RI Bikin Geger Pasar Batu Bara Dunia, Harga Terbang Tertinggi 20 Bulan. CNBC Indonesia
RI Bikin Geger Pasar Batu Bara Dunia, Harga Terbang Tertinggi 20 Bulan
Jakarta, CNBC Indonesia - Harga acuan batu bara utama di Asia naik ke level tertinggi dalam hampir dua tahun dipicu aturan ekspor baru Indonesia yang bisa mengganggu pengiriman.
Kondisi in memperketat pasokan di tengah meningkatnya permintaan bahan bakar pembangkit listrik tersebut seiring datangnya musim panas.
Merujuk Refinitiv, harga batu bara pada perdagangan Senin (8/6/2026) ditutup di posisi US$ 150,35 per ton. Posisi ini adalah yang tertinggi sejak Oktober 2024 atau 20 bulan atau hampir dua tahun.
Sebagai catatan, Indonesia pada Mei 2026 mengumumkan PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI) akan mengambil alih kendali pengiriman sejumlah komoditas strategis, termasuk batu bara.
Sistem baru yang mulai diterapkan pada Juni memicu kebingungan di pasar dan menyebabkan keterlambatan pengiriman dari eksportir batu bara terbesar dunia tersebut.
Kondisi ini mendorong ekspektasi bahwa pasokan batu bara Australia akan membantu mengisi kekosongan pasokan di pasar.
Permintaan batu bara juga diperkirakan meningkat dalam beberapa bulan ke depan seiring cuaca yang lebih panas melanda Asia Timur Laut, sehingga penggunaan pendingin udara meningkat di pasar konsumen utama seperti China.
Di saat yang sama, negara-negara seperti Jepang juga meningkatkan penggunaan batu bara guna mengurangi ketergantungan pada gas alam cair (LNG), setelah penutupan Selat Hormuz dan serangan terhadap fasilitas ekspor LNG terbesar di Qatar mengganggu sekitar 20% arus pasokan global.
Berdasarkan data yang dihimpun Bloomberg, pembangkit listrik tenaga batu bara di Jepang, salah satu pembeli utama batu bara Australia, beroperasi pada tingkat yang lebih tinggi dibandingkan tahun lalu.
Sementara itu, kurva harga kontrak Newcastle kini berbalik ke struktur backwardation, yakni kondisi ketika harga untuk pengiriman jangka pendek lebih tinggi dibandingkan harga untuk pengiriman di masa depan. Kondisi ini umumnya menjadi sinyal bahwa pasar sedang menghadapi pasokan yang ketat.
Indonesia Relaksasi Produksi
Dalam perkembangan terbaru, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia memutuskan untuk memberikan relaksasi terukur produksi batu bara nasional. Hal itu akan diatur melalui revisi Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) 2026.
Menurutnya, hal ini dilakukan dalam rangka merespons meningkatnya harga jual batu bara global seiring eskalasi geopolitik global.
Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi saat konferensi pers pimpinan DPR bersama pemerintah, Senin (8/6/2026). (Dok. Istimewa) Foto: Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi saat konferensi pers pimpinan DPR bersama pemerintah, Senin (8/6/2026). (Dok. Istimewa)
Bahlil menyebutkan, relaksasi produksi batu bara dalam negeri bisa memberikan keuntungan baik untuk negara, pengusaha, maupun masyarakat.
"Terkait dengan RKAB, termasuk batu bara kita perhatikan betul kecenderungan daripada geopolitik ketegangan Timur Tengah, fluktuasi global, maka idealnya pemerintah atau pengusaha atau rakyat berkepentingan untuk harga bagus, produksi kita juga banyak supaya pengusaha untung, negara untung, rakyat dapat dampak positif. Atas dasar itu kita akan berikan relaksasi yang terukur, artinya kalau harga bagus, kita tingkatkan produksi. Kalau harganya mulai mentik, kita akan mulai bikin kebijakan agar supply demand bisa dijaga," paparnya usai pertemuan dengan Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad dan COO Danantara Dony Oskaria di Gedung DPR, Senin (08/06/2026).
Menurutnya, dengan tren harga batu bara yang meningkat saat ini, peningkatan produksi akan menguntungkan negara.
"Nah untuk harga global kita akan melihat kalau harganya bagus ya kita akan melakukan relaksasi yang terukur. Tujuannya apa kita juga ingin mendapatkan harga yang baik dan devisa kita bisa masuk," ujar Bahlil.
Pemerintah terus memantau perkembangan kondisi geopolitik global terhadap harga batu bara dunia.
"Nanti kita lihat perkembangannya," tandasnya.
Seperti diketahui, pemerintah sebelumnya telah menetapkan produksi dalam RKAB 2026 sekitar 600 juta ton. Ini berarti, target produksi batu bara pada 2026 ini turun 24% bila dibandingkan realisasi produksi batu bara pada 2025 yang tercatat mencapai 790 juta ton.
Addsource on Google