Bullying Siswa SMP Lumajang Berujung Kematian, Pelaku Sempat Beri Ganti Biaya Berobat Rp 60.000 - Kompas
LUMAJANG, KOMPAS.com - Kasus bullying yang menimpa MI (16), siswa SMP PGRI Sukodono di Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, sempat diselesaikan melalui mediasi antara keluarga korban dan pelaku.
Dalam mediasi tersebut, keluarga pelaku juga memberikan penggantian biaya pengobatan sebesar Rp 60.000 setelah korban menjalani pemeriksaan di puskesmas.
Namun, sekitar satu bulan setelah kejadian, kondisi korban terus memburuk hingga akhirnya meninggal dunia saat menjalani perawatan di RSUD dr Haryoto Lumajang.
Baca juga: Siswa SMP Korban Bullying di Lumajang Masih Ikut TKA dan Tasyakuran Kelulusan Sebelum Meninggal
Keluarga Pelaku Beri Uang untuk Ganti Biaya Pengobatan
Kepala SMP PGRI Sukodono, Yunita Wahyuningsih mengatakan, sehari setelah kejadian, pihaknya langsung memanggil orangtua korban dan pelaku untuk mediasi.
Gelombang Panas Datang Lagi, 2.000 Orang Tewas di Spanyol dan Perancis
Menurut dia, dalam mediasi tersebut keluarga pelaku juga menyatakan bersedia bertanggung jawab apabila di kemudian hari muncul dampak dari dugaan penganiayaan tersebut.
Yunita menambahkan, keluarga pelaku memberikan uang pengganti biaya pengobatan setelah korban menjalani pemeriksaan di puskesmas.
" Dan ada ganti biaya pengobatan yang diberikan keluarga pelaku kepada korban karena ibu korban menyampaikan sudah mengobatkan putranya ke puskesmas dan mengeluarkan biaya Rp60.000," kata Yunita, Rabu (1/7/2026), dilansir dari Kompas.com.
Yunita mengaku tidak menyangka aksi bullying yang terjadi satu bulan lalu menimbulkan dampak panjang hingga menyebabkan korban meninggal dunia.
"Kami menganggap sudah selesai mediasi dan sudah ada kesepakatan damai, tidak menyangka bahwa akan jadi seperti ini," pungkas Yunita.
Baca juga: Kronologi Siswa SMP di Lumajang Dibully hingga Meninggal: Korban Dipukul 3 Kali
Korban Meninggal Sebulan Kemudian
Setelah kejadian itu, kondisi kesehatan korban terus menurun. Meskipun sempat menyelesaikan tes kemampuan akademik (TKA) dan mengikuti tasyakuran kelulusan.
Hampir sebulan setelah peristiwa tersebut, korban mengalami pendarahan pada giginya sehingga keluarga membawanya ke rumah sakit.
Tidak lama menjalani perawatan di rumah sakit, korban dinyatakan meninggal pada Rabu, 24 Juni 2026.
"Kalau hasil otopsi dan visum itu penyebabnya ada luka benturan di kepala dan itu keterangan dokternya sudah lama terjadi pada korban," ungkap kakak korban, Ahmad Dani, Selasa (30/6/2026), dilansir dari Kompas.com.
Korban akhirnya meninggal dunia di RSUD dr Haryoto Lumajang pada Rabu (24/6/2026), atau sekitar satu bulan setelah dugaan penganiayaan terjadi.
Baca juga: Dindikbud Lumajang Baru Tahu Ada Bullying Siswa Berujung Meninggal
Kronologi Bullying
Polisi mengungkap kronologi dugaan bullying yang berujung penganiayaan hingga meninggal dunia yang menimpa MI.
Dalam kasus tersebut, seorang anak berinisial S yang merupakan teman sekelas korban telah ditetapkan sebagai tersangka atau anak yang berhadapan dengan hukum (ABH).
Kepala Seksi Humas Polres Lumajang Ipda Suprapto mengatakan peristiwa itu terjadi pada 18 Mei 2026 di dalam ruang kelas.
Menurut hasil penyelidikan, kejadian bermula ketika korban diminta membersihkan sampah yang berada di sekitar loker mejanya.
Korban menolak karena merasa bukan dirinya yang membuang sampah tersebut.
Suprapto mengatakan, setelah itu korban diminta duduk di kursi yang berada di dekat dinding kelas.
Tak lama kemudian, teman sekelasnya yang berinisial S diduga memukul korban menggunakan tangan kosong sebanyak tiga kali.
"Pukulan pertama mengarah ke bagian dada, pukulan kedua mengarah ke bagian lengan, dan yang terakhir mengarah ke bibir hingga kepala korban terdorong ke belakang dan membentur dinding kelas," kata Suprapto, dilansir dari Kompas.com.
Baca juga: Siswa SMP di Lumajang Tewas Diduga Akibat Bullying, Polisi Ungkap 1 Terduga Pelaku Masih Saksi
Akibat kejadian tersebut, korban mengalami luka di bagian bibir serta mengeluhkan pusing.
Keterangan serupa disampaikan kakak korban, Ahmad Dani. Ia mengatakan adiknya didatangi dua teman sekelas berinisial S dan A setelah keduanya menemukan sampah di sekitar meja korban.
"Adik saya waktu itu di kelas sendirian. Dua pelaku mendatangi adik saya, menegur soal sampah di bawah meja, lalu langsung dipukuli," ujar Ahmad Dani.
Usai kejadian, korban mendatangi ruang guru sambil menangis untuk melaporkan dugaan penganiayaan yang dialaminya.
Pihak sekolah langsung memanggil terduga pelaku dan memberikan teguran.
Keesokan harinya, sekolah mempertemukan keluarga korban dan keluarga terduga pelaku untuk melakukan mediasi.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang