Asap Karhutla Ancam Kesehatan, RSUD Kubu Raya Kebanjiran Pasien ISPA dan Asma - Warta Pontianak

WARTA PONTIANAK – Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terjadi di sejumlah titik di Kabupaten Kubu Raya dalam beberapa pekan terakhir semakin mengganggu aktivitas masyarakat.
Selain menurunkan jarak pandang, kualitas udara yang memburuk juga mulai berdampak pada kesehatan warga, terutama gangguan sistem pernapasan.
Direktur RSUD Tuan Besar Syarif Idrus, Asep Ahmad Saefullah, saat ditemui pada Selasa 28 Juli 2026, mengatakan dalam sepekan terakhir terjadi peningkatan jumlah pasien yang datang ke rumah sakit dengan keluhan gangguan pernapasan.
"Dalam seminggu ini kunjungan pasien gangguan pernapasan ke RSUD kami cenderung meningkat, baik yang rawat jalan maupun yang rawat inap. Tidak hanya ISPA, tetapi juga gangguan pernapasan lain seperti asma, pneumonia, dan PPOK yang diduga ada kaitannya dengan karhutla," ujarnya.
Baca Juga: Cegah Bahaya Kabut Asap untuk Kesehatan, Ini Sejumlah Tips dari Dokter Sabdiah Eka Sari
Menurut Asep, dampak kabut asap tidak hanya memicu infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), tetapi juga memperburuk penyakit yang sebelumnya sudah diderita pasien.
"Asap yang kita hirup setiap hari memiliki efek langsung terhadap tubuh. Apalagi dalam beberapa minggu terakhir kondisi asap cukup tebal. Bukan hanya ISPA, penyakit lain yang sudah ada juga dapat kambuh bahkan bertambah parah," jelasnya.
Ia menerangkan, asap karhutla mengandung partikel halus PM2.5 yang dapat masuk hingga ke paru-paru.
Kondisi ini dapat menyebabkan batuk, pilek, sesak napas, memicu kambuhnya asma, meningkatkan risiko bronkitis, hingga infeksi saluran pernapasan atas dan bawah, terutama pada anak-anak dan lanjut usia.
Baca Juga: Kabut Asap Semakin Tebal, Kasus ISPA dan Diare di Kayong Utara Masih Landai
Selain gangguan pernapasan, paparan kabut asap juga dapat menyebabkan mata merah, perih, berair, konjungtivitis, hingga iritasi kulit akibat partikel yang menempel pada permukaan kulit.
Tidak hanya itu, Asep mengungkapkan bahwa RSUD Tuan Besar Syarif Idrus juga tengah merawat seorang pasien lanjut usia yang mengalami sesak napas mendadak hingga pingsan.
"Setelah dilakukan pemeriksaan ditemukan adanya gangguan pada jantung dan pembuluh darah. Partikel PM2.5 yang terhirup tidak hanya berhenti di paru-paru, tetapi dapat masuk ke aliran darah sehingga meningkatkan tekanan darah, memicu gangguan irama jantung, bahkan meningkatkan risiko serangan jantung maupun stroke, khususnya pada pasien yang sebelumnya memiliki riwayat penyakit jantung," katanya.
Ia mengingatkan bahwa kelompok yang paling rentan terhadap dampak kabut asap adalah anak-anak, lansia, ibu hamil, serta penderita penyakit kronis seperti asma, PPOK, penyakit jantung, dan diabetes.
Baca Juga: Kayong Utara Diselimuti Kabut asap, Disperkim LH Tidak Miliki Peralatan Pengecekan
Pada ibu hamil, paparan asap berkepanjangan juga berisiko menyebabkan bayi lahir dengan berat badan rendah.
Selain berdampak terhadap kesehatan fisik, kabut asap yang berlangsung selama berhari-hari juga dapat memengaruhi kesehatan mental masyarakat karena aktivitas di luar ruangan menjadi terbatas sehingga memicu stres dan kecemasan akibat kekhawatiran terhadap kesehatan maupun kondisi ekonomi.
Untuk mengurangi risiko paparan asap, Asep mengimbau masyarakat agar selalu menggunakan masker N95 atau KN95 saat beraktivitas di luar rumah karena masker kain dinilai kurang efektif menyaring partikel PM2.5.
Ia juga menyarankan masyarakat menutup rapat pintu dan jendela rumah, menggunakan air purifier atau kain basah pada celah ventilasi, memperbanyak minum air putih, serta menghindari aktivitas di luar ruangan selama kualitas udara masih buruk.
Baca Juga: Cegah Penyakit ISPA akibat Kabut Asap, RSUD SSMA Berikan Penyuluhan dan Ingatkan Gejala Seperti Ini
"Masyarakat juga diimbau segera datang ke fasilitas kesehatan apabila mengalami sesak napas, nyeri dada, atau batuk yang tidak kunjung sembuh lebih dari dua minggu agar mendapatkan penanganan sedini mungkin," pungkasnya. ***




