Sambut Libur Sekolah, Semarang Zoo Tambah Koleksi Lewat Kelahiran Kapibara dan Sitatunga - Times Indonesia
Sambut Libur Sekolah, Semarang Zoo Tambah Koleksi Lewat Kelahiran Kapibara dan Sitatunga
Semarang – Taman Margasatwa Semarang Zoo sukses menambah koleksi satwanya menyusul kelahiran anakan kapibara dan sitatunga. Kehadiran anggota baru ini menjadi bagian dari persiapan pengelola dalam menyambut momentum libur sekolah.
Direktur Semarang Zoo, Bimo Wahyu Widodo, menjelaskan bahwa salah satu koleksi kapibara—jenis hewan pengerat berukuran besar—di kebun binatang tersebut baru saja melahirkan dua ekor anak.
Induk betina kapibara tersebut merupakan satwa yang didatangkan melalui program tukar menukar satwa dengan Taman Margasatwa Ragunan pada pertengahan tahun lalu, bersama dengan satu ekor jantan dan dua betina lainnya.
Sebelumnya, sitatunga atau sejenis antelop yang didatangkan bersamaan dengan rombongan kapibara tersebut juga telah melahirkan seekor anak di kebun binatang milik Pemerintah Kota Semarang ini.
Dokter Hewan Semarang Zoo, drh. Nurul Fauziah, mengungkapkan bahwa saat ini anakan kapibara tersebut telah menginjak usia hampir satu bulan. Kendati kondisinya dipastikan sehat, pihak pengelola belum bisa mengidentifikasi jenis kelamin kedua anakan tersebut.
"Kondisinya, alhamdulillah sehat, dan masih terpantau diasuh oleh induknya. Tapi belum bisa diketahui jenis kelaminnya kalau hanya dengan melihat saja," kata Nurul di Semarang, Senin (8/6/2026).
Ia menambahkan bahwa setiap ada peristiwa kelahiran maupun kematian satwa, pihak Semarang Zoo selalu melaporkannya secara resmi ke Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA). Jika terdapat satwa yang mati, laporan tersebut wajib disertai dengan hasil autopsi medis.
Mengenai aspek kesehatan, Nurul menjelaskan bahwa pemeriksaan dilakukan secara rutin melalui pemantauan fisik langsung serta berdasarkan laporan berkala dari para keeper (penjaga satwa).
"Kami melihat keterangan dari para kiper-kipernya, kemudian kami cek sendiri satwanya. Nadi, nafas dan cek fisik. Biasanya kalau ada yang sakit pasti melawan kalau kita pegang," ujarnya.
Selain pemeriksaan medis, pemberian vitamin secara berkala dan variasi pakan harian menjadi faktor krusial dalam menjaga imunitas dan kebugaran seluruh satwa koleksi.
Di sisi lain, keeper yang bertanggung jawab merawat kapibara, Rizky, mengaku tidak menemukan kendala berarti selama mengurus satwa semi-akuatik tersebut karena sifatnya yang merupakan mamalia herba.
"Gampangnya karena hewan pengerat kan, kayak hewan pengerat lain, dia suka sayur-sayuran, full herbivora. Jadi, ikan nila dan lele di kolam tidak dimakan. Itu kita gunakan untuk membersihkan kolam biar tidak ada jentik nyamuk," papar Rizky.
Rizky menceritakan, tanda-tanda kehamilan pada kapibara memang cenderung sulit terlihat secara kasat mata. Namun, karena intensitas interaksi yang tinggi, ia mampu mencermati perubahan bentuk tubuh satwa asuhannya tersebut.
"Kami tahu dia bunting tapi secara visual memang tidak kelihatan. Kalau anaknya tidak sehat, ya ditinggal, tidak dimakan, full herbivora. Sejauh ini tidak ada kasus begitu, beda dengan tikus atau hamster," tuturnya.
Menyikapi kondisi cuaca yang tidak menentu akhir-akhir ini, Rizky menekankan bahwa suhu udara menjadi perhatian utama dalam perawatan kapibara. Sebagai satwa semi-akuatik, pengelola memastikan ketersediaan air bersih di dalam kandang agar mereka dapat berendam sewaktu-waktu guna menjaga suhu tubuh ideal. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.