0
Mensinkronisasi logo dan berita terbaru...
    Home Berita Dunia Internasional Featured Konflik Timur Tengah Spesial

    Konflik Timur Tengah Lonjakan Harga Minyak Mentah Dunia 2 Persen -

    2 min read

     

    Konflik Timur Tengah Lonjakan Harga Minyak Mentah Dunia 2 Persen


    Efri Yano
    Reno Manggala
    Published
    3 Reads
    Smallest Font
    Largest Font

    Harga minyak mentah dunia melonjak hingga 2 persen pada awal perdagangan Senin (1/6/2026) akibat eskalasi konflik bersenjata di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel.

    Aksi saling serang antara Amerika Serikat dan Iran serta perintah baru Israel kepada pasukannya untuk merangsek ke Lebanon memicu kekhawatiran gangguan pasokan energi global global.

    Lonjakan ini membalikkan tren penurunan harga minyak Brent dan WTI yang pada Jumat sebelumnya masing-masing sempat melemah sebesar 1,8 persen dan 1,7 persen karena ekspektasi pasar terhadap perdamaian.

    Seperti dilansir dari Detik Finance, harga minyak mentah berjangka Amerika Serikat meningkat sebesar US$ 2,29 atau 2,62 persen ke posisi US$ 89,65 per barel pada perdagangan Senin pukul 04.36 GMT atau 11.36 WIB.

    Pada saat yang sama, harga minyak mentah Brent berjangka mencatatkan kenaikan sebesar US$ 2,05 atau 2,25 persen menjadi US$ 93,17 per barel.

    Ketegangan terbaru mencuat setelah pihak Amerika Serikat menyatakan telah meluncurkan serangan bela diri pada Minggu (31/5) terhadap situs radar dan kendali drone milik Iran di Pulau Goruk dan Qeshm.

    Serangan tersebut dibalas oleh Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran pada Senin yang mengerahkan pasukan udara mereka untuk membombardir pangkalan udara AS di Pulau Sirik.

    Analis dari IG, Tony Sycamore menilai pasar kini beralih fokus pada pembersihan ranjau di Selat Hormuz yang menjadi jalur distribusi bagi 20 persen energi dunia.

    "Maupun kesepakatan tercapai, hal itu tidak akan menghasilkan pasokan dalam jumlah besar," kata Sycamore dalam sebuah catatan.

    Keberadaan ranjau-ranjau tersebut diprediksi akan memperlambat pembukaan kembali jalur pelayaran dan menunda pemulihan pasar minyak dunia.

    Advertisement
    Scroll To Continue with Content

    Disclaimer

    This article was automatically rewritten by AI based on source: finance.detik.com without altering the facts of the original article.
    Komentar
    Additional JS