0
Mensinkronisasi logo dan berita terbaru...
    Home Amerika Serikat Berita China Dunia Internasional Featured Nuklir Rusia Senjata Nuklir Spesial

    Perlombaan Senjata Nuklir Baru Telah Tiba, AS dan China Paling Ugal-ugalan - SindoNews

    13 min read

     

    Perlombaan Senjata Nuklir Baru Telah Tiba, AS dan China Paling Ugal-ugalan


    Makin mudah baca berita nasional dan internasional.


    Selasa, 09 Juni 2026 - 07:37 WIB

    Laporan ICAN memperingatkan bahwa perlombaan senjata nuklir baru telah tiba, di mana 9 negara bersenjata nuklir habiskan hampir USD119 miliar untuk persenjataan tersebut. Foto/FAS

    A A A

    JAKARTA - The International Campaign to Abolish Nuclear Weapons (ICAN) telah menerbitkan laporan peringatan yang menyatakan perlombaan senjata nuklir baru telah tiba. Indikasinya adalah pengeluaran global untuk senjata nuklir melonjak ke rekor tertinggi pada tahun lalu karena negara-negara bersenjata atom memindahkan lebih banyak hulu ledak dari penyimpanan ke sistem pengiriman.

    Menurut ICAN, sembilan negara bersenjata nuklir secara bersama-sama menghabiskan hampir USD119 miliar untuk persenjataan mereka tahun lalu, naik 19 persen dari tahun 2024. Sembilan negara itu adalah Rusia, Amerika Serikat (AS), China, Prancis, Inggris Raya, India, Pakistan, Israel, dan Korea Utara.

    Baca Juga: Dicecar Apakah Israel Memiliki Senjata Nuklir? Ini Jawaban Menlu AS Marco Rubio

    "Perlombaan senjata nuklir baru telah tiba," bunyi laporan yang diterbitkan ICAN.

    ICAN, dan sebuah studi terpisah oleh Stockholm International Peace Research Institute (SIPRI) yang dirilis pada hari Senin, menyuarakan kekhawatiran atas meningkatnya risiko nuklir di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik.

    Menurut hasil studi tersebut, peningkatan pengeluaran yang dramatis untuk senjata nuklir terjadi ketika negara-negara bergegas untuk memodernisasi persenjataan mereka dan mengerahkan lebih banyak persediaan mereka.

    Susi Snyder, direktur program ICAN dan salah satu penulis laporan terbaru, mengatakan peningkatan skala tersebut, ditambah dengan kekhawatiran bahwa kecerdasan buatan (AI) dapat meningkatkan risiko penggunaan senjata nuklir, sangat mengkhawatirkan.

    "Sejujurnya, saya sangat takut," katanya kepada AFP, Selasa (9/6/2026).

    Risiko Meningkat

    Laporan SIPRI menyoroti bahwa total perkiraan jumlah hulu ledak nuklir telah menurun selama beberapa dekade, turun menjadi 12.187 pada awal tahun ini, tetapi memperingatkan bahwa jumlah senjata yang tersedia untuk potensi penggunaan telah meningkat, menjadi 9.745.

    "Meskipun kita memiliki jumlah senjata nuklir yang lebih rendah, tingkat bahaya dan risiko nuklir meningkat," kata direktur SIPRI, Karim Haggag, kepada AFP.

    Dia menunjuk pada tanda-tanda yang mengkhawatirkan, termasuk runtuhnya kontrol senjata strategis dan persaingan antara kekuatan besar dengan senjata nuklir.

    SIPRI memperkirakan bahwa persediaan senjata nuklir secara keseluruhan kemungkinan akan mulai tumbuh lagi dalam beberapa tahun mendatang. "Karena laju pembongkaran melambat, sementara penyebaran senjata nuklir baru semakin cepat," imbuh laporan SIPRI.

    Amerika Serikat dan Rusia bersama-sama memiliki sekitar 83 persen dari persediaan senjata nuklir dunia, dengan lebih dari 5.000 hulu ledak masing-masing. Menurut SIPRI, China memperluas persenjataan nuklirnya lebih cepat daripada negara lain mana pun, memperkirakan bahwa mereka memiliki sekitar 620 hulu ledak.

    "Meningkatnya persaingan geopolitik berarti insentif yang sangat kuat bagi China untuk meningkatkan ketergantungannya pada senjata nuklir," kata Haggag.

    Laporan ICAN menunjukkan bahwa semua negara bersenjata nuklir, yang juga termasuk Inggris, Prancis, India, Israel, Korea Utara, dan Pakistan, meningkatkan investasi dalam persenjataan mereka.

    Sembilan negara tersebut secara bersama-sama menghabiskan hampir USD17 miliar lebih banyak tahun lalu dibandingkan tahun 2024 untuk senjata pemusnah massal.

    Washington menghabiskan lebih banyak daripada gabungan semua negara lain, mengeluarkan USD69,2 miliar untuk senjata nuklir pada tahun 2025—peningkatan USD12,4 miliar dari tahun sebelumnya, kata ICAN.

    Amerika Serikat diikuti oleh China, yang diperkirakan telah menghabiskan USD13,5 miliar tahun lalu, kemudian Inggris sebesar USD12,6 miliar dan Rusia sebesar USD9,5 miliar.

    Selama lima tahun terakhir, lembaga tersebut menetapkan bahwa sembilan negara telah menghabiskan lebih dari USD470 miliar untuk persenjataan mereka.

    Masa Pakai yang Panjang

    Investasi tersebut diperkirakan akan terus meningkat di masa mendatang.

    Menganalisis proyeksi jangka panjang, ICAN menyoroti angka-angka dari Inggris, Prancis, dan Amerika Serikat yang menunjukkan rencana untuk menghabiskan miliaran dolar untuk mengembangkan dan memelihara sistem senjata nuklir hingga abad berikutnya.

    Negara-negara lain juga memperkenalkan sistem senjata baru dengan masa pakai yang panjang, kata lembaga tersebut.

    Laporan itu menunjukkan bahwa rudal balistik antarbenua Sentinel baru AS yang direncanakan diperkirakan akan tetap beroperasi hingga setelah tahun 2100, sementara peningkatan produksi inti plutonium AS menunjukkan bahwa hulu ledak negara tersebut akan bertahan hingga tahun 2120.

    Hal itu akan berarti investasi yang signifikan, dengan pengeluaran senjata nuklir AS selama dekade antara tahun 2025 dan 2034 diproyeksikan mendekati USD1 triliun.

    Para peneliti mengatakan jumlah yang sangat besar tersebut sangat mengejutkan pada saat sistem kemanusiaan global sedang terguncang akibat pemotongan pendanaan yang dramatis.

    Mereka mengatakan bahwa pengeluaran untuk senjata nuklir hanya dalam satu hari tahun lalu saja sudah cukup untuk menyediakan ketahanan pangan bagi lebih dari dua juta orang.

    "Alih-alih memberikan bantuan atau layanan kesehatan bagi penduduknya, negara-negara bersenjata nuklir malah berinvestasi dalam persenjataan yang mereka sendiri tahu tidak dapat digunakan tanpa melakukan kejahatan perang," kata Snyder.

    "Tampaknya ada ketidaksesuaian total dengan kenyataan," paparnya.

    (mas)

    wa-channel

    Follow WhatsApp Channel SINDOnews untuk Berita Terbaru Setiap Hari

    Follow

    Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!

    Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya

    Berita Terkait

      Rekomendasi

      Infografis

      Apa Itu Dilema Malaka?...

      Apa Itu Dilema Malaka? Strategi AS Cekik Minyak China, Berpotensi Seret Indonesia dalam Konflik

      Terpopuler

      1

      2

      3

      4

      5

      Berita Terkini

      7 Negara dengan Produksi...

      5 Fakta Trump Ingin...

      Israel Ternyata Ditolong...

      3 Fakta Kepulauan Chagos...

      Lebanon Jadi Titik Krisis...

      Proyek Jet Tempur FCAS...

      Komentar
      Menyiapkan Link & Penunjuk Waktu...
      Menyiapkan Link & Penunjuk Waktu...
      Menyiapkan Link & Penunjuk Waktu...
      Additional JS