0
Mensinkronisasi logo dan berita terbaru...
    CONNECTING TRANSMISSION...
    Home Berita Featured ITB Spesial

    Mengapa Akhir-akhir Ini Seringkali Mati Listrik? Ini 2 Penyebabnya Menurut Pakar ITB - Kompas

    6 min read

     

    Mengapa Akhir-akhir Ini Seringkali Mati Listrik? Ini 2 Penyebabnya Menurut Pakar ITB

    03:33

    KOMPAS.com - Saat sedang asyik beraktivitas di jam sibuk, tiba-tiba rumah menjadi gelap gulita. Baru saja kemarin mati lampu, kejadian serupa terulang kembali keesokan harinya, lusa, bahkan bisa terjadi beberapa kali dalam seminggu.

    Wajar saja ada perasaan mengapa sering mati lampu akhir-akhir ini. Keluhan seperti ini juga muncul di media sosial. Warga di Pulau Jawa sampai Bali mengeluhkan kondisi akhir-akhir ini yang sering mati lampu. 

    Fenomena ini pun memicu pertanyaan besar di tengah masyarakat tentang apa yang sebenarnya sedang terjadi pada pasokan listrik saat ini

    Sempat beredar rumor di jagat maya bahwa pemadaman ini sengaja dilakukan karena negara sedang menghemat stok batu bara.

    Menanggapi keresahan tersebut, Pengamat Sistem Tenaga Listrik dari STEI Institut Teknologi Bandung (ITB), Kevin Marojahan Banjar Nahor, mengungkapkan alasan di balik seringnya lampu mati akhir-akhir ini.

    Baca juga: Cara Cek Tagihan dan Riwayat Pemakaian Listrik Lewat Hp

    "Pemadaman listrik yang terjadi belakangan ini di sejumlah wilayah Pulau Jawa ternyata dipicu oleh dua hal utama," kata Kevin, dilansir dari unggahan resmi Instagram ITB, Senin (13/6/2026).

    Faktor pertama adalah force outage atau gangguan mendadak pada sistem kelistrikan yang tidak direncanakan. Sementara faktor kedua adalah derating, yaitu kebijakan untuk menurunkan kapasitas produksi listrik secara sengaja.

    ilustrasi mati listrik.

    Lihat Foto

    ilustrasi mati listrik.(canva.com)

    Dilema stok bahan bakar dan beban puncak

    Menurut Kevin, salah satu alasan mendasar dari kebijakan derating ini memang berkaitan dengan menipisnya stok batu bara dan minyak mentah sebagai bahan bakar utama pembangkit.

    Baca juga: Mati Lampu Berulang di Bekasi Bikin Pedagang Merugi, Es Mencair hingga Pembeli Sepi

    Dalam kondisi kritis tersebut, operator pembangkit listrik terpaksa memilih untuk menurunkan daya operasi hingga sekitar 60 persen dari kapasitas maksimalnya. Langkah ini diambil sebagai bentuk antisipasi agar pasokan bahan bakar fosil tersebut tidak habis sepenuhnya sebelum pasokan baru datang.

    Sebab, jika pembangkit dipaksa terus beroperasi pada kapasitas penuh 100 persen sementara bahan bakar habis total, risikonya jauh lebih besar. Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) akan mengalami mati total dan membutuhkan waktu yang cukup lama untuk dihidupkan kembali.

    "Jika dipaksa 100 persen dan bahan bakar itu habis, maka PLTU membutuhkan waktu hingga dua hari untuk menyala kembali (proses startup)," ujar Kevin.

    Baca juga: Lagi-lagi Listrik Padam di Bekasi, Pedagang Merugi

    Lebih lanjut, Kevin menjelaskan bahwa berdasarkan teori operasi sistem tenaga listrik, setiap jaringan kelistrikan idealnya harus memiliki cadangan daya yang cukup untuk mengantisipasi gangguan tidak terduga. Namun, ketika permintaan listrik masyarakat berada pada titik tertinggi atau waktu beban puncak, cadangan ini menipis.

    Alhasil, pemadaman bergilir kerap menjadi pilihan pahit yang terpaksa diambil oleh pihak penyedia layanan listrik. 

    "Langkah pemadaman bergilir ini terpaksa dilakukan untuk menekan beban sistem, menjaga ketersediaan cadangan daya, serta mencegah terjadinya pemadaman listrik secara menyeluruh (blackout) yang jauh lebih merugikan," tambahnya.

    El Nino Godzila ikut menganggu listrik

    Selain masalah teknis dan pasokan bahan bakar, faktor alam juga memegang peran besar. Fenomena cuaca ekstrem El Nino, yang diprediksi membawa musim kering berkepanjangan atau sering dijuluki El Nino Godzilla, menjadi tantangan berat bagi sektor ketenagalistrikan nasional.

    Baca juga: Setelah Panggil PLN, ESDM Klaim Pasokan Batu Bara untuk PLTU Aman

    Kondisi cuaca ekstrem ini memberikan tekanan ganda (double hit) pada sistem kelistrikan kita, yakni memicu lonjakan permintaan sekaligus menurunkan pasokan energi secara drastis.

    Ketika suhu udara melonjak panas, masyarakat secara massal akan menyalakan pendingin ruangan (AC) dalam jangka waktu lama, yang otomatis mendorong lonjakan konsumsi listrik.

    Di sisi lain, absennya curah hujan membuat debit air di bendungan dan waduk menyusut tajam.

    Baca juga: Puan Minta Pemerintah Antisipasi Gangguan Pasokan Pangan di Tengah Ancaman Kekeringan

    Kondisi kering ini otomatis menurunkan kapasitas produksi Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA). Padahal, PLTA merupakan salah satu pilar penopang energi bersih di Indonesia.

    "Debit air yang menyusut tajam mengancam produktivitas PLTA besar seperti Cirata dan Saguling di Jawa Barat, yang selama ini menjadi salah satu penopang utama pasokan listrik di Pulau Jawa," pungkas Kevin.

    KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

    Komentar
    Additional JS