Sosial Media
Opsi Update
0
Mensinkronisasi logo dan berita terbaru...
    Home Bencana Berita Featured Gempa Bumi Lintas Peristiwa NTT Spesial

    Cerita Warga NTT Bertahan Hidup di Tengah Gempa Susulan - Liputan6

    2 min read

     

    Warga beristirahat di bawah tenda di sebuah lapangan terbuka di Mbay, Nagekeo, Nusa Tenggara Timur, Senin, 17 Agustus 2026, (AFP/ Juni Kriswanto)

    Liputan6.com, Jakarta - Gempa bumi susulan masih menghantui warga di Nusa Tenggara Timur (NTT). Hingga Sabtu (29/8/2026) pukul 05.00 WIB, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat ada 9.488 gempa susulan.

    Di tengah rasa takut rumah roboh, warga tetap harus memikirkan cara mendapatkan penghasilan untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Hal itu dirasakan Rahmat Eko Mulyati (40), warga Labuan Bajo, Manggarai Barat, NTT.

    Sejak gempa mengguncang wilayah NTT pada Sabtu (15/8/2026), usaha ayam pedaging yang sebelumnya menjadi sumber penghasilan keluarganya ikut terdampak.

    Tidak ada lagi pelanggan yang datang membeli ayam. Penghasilan pun terhenti. Sementara kebutuhan keluarga tetap berjalan.

    "Anak kan tidak mau tahu orang tua tidak ada uang, mereka tetap minta uang jajan," kata Eko kepada Liputan6.com.

    Eko mengatakan keluarganya memang tidak mendapat bantuan pemerintah. Menurut dia, kondisi di Labuan Bajo berbeda dengan sejumlah wilayah lain seperti Reo, Manggarai, yang mengalami kerusakan bangunan lebih banyak.

    "Tapi kalau bicara korban, kami juga korban gempa," ucapnya.

    Meski rumahnya tidak ambruk, Eko dan keluarganya memilih mengungsi ke tenda darurat bersama tetangga. Mereka khawatir rumah sewaktu-waktu roboh akibat gempa susulan yang masih terjadi.

    Di tengah kondisi itu, Eko memilih kembali bekerja. Dia membuat keripik pisang dan singkong untuk dititipkan ke warung serta toko kue.

    "Kami mau makan dan minum apa. Akhirnya saya coba buat keripik pisang dan singkong, terus titip di warung atau toko kue. Alhamdulillah ada yang beli," kata dia.

    Eko membuat tiga varian keripik, yakni pisang cokelat, pisang original, dan singkong pedas manis. Keripik tersebut dijual dalam beberapa ukuran dengan harga mulai Rp 5 ribu hingga Rp 10 ribu.

    Eko menyebut, usaha kecil itu kini menjadi tumpuan keluarganya. Dua anaknya bersekolah di Ende dan setiap bulan membutuhkan uang jajan serta biaya sekolah lainnya.

    "Kalau saya tidak goreng keripik, kami tidak makan. Sementara anak saya dua orang sekolah di Ende. Setiap bulan mereka minta uang jajan dan kebutuhan sekolah lainnya."

    Namun, mencari nafkah di tengah gempa susulan bukan perkara mudah. Eko harus siap meninggalkan aktivitasnya setiap kali tanah kembali berguncang.

    "Kalau gempa datang, saya lari dulu lindungi diri. Kalau situasi aman, saya ke tempat penggorengan lagi. Begitu terus. Kadang lucu karena bolak balik lari saat gempa datang," ucapnya.

    Komentar
    Additional JS