Sosial Media
0
Mensinkronisasi logo dan berita terbaru...
    CONNECTING TRANSMISSION...
    Home Berita China Dunia Internasional Featured Spesial Tembok Hijau

    Tembok Hijau China Bikin Pohon Tumbuh Lebih Cepat, Kok Bisa? - detik

    3 min read

     


    Foto: Desertification

    Jakarta -

    Program penghijauan raksasa China yang dikenal sebagai Great Green Wall kembali menarik perhatian. Penelitian terbaru menemukan pohon-pohon yang ditanam dalam proyek tersebut ternyata menumbuhkan daun lebih cepat dibandingkan pohon di hutan alami.

    Temuan ini memberi gambaran baru mengenai bagaimana proyek reboisasi terbesar di dunia dapat mengubah respons pepohonan terhadap perubahan iklim. Meski demikian, para ilmuwan mengingatkan bahwa pertumbuhan yang lebih cepat tidak selalu berarti hutan buatan lebih baik dibandingkan hutan alami.

    Great Green Wall merupakan program penghijauan yang dimulai pada 1978 untuk menghambat perluasan Gurun Gobi dan Taklamakan di wilayah utara China. Hingga kini, lebih dari 66 miliar pohon telah ditanam, dan pemerintah China menargetkan penanaman sekitar 34 miliar pohon lagi hingga proyek selesai pada 2050.

    Dalam studi tersebut, para peneliti membandingkan pola pertumbuhan hutan tanaman dengan hutan alami menggunakan data satelit dan pengamatan lapangan. Hasilnya menunjukkan pohon-pohon di Great Green Wall mulai menumbuhkan daun lebih awal dan berkembang lebih cepat saat musim semi dibandingkan pohon di hutan alami.

    Menurut para peneliti, ada beberapa faktor yang menyebabkan fenomena ini. Salah satunya adalah usia pohon yang relatif masih muda. Pohon muda umumnya memiliki laju pertumbuhan lebih tinggi karena masih berada pada fase perkembangan aktif.

    Selain itu, hutan hasil penanaman biasanya didominasi spesies tertentu dengan karakter pertumbuhan yang seragam. Kondisi ini membuat seluruh kawasan hutan merespons perubahan musim secara lebih sinkron dibandingkan hutan alami yang memiliki keanekaragaman spesies lebih tinggi.

    Penelitian juga menemukan pohon-pohon di Great Green Wall tampak lebih responsif terhadap meningkatnya kadar karbon dioksida (CO₂) di atmosfer. Karbon dioksida merupakan bahan utama fotosintesis. Ketika konsentrasinya meningkat, beberapa jenis tanaman dapat memproduksi lebih banyak energi sehingga pertumbuhannya menjadi lebih cepat. Namun, efek ini tidak selalu berlangsung selamanya karena tetap dipengaruhi ketersediaan air, nutrisi, dan kondisi lingkungan lainnya.

    Para peneliti menulis bahwa kombinasi usia pohon, komposisi spesies, serta sensitivitas terhadap CO₂ kemungkinan menjadi penyebab utama mengapa hutan tanaman menunjukkan respons yang berbeda dibandingkan hutan alami.

    "Perbedaan usia pohon, komposisi spesies, dan sensitivitas terhadap karbon dioksida kemungkinan menjadi faktor utama yang menjelaskan perbedaan waktu pertumbuhan daun antara hutan tanaman dan hutan alami," tulis tim peneliti dalam studi tersebut, dikutip detikINET dari IFL Science.

    Meski tumbuh lebih cepat, para ilmuwan menegaskan hal itu bukan berarti hutan buatan otomatis lebih unggul. Hutan alami umumnya memiliki keanekaragaman hayati yang jauh lebih tinggi. Beragam spesies pohon, tumbuhan bawah, serangga, burung, hingga mamalia membentuk ekosistem yang lebih stabil dan mampu bertahan menghadapi perubahan lingkungan.

    Sebaliknya, banyak kawasan Great Green Wall didominasi satu atau beberapa jenis pohon yang dipilih karena cepat tumbuh dan mampu bertahan di wilayah kering. Pendekatan ini efektif untuk mempercepat penghijauan, tetapi kerap dikritik karena berpotensi mengurangi keanekaragaman hayati dan meningkatkan kerentanan terhadap hama maupun penyakit.

    Meski demikian, proyek Great Green Wall tetap dinilai berhasil meningkatkan tutupan vegetasi di China dan membantu memperlambat laju penggurunan di sejumlah wilayah utara. Temuan terbaru ini diharapkan dapat membantu para ilmuwan memahami bagaimana hutan hasil restorasi merespons perubahan iklim sehingga program penghijauan di masa depan bisa dirancang lebih efektif dan berkelanjutan.

    (rns/rns)

    Komentar
    Additional JS