Prabowo Ungkap Laporan Penggilingan Padi Untung Rp2 Triliun, Doni Riw Curiga Bisa Jadi Laporan ‘Asal… - Fajar
FAJAR.CO.ID, JAKARTA -- Klaim Presiden Prabowo Subianto mengenai keuntungan sebuah penggilingan padi yang disebut mencapai Rp2 triliun per bulan menuai perdebatan publik.
Pernyataan tersebut memantik respons dari penulis Doni Riw yang mencoba menguji logika angka tersebut melalui perhitungan sederhana.
Dikatakan Doni, besaran keuntungan yang disampaikan Presiden perlu diuji secara matematis agar tidak menimbulkan persepsi keliru di tengah masyarakat.
Ia bahkan menduga laporan yang diterima kepala negara berpotensi hanya bersifat ABS (Asal Bapak Senang).
Prabowo Klaim Penggilingan Padi Raup Rp2 Triliun per Bulan
Dalam sebuah video pidato yang beredar, Presiden Prabowo Subianto mengungkapkan laporan yang diterimanya mengenai tingginya keuntungan usaha penggilingan padi.
"Saya dapat laporan satu penggelingan padi untung tiap panen 2 triliun per bulan," kata Prabowo.
Pernyataan tersebut kemudian ramai diperbincangkan di media sosial karena dinilai memiliki nilai ekonomi yang sangat besar.
Doni Riw Uji Klaim dengan Hitung-hitungan Sederhana
Menanggapi pernyataan itu, Doni Riw mengajak publik melihat persoalan tersebut dari sisi perhitungan bisnis penggilingan padi.
"Oke, mari kita hitung ya, untuk mendapatkan 2 triliun per bulan berapa banyak padi yang harus digiling," ujar Doni dikutip fajar.co.id, Senin (27/7/2026).
Ia kemudian menguraikan tarif jasa penggilingan padi yang umum berlaku di masyarakat.
"Kalau kita lihat, jasa penggilingan padi di tempat itu Rp300 rupiah sampai Rp500 rupiah per kilogram," ucapnya.
"Kalau penggilingan keliling bisa Rp500 sampai Rp1000 rupiah per kilogram," tambah dia.
Untuk mempermudah simulasi, Doni menggunakan angka tengah sebesar Rp500 per kilogram.
"Kita ambil titik tengahnya, Rp500 rupiah per kilogram. Bayangkan Rp500 rupiah per kilogram, maka berapa yang harus digiling untuk mendapatkan Rp2 triliun?," jelasnya.
Perlu Menggiling Sekitar 4 Juta Ton
Berdasarkan hitungannya, Doni menyebut volume gabah atau beras yang harus digiling sangat besar apabila ingin memperoleh omzet sebesar Rp2 triliun.
"Berarti gampang saja, kurang lebih sekitar 4 juta ton beras yang harus digiling untuk mendapatkan bukan profit, tapi omset Rp2 triliun," terangnya.
Ia kemudian membandingkannya dengan estimasi kebutuhan konsumsi beras nasional setiap bulan.
"Nah, kita lihat lagi berapa kebutuhan beras masyarakat Indonesia per bulan, dan sekitar 2,5 juta ton," timpalnya.
Menurutnya, angka tersebut menimbulkan pertanyaan karena volume yang harus digiling justru melampaui kebutuhan konsumsi nasional.
"Berarti kalau 4 juta ton itu hampir 2 kali lipat dari kebutuhan rakyat Indonesia," bebernya.
Lebih jauh, Doni mempertanyakan penggilingan padi yang dimaksud Presiden dalam laporannya.
"Maka mari kita tanyakan ke Pak Presiden, penggilingan beras mana yang punya? Omset Rp2 triliun dan menggiling 4 juta ton itu," kuncinya.
Doni juga menyampaikan kecurigaannya bahwa informasi yang diterima Presiden kemungkinan hanya berupa laporan ABS (Asal Bapak Senang), sehingga menurutnya perlu dilakukan verifikasi lebih lanjut terhadap data yang menjadi dasar penyampaian klaim tersebut.
Terakhir kali, laporan ABS kepada Presiden Prabowo berujung pada penetapan tersangka. Tepatnya, Dadan Hindayana, eks kepala BGN yang pernah mengaku memberikan satu ekor lele untuk setiap anak penerima manfaat. (Muhsin/fajar)