau bintik-bintik merah pada permukaan kulit.
    Komentar
    Additional JS