Nutanix: Di Balik Pesatnya Adopsi AI di Industri Kesehatan, Ada Ancaman Shadow AI yang Kian Mengkhawatirkan - Mobitekno
Mobitekno – Nutanix mengungkapkan bahwa adopsi Artificial Intelligence (AI) di sektor kesehatan berkembang jauh lebih cepat dibanding kesiapan infrastruktur yang mendukungnya. Di tengah meningkatnya kebutuhan layanan kesehatan yang lebih cerdas, cepat, dan berbasis data, banyak rumah sakit serta organisasi kesehatan justru masih menghadapi tantangan besar dalam membangun fondasi teknologi yang aman, andal, dan sesuai regulasi.
Temuan tersebut berasal dari survei tahunan Enterprise Cloud Index (ECI) 2025 edisi sektor kesehatan yang dirilis Nutanix, pemimpin di bidang hybrid multicloud computing. Laporan ini memotret kesiapan infrastruktur digital, tingkat adopsi AI, hingga tren penggunaan teknologi container di berbagai organisasi kesehatan di seluruh dunia.
Hasilnya menunjukkan bahwa sektor kesehatan tengah memasuki fase penting transformasi digital. AI kini bukan lagi sekadar proyek uji coba, melainkan mulai digunakan untuk mendukung layanan klinis, operasional rumah sakit, hingga pengambilan keputusan medis secara real-time. Namun, perkembangan tersebut belum sepenuhnya diimbangi dengan kesiapan infrastruktur yang memadai.
Salah satu temuan menarik dalam laporan ini adalah pergeseran implementasi AI dari pusat data menuju point of care atau titik layanan pasien. Nutanix memperkirakan hingga 75 persen data kesehatan di masa depan akan dihasilkan langsung dari lokasi pelayanan pasien, mulai dari ruang perawatan, instalasi gawat darurat, hingga perangkat medis yang saling terhubung.
Perubahan ini membawa konsekuensi besar bagi organisasi kesehatan. Infrastruktur tidak lagi hanya dituntut mampu memproses data dalam jumlah besar, tetapi juga harus memberikan respons secara instan dengan latensi rendah, menjaga keamanan data pasien, sekaligus memenuhi berbagai regulasi mengenai privasi dan kedaulatan data.
Di sisi lain, penggunaan shadow AI atau pemanfaatan AI tanpa pengawasan resmi juga mulai meningkat, baik di lingkungan klinis maupun administratif. Kondisi ini memperbesar risiko kebocoran data, inkonsistensi proses, hingga potensi pelanggaran regulasi apabila tidak diimbangi dengan tata kelola yang baik.
Infrastruktur Masih Menjadi Tantangan
Meski antusiasme terhadap AI terus meningkat, laporan Nutanix menunjukkan bahwa banyak organisasi kesehatan belum memiliki infrastruktur yang mampu menjalankan beban kerja AI secara optimal.
Sebagian besar masih mengoperasikan sistem yang tersebar di berbagai lingkungan, mulai dari on-premises, private cloud, hingga layanan managed services. Masing-masing berjalan sendiri-sendiri tanpa strategi infrastruktur yang benar-benar terintegrasi.
Akibatnya, organisasi harus menghadapi kompleksitas operasional yang lebih tinggi. Pengelolaan data menjadi lebih sulit, integrasi aplikasi tidak selalu berjalan mulus, sementara kebutuhan akan performa tinggi terus meningkat seiring berkembangnya pemanfaatan AI dalam layanan kesehatan.
Menurut Daryush Ashjari, Chief Technology Officer dan Vice President Solution Engineering APJ Nutanix, organisasi kesehatan di kawasan Asia Pasifik dan Jepang saat ini berada di bawah tekanan besar untuk mempercepat implementasi AI.
Sayangnya, kebutuhan tenaga medis terhadap teknologi tersebut belum diimbangi kesiapan infrastruktur digital yang memadai.
“Tekanan ini tidak hanya berdampak pada sistem IT, tetapi juga dapat memengaruhi ketersediaan layanan kritis, akses terhadap data, hingga kesinambungan pelayanan pasien,” ujarnya.
Fondasi Digital Menentukan Masa Depan AI Kesehatan
Karena itu, Nutanix menilai organisasi kesehatan perlu beralih dari pendekatan yang bersifat reaktif menuju strategi hybrid multicloud yang lebih terpadu. Model ini memungkinkan rumah sakit dan institusi kesehatan mengelola berbagai beban kerja AI secara fleksibel di berbagai lingkungan, tanpa mengorbankan keamanan maupun kepatuhan terhadap regulasi.
Pendekatan hybrid juga memberikan keleluasaan dalam memproses data lebih dekat ke lokasi pasien sehingga aplikasi AI dapat memberikan rekomendasi atau analisis secara real-time dengan latensi yang jauh lebih rendah.
Nutanix menilai bahwa masa depan AI di sektor kesehatan tidak hanya ditentukan oleh kecanggihan model AI, tetapi juga oleh kualitas infrastruktur yang menopangnya.
Bagi para pemimpin IT di rumah sakit maupun institusi kesehatan, tantangan berikutnya bukan lagi sekadar menghadirkan AI, melainkan memastikan teknologi tersebut berjalan secara konsisten, aman, mudah dikelola, dan tetap mematuhi berbagai regulasi yang berlaku.
Temuan utama dari laporan Nutanix Healthcare ECI 2026 meliputi:
● Shadow AI telah digunakan secara luas dan sebagian besar masih belum dikelola dengan baik: Sebanyak 79% organisasi kesehatan menemukan bahwa aplikasi atau agen AI telah digunakan oleh karyawan di luar fungsi IT. Selain itu, sebanyak 83% responden percaya bahwa penggunaan tools dan agen AI di luar pengawasan resmi menimbulkan risiko bagi perusahaan. Persentase yang sama (83%) juga menyatakan bahwa adanya silo atau keterpisahan antara unit bisnis dan IT menyulitkan implementasi inisiatif teknologi secara efektif, sehingga semakin memperbesar tantangan tata kelola seiring meningkatnya adopsi AI.
● Infrastruktur belum siap mendukung AI di titik layanan pasien: Sebanyak 88% pemimpin IT di sektor kesehatan menilai bahwa infrastruktur yang mereka miliki saat ini belum sepenuhnya siap untuk mendukung penerapan beban kerja AI di lingkungan on-premises. Kesenjangan ini menjadi perhatian serius mengingat proses inferensi AI yang dilakukan langsung di titik layanan pasien, alih-alih hanya mengandalkan pemrosesan di cloud, semakin dianggap sebagai kebutuhan penting untuk menghilangkan risiko latensi dalam layanan klinis. Satu ruang perawatan pasien dapat menghasilkan hingga 7TB data setiap tahun, sementara lingkungan dengan kepadatan perangkat yang tinggi, seperti ruang ICU, dapat memiliki 15 hingga 20 perangkat yang saling terhubung. Kondisi ini menuntut kemampuan pemrosesan AI secara lokal dengan latensi rendah agar layanan klinis dapat terus berjalan tanpa gangguan.
● AI mempercepat adopsi kontainer seiring organisasi kesehatan memodernisasi strategi aplikasinya: sebanyak 86% organisasi kesehatan menyatakan bahwa AI secara signifikan mempercepat adopsi teknologi kontainer, yang memungkinkan model AI dijalankan secara lokal di sisi layanan pasien, dalam lingkungan yang aman dan mudah dipindahkan. Sebanyak 81% responden memperkirakan tingkat penggunaan aplikasi berbasis kontainerisasi di organisasinya akan terus meningkat, sementara 80% telah membangun aplikasi baru dengan teknologi kontainer. Teknologi kontainer memungkinkan rumah sakit menyimpan data di lokasi tempat data tersebut dihasilkan, yakni di dalam infrastruktur mereka sendiri, sekaligus menghadirkan insight berbasis AI secara real-time tanpa mengorbankan kinerja jaringan.
● Agen AI dinilai akan membawa perubahan besar bagi operasional layanan kesehatan: sebanyak 58% pemimpin IT di sektor kesehatan meyakini bahwa agen AI akan meningkatkan produktivitas dan efisiensi. Sementara 57% memperkirakan agen akan mentransformasi proses bisnis dan operasional, serta lebih dari setengah (55%) melihat potensi agen AI untuk menciptakan produk, layanan, atau sumber pendapatan baru. Dalam tiga tahun ke depan, 57% organisasi memperkirakan akan memanfaatkan agentic AI atau agen AI otonom, bersama dengan AI generatif (62%) dan analitik prediktif atau model machine learning (55%).
● Kedaulatan data kini menjadi kebutuhan utama, bukan sekadar nilai tambah: Sebanyak 72% organisasi kesehatan menyatakan bahwa kedaulatan data adalah prioritas tinggi atau bahkan persyaratan wajib dalam pengambilan keputusan terkait infrastruktur. Saat ini, 54% organisasi telah menjalankan aplikasi berbasis kontainer di lingkungan on-premises atau private cloud, dan 54% menyatakan perlu mengoperasikan infrastrukturnya di dalam satu negara guna memenuhi harapan pelanggan maupun pemangku kepentingan. Temuan ini mencerminkan tingginya sensitivitas informasi kesehatan yang dilindungi (Protected Health Information/PHI) serta ketatnya tuntutan regulasi yang mengatur lokasi penyimpanan dan pemrosesan data tersebut.
● Adopsi AI didorong dari level pimpinan dan diperkirakan akan berkembang pesat: sebanyak 55% organisasi kesehatan memperkirakan akan memiliki lebih dari lima aplikasi berbasis AI dalam tiga tahun ke depan, termasuk 12% yang memperkirakan akan menjalankan lebih dari 10 aplikasi AI. Saat ini, 63% organisasi menjalankan aplikasi AI melalui managed service provider, sementara model implementasi hybrid diperkirakan akan tetap menjadi pendekatan utama seiring organisasi berupaya mendukung penerapan AI, baik secara terpusat maupun langsung di titik layanan pasien.
Tags: AI kesehatan, cloud kesehatan, Enterprise Cloud Index 2025, Hybrid Multicloud, Infrastruktur AI, nutanix, point of care, shadow AI, transformasi digital kesehatan


