Sosial Media
Opsi Update
0
Mensinkronisasi logo dan berita terbaru...
    Home Berita Budi Arie Setiadi Featured Jokowi Spesial

    Budi Arie Bicara Percepatan Pemilu di Hadapan Jokowi, Said Didu: Akhirnya Terkuak - Fajar

    3 min read

     

    Ketua Umum Projo, Budi Arie Setiadi dan Jokowi

    FAJAR.CO.ID, JAKARTA — Ketua Umum Projo Budi Arie Setiadi melempar sinyal mengenai kemungkinan percepatan Pemilihan Umum (Pemilu). Pernyataan tersebut disampaikan di hadapan Presiden ke-8 RI, Prabowo Subianto, dan Presiden ke-7 RI, Joko Widodo (Jokowi).

    Momen tersebut terekam dalam video yang kemudian viral di media sosial dan menjadi sorotan publik.

    Mantan Sekretaris Kementerian BUMN, Muhammad Said Didu, menjadi salah satu pihak yang menanggapi pernyataan tersebut.

    Melalui akun X pribadinya, @msaid_didu, Said Didu menyentil sikap Budi Arie dan Jokowi. Ia menyebut keduanya sebagai bagian dari kelompok Solo.

    “Solo sedang makan bubur panas Hambalang,” kata Didu, dikutip dari unggahannya di X, Selasa (25/8/2026).

    Menurut Didu, pernyataan Budi Arie menunjukkan bahwa Jokowi disebut tidak rela menyerahkan kekuasaan kepada siapapun.

    Bahkan, ia menilai kekuasaan tersebut juga tidak rela diberikan kepada Presiden Prabowo Subianto. Karena itu, menurut Didu, muncul keinginan agar Pemilu dipercepat.

    “Akhirnya terbuka dan terkuak bahwa Jokowi tidak rela serahkan kekuasaan ke siapapun, termasuk ke Pak @prabowo,” ungkapnya.

    “Geng SOP plus poros SSB sedang bergerak,” sambung Didu.

    Pernyataan Budi Arie

    Pernyataan mengenai kemungkinan percepatan Pemilu tersebut disampaikan Budi Arie dengan serius. Ia mengaku telah menyampaikan insting politiknya kepada Jokowi.

    “Tetapi saya ingin sampaikan, tadi saya udah bisik ke Pak Jokowi, ‘Pak, kok insting saya ini lebih cepat dari 2029?’ Apakah kita mau? Belum tentu kita mau. Kita masih ngomong ke Pemilu 2029,” kata Budi Arie dalam video tersebut.

    Budi Arie kemudian melempar pertanyaan retoris kepada hadirin.

    “Kalau terjadi percepatan gimana? Kita siap, nggak?”

    Hadirin pun langsung menjawab.

    “Siap!” teriak mereka.

    Budi Arie kemudian menjelaskan kondisi masyarakat saat ini dan menyinggung Reformasi 1998.

    Menurutnya, keresahan masyarakat serta kondisi ekonomi yang tidak menentu merupakan variabel yang sangat mungkin memicu terjadinya percepatan sejarah.

    “Ini terjadi yang namanya, kalau menurut pendapat saya, terjadi yang namanya patahan sejarah. Bagaimana tahun 97 itu tiba-tiba pemilu berikutnya 99,” jelasnya.

    Karena itu, menurut Budi Arie, kemungkinan tersebut bukan sesuatu yang mustahil.

    “Dan potensi ini bukan tak ada, sangat besar dengan keresahan masyarakat dan kondisi ekonomi saat ini yang betul-betul tidak membuat masyarakat happy,” tegas Budi Arie.

    (Arya/Fajar)

    Komentar
    Additional JS