Garda Revolusi Iran Tutup Lagi Selat Hormuz Sampai Batas Waktu Tak Ditentukan - suara
Baca 10 detik
- Garda Revolusi Iran menutup Selat Hormuz sebagai respons atas ketegangan militer serta konflik berkelanjutan dengan pihak Amerika Serikat.
- Tindakan penutupan jalur perdagangan minyak strategis ini berpotensi mengguncang stabilitas pasar energi global secara signifikan dan cepat.
- Iran tidak lagi terikat kesepakatan damai sementara Amerika Serikat menyatakan kesiapan militer untuk merespons ancaman serangan dari Iran.
Suara.com - Ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat kembali memanas setelah Garda Revolusi Iran mengumumkan penutupan Selat Hormuz.
Keputusan ini berlaku hingga pemberitahuan lebih lanjut dan langsung memicu kekhawatiran global.
Penutupan dilakukan setelah pasukan Iran melepaskan tembakan peringatan ke sebuah kapal yang disebut melintas di jalur tidak sah.
Otoritas militer Iran menegaskan tidak ada kapal yang diizinkan melintas selama konflik dengan AS belum mereda.
“Selat Hormuz ditutup sampai intervensi Amerika Serikat dihentikan,” demikian pernyataan resmi Garda Revolusi.
Garda Revolusi Iran juga memperingatkan bahwa setiap tindakan bermusuhan akan dibalas dengan keras, termasuk menargetkan pangkalan militer AS di kawasan Teluk.
![Amerika Serikat melancarkan serangan militer baru terhadap target milik Iran di tengah eskalasi konflik di kawasan Teluk. [Reuters]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/07/12/95750-pesawat-as.jpg)
Selat Hormuz merupakan jalur strategis yang dilalui sekitar 20 persen perdagangan minyak dunia.
Penutupan jalur ini berpotensi mengguncang pasar energi global dan meningkatkan harga minyak secara signifikan.
Situasi semakin kompleks setelah Iran menyatakan tidak lagi terikat pada kesepakatan damai dengan Washington.
Baca Juga: Amerika Serikat Balas Serangan ke Iran, Ketegangan Memuncak di Selat Hormuz
Pernyataan itu disampaikan perwakilan Iran di United Nations yang menilai AS telah melanggar komitmen sebelumnya.
Ketegangan juga dipicu pernyataan pemimpin tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei, yang berjanji melakukan pembalasan atas kematian ayahnya, Ali Khamenei.
“Para pelaku tidak akan mati dengan damai,” ujarnya dalam pidato yang disiarkan luas.
Di sisi lain, mantan Presiden AS Donald Trump merespons keras ancaman tersebut.
Trump menyatakan kesiapan militer dengan menyebut ribuan rudal siap diarahkan ke Iran jika terjadi serangan.