Ibu Hamil dan Pilot AS Tewas di Papua, Politisi PDIP: Tidak Ada Kemenangan Lahir dari Darah Rakyat - Tribunnews
Ringkasan Berita:
- Anggota DPR RI Komarudin Watubun menyampaikan duka atas terbunuhnya ibu hamil Melkiana Duwitau dalam kontak senjata di Intan Jaya serta pilot pesawat AMA, Nicholas Gosselin, dalam insiden pembakaran pesawat di Yahukimo.
- Ia mendesak semua pihak menghentikan kekerasan, mengutamakan perlindungan warga sipil, serta mendorong dialog damai karena keamanan menjadi syarat utama pembangunan dan kesejahteraan Papua.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Anggota DPR RI Daerah Pemilihan (Dapil) Papua Tengah, Komarudin Watubun, menyampaikan duka cita mendalam atas kembali gugurnya warga sipil dan petugas dalam rentetan kekerasan bersenjata yang terjadi di Tanah Papua baru-baru ini.
Secara khusus, politisi yang akrab disapa Bung Komar ini menyampaikan belasungkawa atas meninggalnya Ibu Melkiana Duwitau (31), seorang ibu hamil yang menjadi korban dalam peristiwa kontak tembak antara aparat keamanan dan TPNPB-OPM di Kabupaten Intan Jaya, Kamis (2/7/2026).
Di hari yang sama kedukaan juga menyelimuti sektor penerbangan perintis dengan meninggalnya Capt. Nicholas Gosselin, warga Amerika Serikat (AS).
Dia adalah pilot pesawat AMA PK-RCY yang ikut jadi korban penyerangan dan pembakaran pesawat di Kabupaten Yahukimo.
"Setiap tetes darah yang tumpah di Tanah Papua adalah luka bagi kemanusiaan dan duka bagi seluruh Bangsa Indonesia. Tidak ada satu pun keluarga yang menginginkan kehilangan orang yang mereka cintai. Karena itu, keselamatan manusia harus menjadi pertimbangan utama dalam setiap kebijakan di lapangan," ujar Komarudin saat dikonfirmasi Tribunnews, Sabtu (4/7/2026).
Komarudin menegaskan bahwa konflik bersenjata yang berkepanjangan hanya akan melahirkan penderitaan tanpa akhir bagi masyarakat sipil.
Hak dasar warga negara untuk mendapatkan rasa aman kini kian terancam.
Ia mendesak seluruh pihak yang bertikai untuk segera menghentikan segala bentuk tindakan kekerasan dan mengedepankan solusi damai yang bermartabat.
"Tidak ada kemenangan yang lahir dari darah rakyat. Yang dibutuhkan Papua hari ini bukan semakin banyak kekerasan, melainkan semakin banyak ruang dialog, keadilan, dan kemanusiaan," kata legislator PDI Perjuangan tersebut.
Kepada jajaran Pemerintah Pusat, Komarudin mendesak adanya langkah penanganan yang lebih serius dan terukur dengan menempatkan jaminan keselamatan warga sipil di atas segala-galanya.
Negara dituntut hadir untuk memulihkan ketertiban, menegakkan hukum secara adil tanpa tebang pilih, serta menjamin masyarakat Papua dapat bersekolah, bekerja, beribadah, dan beraktivitas sehari-hari dengan rasa aman.
"Kekerasan tidak akan pernah menjadi jalan keluar. Yang lahir dari kekerasan hanyalah penderitaan yang semakin panjang dan hilangnya kesempatan bagi tanah Papua untuk tumbuh dalam kedamaian," tambahnya.

Keamanan sebagai Prasyarat Utama Pembangunan
Lebih lanjut, Anggota Komisi II DPR RI ini mengajak para tokoh adat, tokoh agama, tokoh perempuan,
pemuda, akademisi, serta jajaran pemerintah daerah untuk merapatkan barisan memperkuat ruang-ruang musyawarah di tingkat lokal.
Papua dinilai memiliki modal sosial dan nilai-nilai kearifan kebudayaan yang kuat untuk menyelesaikan berbagai persoalan secara kekeluargaan dan saling menghormati.
Menurutnya, pemulihan situasi keamanan merupakan prasyarat mutlak sebelum membicarakan akselerasi pembangunan.
"Tanpa adanya rasa aman, layanan pendidikan tidak dapat berjalan optimal, fasilitas pelayanan kesehatan terganggu, kegiatan ekonomi melemah, dan kesejahteraan masyarakat akan semakin sulit diwujudkan," paparnya.
Sebagai wakil rakyat Papua di Parlemen Senayan, Komarudin menyatakan komitmennya untuk terus mendorong kebijakan yang berpihak pada perlindungan hak warga sipil Papua, penegakan hukum yang transparan, pembangunan yang inklusif, serta pembukaan ruang dialog konstruktif yang aman dan bermartabat.
"Papua tidak boleh terus-menerus diwariskan sebagai tanah konflik. Yang harus kita wariskan kepada generasi muda Papua adalah kedamaian, keadilan, pendidikan berkualitas, kesempatan hidup sejahtera, dan harapan akan masa depan yang lebih baik," tandasnya.
Penembakan Intan Jaya
Manajemen Markas Pusat Komnas TPNPB telah menerima laporan dari PIS TPNPB dari pusat Kota Sugapa bahwa, telah terjadi bunyi tembakan di pusat Kota Sugapa, Kabupaten Intan Jaya, pada hari Kamis, 2 Juli 2026 sekitar pukul 19.00-20.00 WIT.
Atas kejadian tersebut mengakibatkan seorang ibu hamil atas nama Melkiana Duwitau dengan usia kehamilan 7 bulan meninggal dunia.
Dikutip dari TribunPapuaTengah.com, korban kemudian dievakuasi ke rumah sakit guna mendapatkan tindakan medis dengan mengeluarkan bayi dalam kandungan.
Anak dalam kandungan dikabarkan selamat setelah dilakukan tindakan medis di RS Sugapa.
Korban ditembak mati saat berada di dalam rumahnya di Jaringan di pusat Kota Sugapa.
Penembakan tersebut diduga dilakukan oleh TNI dari dalam pos militer berjarak sekitar 50M dari rumah korban.
Korban meninggal setelah terkena peluru menembus rumahnya.
Pembakaran Pesawat
Sebuah pesawat dibakar oleh orang tak dikenal (OTK) di Bandara Ipdeheik, Yahukimo, Papua Pegunungan pada Kamis (2/7/2026).
Kabar pesawat dibakar itu dibenarkan oleh Kasatgas Humas Ops Damai Cartenz 2026 Kombes Yusuf Sutejo.
"Kejadiannya (pesawat dibakar) betul," kata Yusuf saat dihubungi wartawan, Kamis.
Meski begitu, Yusuf mengaku belum bisa menjelaskan lebih rinci terkait kasus tersebut termasuk apakah ada keterlibatan Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) atau tidak.
Ia hanya menyebut jika saat ini pihaknya tengah melakukan pendalaman atas peristiwa tersebut.
"Terkait hal yang lainnya masih dalam lidik," jelasnya.
Pendalaman itu juga termasuk soal kabar pilot pesawat yang disebut tewas dalam peristiwa terbakarnya pesawat tersebut.
Dari informasi yang diterima, pesawat yang dibakar itu merupakan pesawat AMA PK-RCY dengan rute penerbangan Wamena-Balinggama.
Namun, hal tersebut belum terkonfirmasi dengaj jelas karena tim Satgas Damai Cartenz masih melakukan penyelidikan.