Sosial Media
Opsi Update
0
Mensinkronisasi logo dan berita terbaru...
    Home Berita Featured HUT Kemerdekaan RI Spesial

    Di Balik Proklamasi Pegangsaan Timur 56, Ada Kisah Faradj Martak yang Jarang Dibahas - Pontianak Post

    6 min read

     

    Rumah Soekarno di Jalan Pegangsaan Timur 56 menjadi lokasi pembacaan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 1945. Rumah ini disebut juga ada kaitannya dengan Faradj Martak, pengusaha keturunan Yaman. (JAWA POS)

    PONTIANAK POST - Setiap kali membicarakan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, nama Jalan Pegangsaan Timur Nomor 56 di Jakarta hampir selalu disebut. Di tempat itulah, Jumat, 17 Agustus 1945, sekitar pukul 10.00, Soekarno membacakan teks Proklamasi didampingi Mohammad Hatta.

    Nomor 56 bukan sekadar alamat. Tempat itu menjadi salah satu titik paling penting dalam sejarah lahirnya Republik Indonesia. Namun, di balik lokasi yang begitu lekat dengan nama Soekarno-Hatta, muncul sebuah kisah tentang sosok lain bernama Faradj Martak.

    Catatan sejarah resmi menyebut Jalan Pegangsaan Timur Nomor 56 sebagai kediaman Soekarno. Ensiklopedia Sejarah Indonesia mencatat bahwa setelah perumusan naskah Proklamasi selesai dini hari 17 Agustus 1945, disepakati pembacaan Proklamasi dilakukan pukul 10.00 di halaman rumah Soekarno di Pegangsaan Timur 56.

    Pagi harinya, suasana di sekitar rumah itu semakin ramai. Rakyat berdatangan, sementara persiapan dilakukan untuk pembacaan Proklamasi dan pengibaran Sang Merah Putih. Sekitar 500 orang disebut berkumpul di depan beranda rumah Soekarno.

    Pada akhirnya, Soekarno didampingi Hatta keluar dari rumah. Setelah pembacaan teks Proklamasi, bendera Merah Putih dikibarkan. Momen tersebut kemudian dikenang sebagai salah satu tonggak terpenting dalam sejarah Indonesia.

    Nama Faradj Martak dan Sebuah Klaim yang Menarik Perhatian

    Dalam sebuah ceramah yang kemudian beredar melalui YouTube, Ustaz Adi Hidayat menyampaikan kisah berbeda mengenai latar belakang rumah yang digunakan dalam Proklamasi. Ia menyebut nama seorang pengusaha keturunan Yaman, Faradj Martak, disebut memiliki hubungan dengan rumah di kawasan Pegangsaan Timur tersebut.

    Menurut Ustaz Adi Hidayat, Faradj Martak disebut sebagai sosok yang memberikan atau mewakafkan rumah untuk kepentingan perjuangan kemerdekaan Indonesia. Kisah tersebut juga mengatakan  adanya hubungan antara Faradj Martak dan Soekarno menjelang Proklamasi.

    Cerita yang sama juga memuat kisah tentang Soekarno dalam kondisi kurang sehat setelah kembali dari rangkaian peristiwa menjelang Proklamasi. Faradj Martak disebut memberikan madu Yaman kepada Soekarno pada malam hari sehingga kondisi sang Proklamator mulai membaik keesokan harinya.

    Nomor 56 Tetap Menjadi Bagian Penting Sejarah

    Terlepas dari perdebatan mengenai status kepemilikan rumah tersebut, satu hal yang tidak terbantahkan adalah pentingnya Pegangsaan Timur 56 dalam sejarah Proklamasi. Di sanalah Soekarno membacakan pernyataan kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945.

    Kini, rumah tersebut sudah tidak berdiri. Kawasan bekas rumah Soekarno telah menjadi Taman Proklamasi dan alamat Pegangsaan Timur Nomor 56 juga berubah menjadi Jalan Proklamasi Nomor 56. 

    Sejarah memang tidak hanya dibentuk oleh tokoh yang berdiri di depan mikrofon. Di balik sebuah peristiwa besar, selalu ada banyak orang, tempat, keputusan, dan cerita yang saling berkelindan. Kisah Faradj Martak menjadi salah satu cerita yang menarik untuk terus ditelusuri melalui arsip dan penelitian sejarah.

    Sebab, ketika menyebut Proklamasi 17 Agustus 1945, bukan hanya nama Soekarno dan Hatta yang patut diingat. Ada pula tempat-tempat bersejarah seperti Pegangsaan Timur 56 yang menjadi saksi lahirnya Indonesia sebagai negara merdeka.

    Dan di balik alamat yang kini tinggal sejarah itu, muncul pertanyaan yang masih menarik untuk dikaji: siapa sebenarnya Faradj Martak dan sejauh mana perannya dalam perjalanan menuju Proklamasi? Pertanyaan tersebut menunjukkan bahwa sejarah Indonesia masih menyimpan banyak sisi yang perlu dibaca kembali secara kritis, berdasarkan arsip dan bukti yang dapat dipertanggungjawabkan.

    Komentar
    Additional JS