Sosial Media
Opsi Update
0
Mensinkronisasi logo dan berita terbaru...
    Home Bencana Berita Featured Gempa Bumi Lintas Peristiwa NTT Spesial

    Beras Menipis, Terpal Tak Ada, Korban Gempa Flores di Manggarai Bertahan 7 Hari di Posko Mandiri - Kompas

    5 min read

     

    KOMPAS.com - Sejumlah warga terdampak gempa Flores bermagnitudo 7,7 di Kelurahan Wangkung, Kecamatan Reok, Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur (NTT), mengaku sudah tujuh hari bertahan di posko mandiri tanpa memperoleh bantuan logistik yang memadai.

    Warga memilih tinggal di luar rumah karena bangunan tempat tinggal mereka mengalami kerusakan akibat gempa dan mereka masih khawatir terhadap gempa susulan.

    Salah seorang warga Kelurahan Wangkung, Laurensius Emanuel, mengatakan, warga sudah enam malam atau tujuh hari bertahan di posko yang mereka bangun secara mandiri.

    Baca juga: Prabowo Batal Tinjau Korban Gempa Flores Hari Ini, Gubernur NTT: Diundur Senin atau Selasa

    Menurut dia, hingga Sabtu (22/8/2026), warga di posko mandiri belum menerima bantuan berupa sembako, tenda, maupun kebutuhan darurat lainnya secara memadai.

    Nurbiyati Pengungsi Gempa di Manggarai Beli Tenda Pakai Uang Sendiri, Belum Dapat Selimut dan Tikar

    "Kami di kelurahan Wangkung Reo ini pasca gempa Flores 7,7 itu memilih bangun posko secara mandiri di luar rumah untuk lindungi diri dari gempa susulan, sementara rumah-rumah kami juga sudah hancur parah.

    Sampai dengan saat ini meski bantuan sudah turun ke posko-posko terpusat seperti Barang Kolong dan Golo Conggo, tapi kami yang bangun posko secara mandiri ini belum dapat bantuan apa-apa dari pemerintah baik sembako maupun logistik lainya," ujar Laurensius diamini warga lainnya.

    Stok beras menipis

    Laurensius mengatakan, kondisi warga semakin sulit karena persediaan makanan, terutama beras, mulai berkurang.

    Warga sebenarnya sempat memperoleh bantuan beras dari pemerintah, tetapi jumlahnya dinilai belum mencukupi kebutuhan pengungsi di posko mandiri.

    Menurut dia, satu posko dapat dihuni hingga lima kepala keluarga.

    "Memang kemarin ada dapat bantuan dari pemerintah berupa beras 2 kg tapi tidak pas karena 1 posko itu bisa ada yang sampai 5 kepala keluarga. Memang ada warga yang punya padi tapi tempat giling tidak buka, mau beli tidak ada toko yang buka jual beras, sehingga kami kewalahan makanan terutama beras," ujarnya.

    Kondisi tersebut membuat warga kesulitan memenuhi kebutuhan pangan sehari-hari.

    Selain keterbatasan bantuan, akses untuk mendapatkan beras secara mandiri juga terkendala karena sejumlah tempat penggilingan padi dan toko belum beroperasi.

    Situasi itu dirasakan semakin berat bagi warga yang memilih mengungsi di posko-posko mandiri dan tidak berada di lokasi pengungsian terpusat.

    Butuh terpal untuk berlindung

    Selain beras, warga juga membutuhkan terpal atau tenda untuk tempat berlindung sementara.

    Laurensius mengatakan, hingga kini warga di posko mandiri belum mendapatkan bantuan terpal dari pemerintah.

    "Kami belum dapat terpal atau tenda posko dari pemerintah sampai saat ini. Kemarin sempat saya minta di Pak Camat tetapi pak camat bilang mereka juga kewalahan terpal," ujarnya.

    Keterbatasan terpal membuat sebagian warga menggunakan bahan seadanya untuk membangun tempat berlindung.

    Laurensius menyebut, ada warga yang menggunakan terpal dalam kondisi rusak, bahkan memanfaatkan karung bekas sebagai pelindung sementara.

    "Seharusnya pemerintah respon cepat ada usaha untuk bantu terpal, karena kami yang bangun posko mandiri ini ada yang tidak ada terpal, ada yang pakai terpal robek, bahkan ada yang pakai karung-karung bekas," ujarnya.

    Bantuan dinilai belum merata

    Menurut Laurensius, bantuan pemerintah sejauh ini telah disalurkan ke sejumlah posko pengungsian terpusat, termasuk Barang Kolong dan Golo Conggo.

    Namun, warga yang mengungsi secara mandiri di Kelurahan Wangkung mengaku belum mendapatkan bantuan dengan jumlah yang sesuai kebutuhan.

    Baca juga: 4.256 Gempa Susulan Guncang Flores, BMKG: Bisa Berlangsung hingga 4 Minggu

    Kondisi tersebut menjadi persoalan karena sebagian warga memilih tidak berada di posko terpusat dan mendirikan tempat pengungsian sendiri di sekitar lingkungan tempat tinggal mereka.

    Keputusan itu diambil karena rumah-rumah mereka mengalami kerusakan dan warga ingin tetap berada di lokasi yang dianggap aman dari ancaman bangunan roboh maupun gempa susulan.

    Laurensius berharap pemerintah segera memperluas distribusi bantuan sehingga korban gempa yang berada di posko mandiri juga terjangkau.

    Menurut dia, kebutuhan paling mendesak saat ini adalah beras dan terpal sebagai perlengkapan dasar bagi warga selama tinggal di luar rumah.

    Gempa Flores M7,7 yang terjadi pada Sabtu (15/8/2026) masih disusul ribuan gempa hingga beberapa hari setelah kejadian utama.

    Kondisi tersebut membuat sejumlah warga terdampak masih memilih bertahan di tempat terbuka dan belum kembali ke rumah masing-masing, terutama jika kondisi bangunan telah mengalami kerusakan berat.

    Sebagian artikel ini telah tayang di Pos-Kupang.com dengan judul "Korban di Wangkung Reo Manggarai Bertahan di Posko Mandiri Kewalahan Beras dan Terpal"

    Saudara-saudara kita di Nusa Tenggara Timur tengah dirundung duka karena gempa M 7,7. Mari kita mengulurkan tangan untuk membantu meringankan beban yang sedang mereka hadapi. Kirim bantuan Anda melalui tautan https://bit.ly/BantuWargaNTT

    Komentar
    Additional JS