Mimpi Sejak SMA Berakhir di Medan Tugas, Sosok Serda Hengki Korban Ledakan Amunisi Madiun - Merdeka
Serda Hengki Noto Susanto dikenal keluarga sebagai sosok sederhana, bertanggung jawab, dan tidak pernah meninggalkan ibadah.
Di balik kabar duka ledakan gudang amunisi di Madiun, tersimpan kisah pengabdian seorang prajurit telah mengabdikan sebagian besar hidupnya untuk negara.
Serda Hengki Noto Susanto dikenal keluarga sebagai sosok sederhana, bertanggung jawab, dan tidak pernah meninggalkan ibadah. Kini, pengabdiannya berakhir saat menjalankan tugas.
Kepergian prajurit Gudang Pusat Munisi (Gupusmu) II Pusat Peralatan TNI Angkatan Darat itu menyisakan duka mendalam bagi keluarga. Jenazah almarhum dimakamkan di tempat pemakaman umum desa asalnya pada Kamis (16/7) malam, diiringi isak tangis keluarga dan kerabat yang melepas kepergiannya untuk terakhir kali.
Kesaksian Keluarga
Bagi sang kakak, Hendri Siswo Susanto, Hengki bukan sekadar adik. Dia adalah pribadi sejak muda telah memiliki tekad kuat menjadi seorang tentara. Keinginan itu tumbuh sejak masih duduk di bangku Sekolah Menengah Atas (SMA) dan akhirnya berhasil diwujudkan melalui pengabdian panjang di lingkungan TNI AD.
"Memang dari SMA cita-citanya ingin jadi tentara," kenang Hendri.
Cita-cita tersebut kemudian dijalani dengan penuh kesungguhan. Sebelum bertugas di gudang Pusat Munisi Madiun, Hengki menghabiskan hampir 15 tahun menjalankan penugasan di Timika, Papua.
Dalam masa pengabdian itu, istri beserta kedua anaknya turut mendampinginya tinggal di Papua, menjalani kehidupan jauh dari kampung halaman.
Sekitar dua tahun terakhir, Hengki dipindahkan ke Gupusmu II Pusat Peralatan TNI AD di Madiun. Meski lokasi tugas berubah, hubungan dengan keluarga tetap terjalin erat. Komunikasi rutin dilakukan melalui telepon, sementara kesempatan bertemu selalu dimanfaatkan ketika memungkinkan.
Hendri mengungkapkan, hanya tiga hari sebelum musibah terjadi, Hengki masih sempat pulang dan bertemu dengan ibu kandungnya. Pertemuan itu kini menjadi kenangan terakhir yang tak pernah disangka akan menjadi perpisahan.
"Kalau komunikasi biasa lewat handphone. Terakhir ketemu sama ibu kandung itu sekitar tiga hari sebelum kejadian," ujar Hendri.
Tidak ada tanda-tanda ataupun firasat dirasakan keluarga menjelang insiden tersebut. Semua berjalan seperti hari-hari biasa hingga kabar duka itu datang secara tiba-tiba.
"Enggak ada. Ibu, kakak, maupun istrinya juga tidak punya firasat apa-apa," kata Hendri.
Korban Tinggalkan Istri dan Dua Anak
Di rumah, Hengki meninggalkan seorang istri dan dua anak masih membutuhkan sosok ayah. Putri sulungnya kini duduk di kelas VI sekolah dasar, sementara anak keduanya, seorang laki-laki, masih PAUD. Kepergian Hengki membuat keluarga kehilangan tulang punggung sekaligus sosok ayah selama ini dikenal penuh tanggung jawab.
Menurut keluarga, almarhum merupakan anak kedua dari tiga bersaudara. Adik bungsunya sejak kecil telah diasuh dan diangkat sebagai anak oleh kerabat sehingga tidak lagi tinggal bersama keluarga inti.
Bagi orang-orang terdekat, Serda Hengki dikenang bukan hanya sebagai prajurit menjalankan tugas negara, tetapi juga sebagai anak berbakti, suami setia, dan ayah berusaha memberikan kehidupan terbaik bagi keluarganya.
Pengabdian dimulai dari mimpi seorang pelajar SMA itu akhirnya berakhir di medan tugas, meninggalkan jejak ketulusan dan dedikasi akan selalu dikenang oleh keluarga maupun rekan-rekan seperjuangannya.