Bantargebang Jadi Bom Waktu, Tinggi Gunungan Sampah Hampir Setengah Monas - Kompas
KOMPAS.com - Tinggi gunungan sampah di Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang kini mencapai 60 meter atau hampir setengah tinggi Monumen Nasional (Monas) yang menjulang 132 meter.
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menilai kondisi tersebut tidak bisa lagi dibiarkan karena berpotensi memicu berbagai risiko lingkungan.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) DKI Jakarta Dudi Gardesi Asikin mengatakan, tingginya timbunan sampah di Bantargebang menjadi sinyal bahwa sistem pengelolaan sampah Jakarta harus segera berubah.
"Faktanya adalah sampai sekarang, ketinggian sampah di Bantargebang itu mencapai 60 meter. Makanya kita sekarang sudah tidak bisa memperlakukan sampah seperti dulu lagi, harus ada perubahan," kata Dudi dalam acara Jakarta Eco Future Festival di Balai Kota DKI Jakarta, Jumat (3/7/2026).
DPR Cecar PLN soal Pemadaman Listrik, Kesal Jawa Lebih Diutamakan dari Daerah Lain
Sebagai perbandingan, tinggi Monas mencapai 132 meter. Artinya, gunungan sampah di Bantargebang kini telah mendekati separuh tinggi ikon ibu kota tersebut.
Baca juga: Kondisi Bantargebang Darurat: Ketinggian 60 Meter, Hasilkan 6,3 Juta Ton Gas Metana
Jadi Bom Waktu Lingkungan
Menurut Dudi, kondisi TPST Bantargebang saat ini dapat diibaratkan sebagai bom waktu apabila tidak segera ditangani.
Selain terus bertambah tinggi, timbunan sampah di lokasi tersebut juga menghasilkan emisi gas metana dalam jumlah besar akibat proses pembusukan sampah organik.
Saat ini, gunungan sampah di Bantargebang menghasilkan sedikitnya 6,3 ton gas metana setiap jam.
Baca juga: Rano Karno: Mengubah Warga Pilah Sampah dari Rumah Ternyata Paling Berat
Dudi mengatakan, tingginya emisi metana menjadi salah satu persoalan yang mendapat perhatian pemerintah karena berdampak terhadap kualitas lingkungan dan udara.
"Kemarin ada pertemuan kami dengan Pak Menteri LH, dua kali saya dengar masalah metana. Gas metana itu yang menjadi benchmark saat ini untuk kebijakan," ujarnya.
Ia menilai pengendalian emisi metana menjadi salah satu langkah penting untuk mengurangi berbagai persoalan lingkungan yang dihadapi Jakarta.
"Makanya itu yang harus diselesaikan saat ini. Kalau misalnya itu selesai, maka selesailah kekhawatiran kita dicap sebagai salah satu kota terpolusi di dunia," kata Dudi.
Baca juga: Mengapa Blok M Kembali Jadi Magnet Anak Muda? Ini Cerita di Balik Kebangkitannya
Open Dumping Dihentikan Mulai Agustus
Tingginya gunungan sampah juga menjadi salah satu alasan pemerintah menghentikan sistem pembuangan terbuka atau open dumping di Bantargebang mulai 1 Agustus 2026.
Menurut Dudi, metode pembuangan sampah secara konvensional sudah tidak lagi memungkinkan diterapkan karena meningkatkan risiko bencana lingkungan.
"Dan mulai 1 Agustus itu adalah batas akhir kita boleh, tanda kutip ya, 'buang sampah sembarangan' di Bantargebang. Setelahnya operasional di Bantargebang hanya akan diperkenankan menggunakan sistem sanitary landfill," ujarnya.
Baca juga: Kenang Lahir di "Gang Tai" Jakbar, Rano Karno: Waktu Itu Buang Air di Got
Sanitary landfill merupakan metode pengelolaan sampah dengan cara memadatkan sampah di area tertentu, kemudian menutupnya menggunakan lapisan tanah untuk mengurangi dampak pencemaran lingkungan.
Kebijakan tersebut juga diambil untuk mencegah terulangnya kejadian longsor sampah maupun kebakaran di kawasan pembuangan akhir.
"Itu pun menjadi peringatan, hati-hati Jakarta jangan sampai seperti itu. Makanya nanti saya tekankan lagi ke pengelola di Bantargebang untuk dilarang merokok, itu benar-benar menjadi hal utama," kata Dudi.
Baca juga: Usulan Tarif Langganan TransJakarta per Bulan, Bisa Lebih Murah dari Tarif Reguler
Jakarta Buang hingga 7.800 Ton Sampah per Hari
Berdasarkan data DLH DKI Jakarta, volume sampah yang dikirim ke Bantargebang saat ini mencapai 7.200 hingga 7.800 ton per hari.
Sampah tersebut diangkut menggunakan lebih dari 2.100 armada dengan sekitar 500 perjalanan setiap harinya.
Bahkan, jika memperhitungkan aktivitas komuter yang datang ke Jakarta setiap hari, jumlah sampah yang dihasilkan diperkirakan bisa mencapai 9.000 ton per hari.
Baca juga: Rano Karno Kaget Jakarta Peringkat 5 TBC Tertinggi: Mayoritas karena Sanitasi Buruk
"Kalau kita asumsikan ulang lagi dengan jumlah penduduk Jakarta ditambah dengan komuter yang masuk dari luar Jakarta ke DKI Jakarta, angka jumlah sampahnya bisa mencapai 9.000 ton," ujar Dudi.
Menurut dia, sebagian sampah berhasil didaur ulang atau dikelola secara mandiri oleh masyarakat. Namun, sebagian lainnya masih menjadi sampah liar yang berakhir di sungai maupun laut.
Karena itu, Pemprov DKI Jakarta tengah mendorong berbagai upaya pengurangan sampah, terutama sampah organik yang saat ini mencapai sekitar 50 persen dari total timbulan sampah Jakarta.
(Reporter: Ridho Danu Prasetyo)
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang