Sosial Media
0
Mensinkronisasi logo dan berita terbaru...
    CONNECTING TRANSMISSION...
    Home Berita Bunga Rafflesia Featured Fenomena Fenomena Alam Spesial

    Bunga Rafflesia Langka Muncul Lagi Setelah Hilang 15 Tahun - detik

    3 min read

     


    Foto: Samar Island Natural Park

    Jakarta -

    Kabar menggembirakan datang dari Filipina. Salah satu spesies Rafflesia paling langka di negara itu akhirnya ditemukan kembali setelah lebih dari 15 tahun tidak pernah terdokumentasi di alam liar.

    Tanaman yang dikenal sebagai Samar Rafflesia (Rafflesia manillana) ditemukan dalam survei eksplorasi di Samar Island Natural Park (SINP), kawasan hutan lindung terbesar di Filipina. Penemuan ini memberikan harapan baru bagi upaya pelestarian salah satu tumbuhan paling unik di dunia.

    Rafflesia terakhir kali tercatat di kawasan tersebut pada Maret 2011. Selama bertahun-tahun setelah itu, keberadaannya tidak lagi terkonfirmasi sehingga memunculkan kekhawatiran bahwa populasinya terus menyusut akibat kerusakan habitat.

    Spesies tersebut akhirnya ditemukan kembali dalam survei yang dilakukan Protected Area Management Office di Samar Island Natural Park untuk memetakan persebaran dan kondisi populasi Rafflesia di kawasan konservasi tersebut.

    Identitas bunga langka itu dikonfirmasi oleh dua ahli botani Filipina, Dr. Pastor Malabrigo Jr. dan Dr. Julie Barcelona, yang dikenal sebagai pakar keanekaragaman hayati tumbuhan Filipina.

    Menurut pengelola taman nasional, penemuan kembali ini menjadi kabar baik bagi konservasi karena menunjukkan bahwa populasi Rafflesia Samar masih mampu bertahan meski menghadapi tekanan terhadap ekosistem hutan.

    "Penemuan kembali ini memberikan harapan baru bagi para pegiat konservasi bahwa populasi spesies yang terancam punah ini masih bertahan meskipun ancaman terhadap ekosistem hutan terus meningkat," demikian pernyataan Samar Island Natural Park, dikutip dari The Star, Minggu (5/7/2026).

    Berbeda dengan tumbuhan pada umumnya, Rafflesia merupakan tumbuhan holoparasit, artinya seluruh kebutuhan hidupnya bergantung pada tanaman inang. Rafflesia tidak memiliki daun, batang, maupun akar.

    Sebagian besar siklus hidupnya berlangsung tersembunyi di dalam jaringan tanaman merambat dari genus Tetrastigma. Bunga raksasanya hanya muncul selama beberapa hari sebelum akhirnya layu.

    Bunganya juga mengeluarkan aroma menyengat yang menyerupai daging membusuk. Bau tersebut bukan cacat, melainkan strategi evolusi untuk menarik lalat, yang berperan sebagai penyerbuk alami.

    Di Filipina, Samar Rafflesia telah dikategorikan sebagai spesies terancam punah berdasarkan Department Administrative Order No. 2026-20. Penyebarannya yang sangat terbatas membuat tanaman ini rentan terhadap kerusakan habitat, pembukaan hutan, maupun aktivitas manusia.

    Karena itu, survei terbaru tidak hanya bertujuan menemukan kembali keberadaan Rafflesia, tetapi juga mengumpulkan data lapangan untuk mendukung strategi konservasi, pengelolaan habitat, dan pemantauan populasi dalam jangka panjang.

    Samar Island Natural Park membentang di tiga provinsi, yakni Samar, Northern Samar, dan Eastern Samar, dengan luas lebih dari 333 ribu hektare. Kawasan ini merupakan hutan lindung daratan terbesar di Filipina sekaligus salah satu bentang hutan hujan tropis tua yang masih tersisa di negara tersebut.

    Selain menjadi rumah bagi Samar Rafflesia, taman nasional ini juga menjadi habitat berbagai satwa endemik dan terancam punah, seperti elang Filipina, tarsius Filipina, babi hutan Filipina, rusa tutul Filipina, hingga berbagai jenis anggrek, amfibi, dan reptil langka.

    Penemuan kembali Samar Rafflesia memperkuat pentingnya menjaga kawasan hutan alami sebagai benteng terakhir keanekaragaman hayati. Bagi para ilmuwan, setiap populasi yang berhasil dipertahankan menjadi peluang untuk memastikan spesies unik ini tetap bertahan bagi generasi mendatang.

    (rns/rns)

    Komentar
    Additional JS