Purbaya Bingung Indonesia Terus Diincar Lembaga Global: Defisit di Bawah 3 Persen, Rasio Utang Rendah - Kompas
Purbaya Bingung Indonesia Terus Diincar Lembaga Global: Defisit di Bawah 3 Persen, Rasio Utang Rendah
JAKARTA, KOMPAS.com - Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa mengaku bingung Indonesia terus “diincar” berbagai lembaga global terkait kondisi fiskalnya.
Padahal, posisi defisit anggaran dan rasio utang pemerintah relatif terkendali dibandingkan banyak negara lain.
Pernyataan tersebut disampaikan Purbaya saat rapat kerja (raker) bersama Dewan Perwakilan Daerah (DPD) di Jakarta, Senin (22/6/2026).
Di tengah tekanan ekonomi global, Purbaya menekankan bahwa Indonesia justru termasuk negara yang paling disiplin dalam menjaga fiskal.
Daftar Top Skor Piala Dunia 2026, Messi Kuasai Puncak Ditemani Undav dan David
Defisit anggaran berhasil ditekan di bawah 3 persen terhadap produk domestik bruto (PDB). Sementara rasio utang juga dijaga di bawah 60 persen PDB.
Baca juga: Daerah Minta Tambahan Anggaran ke Pusat, Purbaya Siapkan Rp 90 Triliun
Namun, ia mengaku bingung mengapa Indonesia terus menjadi sasaran perhatian lembaga internasional.
“Karena kan kita dilihat oleh lembaga pemerintah dunia, bisa enggak Indonesia menjaga defisitnya di bawah 3 persen padahal yang lain sudah di atas 3 persen,” ujar Purbaya.
Ia mencatat negara seperti Malaysia, Vietnam, India defisit fiskalnya telah melebihi 3 persen. Apalagi Amerika Serikat (AS) yang telah melampaui 5 persen. Hanya Singapura yang defisitnya masih di bawah ambang batas.
“(Tapi) hanya kita yang disorot, saya juga agak bingung sebetulnya. Kenapa?" paparnya.
Selain itu, Menkeu membandingkan posisi Indonesia dengan sejumlah negara maju yang justru memiliki rasio utang jauh lebih tinggi.
Jerman, misalnya, mencatat rasio utang di atas 60 persen PDB, Amerika Serikat di angka 100 persen, sementara Jepang bahkan mencapai 275 persen.
Namun, negara-negara tersebut tak mendapatkan sorotan seketat yang diterima Indonesia.
"Tapi kita yang diincar Pak. Saya enggak tahu kenapa. Mungkin kita masih kurang doa Pak," kata dia.
Menurut dia, secara keilmuan dan data, posisi fiskal Indonesia tidak dapat dikritik. Defisit tahun 2025 berhasil ditekan hingga 2,81 persen, lebih baik dari proyeksi awal 2,9 persen.
Untuk tahun 2026, meskipun beban subsidi BBM dan listrik meningkat, pemerintah mendesain defisit tetap di bawah 3 persen, mendekati 2,9 persen.
"Karena di atas kertas, secara keilmuan selesai Pak. Kita enggak bisa dikritik mana-mana. Tapi di luar, di praktiknya seperti itu. Jadi ya kita lihat aja market seperti apa," lanjut Menkeu.
Meski demikian, pemerintah berkomitmen menjaga disiplin fiskal yang diterapkan lembaga global. Purbaya optimistis, dengan perbaikan kondisi geopolitik dan potensi penurunan harga minyak, ruang fiskal Indonesia ke depan akan semakin terbuka.
"Kita stick ke disiplin yang mereka terapkan. Nanti kita tunjukin ke mereka bahwa yang terbaik adalah kita. Negara lain harus contoh kita," ucapnya.
Presiden memberikan fleksibilitas dalam pengelolaan fiskal, terutama saat terjadi bencana atau kondisi darurat.
Namun, Purbaya menegaskan setiap kebijakan tetap dijaga agar tidak membahayakan posisi defisit dan rasio utang.
"Ruang kita ada sebetulnya. Tapi itu semua tergantung Bapak Presiden. Bapak Presiden cukup fleksibel," tuturnya.
Baca juga: Purbaya Klaim Mesin Ekonomi Indonesia Prima, Pertumbuhan Tembus 5,61 Persen
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang
Pemerintah Bangun Sekolah Nasional Terintegrasi, Apa Bedanya dengan Sekolah Rakyat dan Berapa Anggar