0
Mensinkronisasi logo dan berita terbaru...
    CONNECTING TRANSMISSION...
    Home Arena Berita Featured Keuangan Piala dunia Sepak bola Sepak bola Internasional Spesial TVRI

    Harga Selangit! Hak Siar Piala Dunia 2026 Ditolak Sejumlah Negara, TVRI Malah Bayar Rp1,3 Triliun - VOI

    10 min read

     

    Harga Selangit! Hak Siar Piala Dunia 2026 Ditolak Sejumlah Negara, TVRI Malah Bayar Rp1,3 Triliun

    JAKARTA — Keputusan pemerintah melalui TVRI membeli hak siar Piala Dunia 2026 dengan nilai sekitar Rp1,3 triliun kembali memunculkan pertanyaan di kalangan publik. Dengan nilai yang jauh lebih besar dibanding sebagian besar program siaran televisi nasional, bagaimana sebenarnya pemegang hak siar memperoleh keuntungan dari investasi tersebut?

    Piala Dunia 2026 merupakan turnamen terbesar sepanjang sejarah FIFA. Untuk pertama kalinya kompetisi diikuti 48 negara dan menghadirkan 104 pertandingan yang berlangsung di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko mulai 11 Juni hingga 19 Juli 2026.

    FIFA sendiri mengungkapkan bahwa hak siar Piala Dunia 2026 telah terjual di lebih dari 220 wilayah di seluruh dunia dan menghasilkan pendapatan media rights tertinggi dalam sejarah turnamen. FIFA menyebut kombinasi penyiar tradisional, platform digital, dan mitra baru telah menciptakan jangkauan global terbesar yang pernah ada untuk Piala Dunia.

    Di Indonesia, TVRI resmi menjadi pemegang hak siar seluruh pertandingan Piala Dunia 2026. Stasiun televisi plat merah ini mengatakan seluruh 104 pertandingan akan ditayangkan secara gratis melalui platform free-to-air sehingga dapat diakses masyarakat menggunakan antena televisi biasa.

    Menurut sejumlah laporan industri media, nilai lisensi yang dibayarkan untuk memperoleh hak siar tersebut mencapai sekitar Rp1,3 triliun.

    Harga Berbeda di Setiap Negara

    Berbeda dengan anggapan sebagian masyarakat, FIFA tidak menjual hak siar dengan harga yang sama kepada seluruh negara.

    Nilai kontrak ditentukan berdasarkan ukuran pasar, jumlah penonton potensial, kekuatan ekonomi, nilai iklan televisi, popularitas sepak bola, hingga jam tayang pertandingan di masing-masing negara.

    Kasus India menjadi contoh menarik. Sejumlah media internasional melaporkan FIFA bahkan harus memangkas harga hak siar karena minimnya minat broadcaster akibat banyak pertandingan berlangsung pada jam yang kurang menguntungkan bagi pasar lokal.

    Sebaliknya, Indonesia dipandang sebagai salah satu pasar sepak bola terbesar di Asia Tenggara dengan basis penggemar yang sangat besar. Faktor tersebut membuat nilai komersial Piala Dunia di Indonesia tetap tinggi meskipun pertandingan dimainkan di Amerika Utara.

    Sementara itu sebagian besar negara tidak mengumumkan nilai resmi kontrak hak siar karena dilindungi klausul kerahasiaan antara FIFA dan broadcaster. Namun sejumlah media internasional, laporan industri, Reuters, dan media bisnis regional mengungkap kisaran nilai yang sedang dinegosiasikan atau disepakati.

    NegaraPemegang Hak SiarNilai yang Dilaporkan
    IndonesiaTVRIsekitar Rp1,3 triliun (US$80 juta)
    ChinaCCTV/China Media Groupsekitar US$60 juta
    ThailandJAS-Monomaxpaket FIFA hingga 2030 senilai US$70 juta, sementara hak Piala Dunia 2026 sempat dinegosiasikan di kisaran US$15-40 juta
    VietnamBelum diumumkan resmi, dilaporkan sekitar US$15 juta
    MalaysiaFIFA sempat meminta US$35-50 juta
    JepangDentsutidak diumumkan
    Korea SelatanJTBCtidak diumumkan resmi
    Hong KongPCCWtidak diumumkan
    SingapuraMediacorptidak diumumkan

    Reuters melaporkan FIFA akhirnya menyepakati harga sekitar 60 juta dolar AS (Rp1,06 triliun) dengan China Media Group (CMG) setelah negosiasi yang berlangsung lama. Nilai itu jauh lebih rendah dibanding target awal FIFA yang disebut mencapai 300 juta dolar AS. Salah satu faktor yang menekan harga adalah perbedaan zona waktu antara Amerika Utara sebagai tuan rumah dengan pasar Asia.

    Kasus Thailand menjadi contoh menarik. Menurut The Nation Thailand, FIFA awalnya meminta lebih dari 1,3 miliar baht atau sekitar 40 juta dolar AS (Rp711 miliar ) hanya untuk hak siar Piala Dunia 2026. Namun Jasmine International (JAS) menolak dan meminta FIFA menyesuaikan harga dengan Vietnam yang disebut hanya membayar sekitar 15 juta dolar AS (Rp266 miliar). Setelah negosiasi panjang, JAS akhirnya memperoleh hak siar untuk Piala Dunia 2026, Piala Dunia 2030, serta beberapa turnamen FIFA lainnya dalam paket senilai 70 juta dolar AS.

    Untuk Malaysia, sejumlah laporan menyebut FIFA sempat mematok harga sekitar 50 juta dolar AS sebelum kemudian muncul informasi bahwa nilai tersebut bisa turun menjadi sekitar 35 juta dolar AS (Rp622,4 miliar). Tingginya harga menjadi salah satu alasan lambatnya penjualan hak siar di negara tersebut.

    Sementara itu FIFA mengonfirmasi telah menuntaskan penjualan hak siar di sejumlah pasar utama Asia, termasuk Jepang melalui Dentsu, Korea Selatan melalui JTBC, Hong Kong melalui PCCW, Singapura melalui Mediacorp, dan Indonesia melalui TVRI. Namun nilai kontraknya tidak pernah diumumkan ke publik.

    Jika dibandingkan, angka sekitar Rp1,3 triliun yang dibayarkan Indonesia menempatkan Indonesia di kelompok pasar media terbesar di Asia untuk Piala Dunia 2026. Bahkan nilainya lebih tinggi dibanding biaya yang dilaporkan untuk China dan jauh di atas Vietnam, Thailand, maupun Malaysia. Namun perlu dicatat bahwa perbandingan tidak selalu setara karena beberapa kontrak mencakup paket turnamen FIFA hingga 2030, bukan hanya Piala Dunia 2026.

    Analisis yang menarik untuk pembaca adalah bahwa FIFA tampaknya menerapkan strategi harga yang sangat berbeda di Asia. China yang memiliki sekitar 200 juta penggemar sepak bola justru mendapatkan harga sekitar 60 juta dolar AS setelah negosiasi keras, sementara Indonesia disebut membayar sekitar 80 juta dolar AS.

    Hal ini menunjukkan bahwa nilai hak siar tidak hanya ditentukan jumlah penduduk atau penggemar sepak bola, tetapi juga persaingan broadcaster lokal, potensi pendapatan iklan, model distribusi televisi dan streaming, serta posisi tawar masing-masing negara saat bernegosiasi dengan FIFA

    Apa yang Dibeli Pemegang Hak Siar?

    Membeli hak siar bukan sekadar membeli izin menayangkan pertandingan.Pemegang lisensi memperoleh hak untuk menyiarkan pertandingan secara langsung, menayangkan ulang pertandingan, menampilkan cuplikan gol dan highlight, membuat program ulasan pertandingan, serta mendistribusikan konten melalui berbagai platform yang diizinkan dalam kontrak.

    Sebaliknya, FIFA juga menetapkan berbagai kewajiban. Pemegang hak siar harus menjaga kualitas siaran, melindungi konten dari pembajakan, mematuhi standar produksi FIFA, serta menghormati seluruh aturan terkait sponsor resmi turnamen.

    Dalam praktiknya, FIFA tetap mempertahankan hak komersial atas sponsor global yang muncul di stadion, papan iklan lapangan, backdrop wawancara, maupun grafis resmi pertandingan.

    Di Mana Letak Keuntungannya?

    Sumber keuntungan utama pemegang hak siar berasal dari iklan.Saat pertandingan berlangsung, broadcaster dapat menjual slot iklan kepada perusahaan lokal dengan tarif yang jauh lebih tinggi dibanding program reguler.

    Final Piala Dunia secara tradisional menjadi salah satu program televisi dengan tarif iklan tertinggi di dunia karena mampu menarik ratusan juta penonton secara bersamaan.

    Selain iklan televisi, pemegang hak siar juga dapat memperoleh pendapatan dari sponsor program, kerja sama branding, platform digital, streaming, hingga lisensi distribusi kepada pihak ketiga.

    Model bisnis ini menjadi alasan mengapa perusahaan media di berbagai negara berani mengeluarkan dana ratusan juta dolar AS untuk memperoleh hak siar Piala Dunia.Namun keuntungan tidak selalu terjamin.

    Sejumlah pengamat media internasional mengingatkan bahwa biaya hak siar yang semakin mahal membuat broadcaster menghadapi tantangan baru berupa pembajakan digital, fragmentasi penonton, serta ketidakpastian pasar iklan. Bahkan di beberapa negara, muncul keraguan apakah investasi besar tersebut dapat menghasilkan pengembalian yang sepadan.

    Momentum Bagi TVRI

    Bagi Indonesia, Piala Dunia 2026 menjadi momen istimewa karena seluruh pertandingan dapat disaksikan secara gratis melalui TVRI.

    Selain siaran televisi, pemerintah juga berencana mendorong penyelenggaraan nonton bareng di berbagai daerah untuk memperluas akses masyarakat sekaligus menggerakkan ekonomi lokal.

    Dengan 104 pertandingan, format baru 48 tim, serta potensi jutaan penonton di seluruh Indonesia, Piala Dunia 2026 tidak hanya menjadi pesta sepak bola terbesar dunia, tetapi juga salah satu proyek media paling mahal yang pernah dijalankan di Indonesia.

    Komentar
    Additional JS