Sosial Media
0
Mensinkronisasi logo dan berita terbaru...
    CONNECTING TRANSMISSION...
    Home Berita Featured Papua Spesial

    Kisah Burung Beracun Ditemukan di Papua, Dagingnya 'Membakar' -

    2 min read

     

    Kisah Burung Beracun Ditemukan di Papua. Foto: IFL Science

    Jakarta -

    Pada tahun 2023, dua spesies burung beracun baru ditemukan dalam ekspedisi ke hutan hujan Papua. Ilmuwan menemukannya dalam penjelajahan ke wilayah tersebut, di mana mereka mengumpulkan sampel dari burung-burung yang memiliki cukup banyak neurotoksin pada bulunya.

    Spesies terbaru yang masuk dalam daftar burung beracun ini adalah regent whistler (Pachycephala schlegelii) dan rufous-naped bellbird (Aleadryas rufinucha). Burung-burung ini sebenarnya umum ditemukan di wilayah tersebut, namun baru dalam penelitian ini diketahui mereka beracun.

    Dikutip detikINET dari IFL Science, sudah lebih dari dua dekade sejak spesies burung beracun terakhir ditemukan sehingga penemuan dua spesies beracun ini cukup menghebohkan.

    Burung-burung ini dipersenjatai Batrachotoxin, berasal dari bahasa Yunani untuk katak (Batrachos). Sebagai salah satu neurotoksin terkuat yang diketahui sains, zat ini dinamai berdasarkan katak panah beracun, tempat racun pertama kali ditemukan. Namun, terbukti zat ini juga terdapat pada spesies non amfibi.

    Diyakini bahwa burung-burung tersebut memperoleh toksin melalui pola makan mereka dengan mengonsumsi makanan beracun, yang kemudian diubah menjadi racun dan menyatu ke dalam jaringan tubuh.

    Konsentrasi tinggi Batrachotoxin dapat berakibat fatal bagi manusia karena memicu kejang hebat dan akhirnya menyebabkan kematian. Pada kulit katak panah beracun, konsentrasinya cukup untuk menyebabkan gejala parah tersebut, namun pada bulu burung-burung ini dosisnya lebih rendah.

    Kadar racun tersebut berfungsi sebagai mekanisme pertahanan diri, walau tujuan pastinya belum diketahui pasti. Menurut penduduk setempat, daging burung ini terasa membakar seperti cabai, dan memegang burung ini bukan pengalaman menyenangkan. Ini mengindikasikan mereka beradaptasi agar tidak menarik pemangsa.

    Dengan bertambahnya spesies burung beracun yang dapat dipelajari, para peneliti bertugas mencari tahu bagaimana dan mengapa mereka menggunakan neurotoksin tersebut. Namun, kerja fisik dalam penelitian ini bisa menyakitkan.

    "Knud dari Museum Sejarah Alam Denmark mengira saya sedih dan mengalami masa sulit dalam perjalanan itu ketika dia menemukan saya dengan hidung meler dan air mata berlinang. Padahal, saya hanya sedang duduk di sana mengambil sampel bulu seekor Pitohui, salah satu burung paling beracun," kata peneliti University of Copenhagen, Kasun Bodawatta.

    Proses yang sangat dekat dan personal itulah yang benar-benar menyiksa. "Melepas burung dari jaring tidaklah buruk, tapi ketika sampel harus diambil di lingkungan yang tertutup, Anda bisa merasakan sesuatu di mata dan hidung. Rasanya sedikit seperti mengiris bawang," kisahnya.

    (fyk/fyk)

    Komentar
    Additional JS