Sosial Media
Opsi Update
0
Mensinkronisasi logo dan berita terbaru...
    Home Berita Donald Trump Dunia Internasional Featured Iran Konflik Timur Tengah Spesial

    Trump Pakai "Senjata Lama" Lawan Iran, Teheran Pun Tahu Cara Bertahan - Kompas

    6 min read

     


    WASHINGTON DC, KOMPAS.com - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump kini beralih ke strategi perang ekonomi melalui pemberlakuan sanksi berat dan blokade angkatan laut untuk memaksa Iran tunduk.

    Kendati demikian, para penguasa di Teheran melancarkan skema pertahanan ekonomi yang teruji untuk menjaga fungsi dasar negara di tengah krisis yang berkepanjangan. 

    Langkah ini memberi ruang bagi kepemimpinan Iran untuk menunda pembicaraan diplomasi dengan Washington, sekaligus memperpanjang kebuntuan di Selat Hormuz.

    Analis menilai, Teheran secara bertahap mengalihkan struktur finansialnya menuju ekonomi bertahan hidup, seperti dikutip dari The Wall Street Journal, Selasa (11/8/2026). 

    Iran "Balas Budi" ke Rusia-China: Bantu Kuras Senjata AS, Trump Dibuat Berkeringat

    Kebijakan ini mencakup penjatahan pasokan barang langka, pembatasan akses mata uang asing, pemangkasan investasi publik, serta pengalihan beban ekonomi ke tingkat rumah tangga. 

    Baca juga: Iran Tahu Detail Kunjungan Trump di Turkiye, AS Diam-diam Ganti Pesawatnya

    Jika Iran mampu bertahan lebih lama dari yang diperkirakan Washington, mereka akan memiliki lebih sedikit alasan untuk melepaskan pengaruh atas Selat Hormuz, sehingga memperpanjang kebuntuan dan risiko pertempuran baru. 

    Semakin lama kebuntuan itu berlangsung, semakin besar tekanan yang kembali beralih ke Trump karena gangguan energi dan pengiriman barang membebani ekonomi global dan inflasi menjelang pemilihan paruh waktu.

    “Tekanan ini secara bertahap akan menggeser Iran dari ekonomi tangguh yang mampu menyerap guncangan, menuju ekonomi bertahan hidup yang tetap berfungsi tetapi secara perlahan kehilangan kapasitasnya untuk pulih,” kata peneliti non-residen di Quincy Institute dan mantan pejabat di Organisasi Jaminan Sosial Iran, Hadi Kahalzadeh. 

    “Represi dan struktur negara mempersulit penderitaan itu untuk diterjemahkan menjadi tekanan yang cukup kuat untuk mengubah keputusan keamanan nasional,” sambungnya.

    Baca juga: Parlemen Iran Siapkan RUU Selat Hormuz, Kapal Negara Musuh Dilarang Melintas

    Strategi berisiko AS

    Menteri Keuangan AS, Scott Bessent mengeklaim, kebijakan blokade ekonomi telah mendorong mata uang Iran ke jurang kehancuran dengan tingkat inflasi menembus angka tiga digit. 

    Dampak blokade laut AS menyebabkan ekspor minyak Iran di Pulau Kharg turun mendekati nol pada Juli lalu, serta mengikis cadangan minyak terapung Iran dari 180 juta barrel menjadi sekitar 60 juta barrel. 

    Selain itu, inflasi tahunan melambung di atas 80 persen, sementara Dana Moneter Internasional (IMF) memproyeksikan ekonomi Iran menyusut hingga 5,4 persen tahun ini.

    Baca juga: Pusing Serangan ke Iran Tak Mempan, Trump Beralih ke Senjata Lama

    Kendati demikian, masalah bagi pemerintahan Trump adalah bahwa membuat Iran lebih miskin lebih mudah daripada membuat kesulitan ekonomi mengubah keputusan para pemimpinnya. 

    Perombakan struktur kepemimpinan di Teheran baru-baru ini justru menunjukkan konsolidasi kekuatan kelompok garis keras veteran yang menggeser peran faksi teknokrat dan pragmatis. 

    Kepala Ekonom Pasar Negara Berkembang di Capital Economics, William Jackson menekankan, respons Iran terhadap tekanan ekonomi sangat bergantung pada politik internal rezim yang kini sepenuhnya dikendalikan faksi konservatif.

    Baca juga: Coba Terobos Blokade Iran, Kapal Kargo Dirudal Helikopter AS

    Skema bertahan hidup

    Ilustrasi Teheran, Iran

    Lihat Foto

    Untuk menopang perekonomian domestik, Iran menerapkan serangkaian instrumen darurat, seperti pemadaman listrik bergilir untuk industri, pencetakan uang demi menutupi gaji pegawai negeri, serta pengalihan jadwal kerja pabrik. 

    Teheran juga mengalokasikan subsidi mata uang asing hingga 3,5 miliar dollar AS untuk menjamin impor komoditas vital seperti gandum, obat-obatan, dan susu formula bayi. 

    Bagi masyarakat kurang mampu, pemerintah menyediakan skema pembelian bahan pokok berbasis kredit yang terintegrasi dengan program bantuan sosial tunai.

    Warga Iran juga terpaksa melakukan penyesuaian gaya hidup akibat kemerosotan nilai tukar dan lonjakan harga pangan. 

    Baca juga: Pengakuan Eks Kepala Mossad, Mata-mata Israel Kerap Kunjungi Situs Nuklir Iran

    Masyarakat mulai membatasi pengeluaran hanya untuk kebutuhan pokok harian, mengurangi konsumsi daging, serta menunda aktivitas rekreasi. 

    Namun, sejarah tidak memberikan jaminan bahwa keruntuhan ekonomi akan menghasilkan penyerahan politik. 

    Di Kuba, setelah revolusi 1959 dan di Venezuela dalam beberapa dekade terakhir, pemerintah tetap berkuasa meskipun terjadi keruntuhan ekonomi melalui represi dan patronase. 

    “Saya semakin melihat ini sebagai kontes kecepatan yang salah perhitungan,” ujar Kahalzadeh. 

    “Washington mungkin benar bahwa tekanan ekonomi yang berkepanjangan pada akhirnya akan membatasi Iran, dan Teheran mungkin benar bahwa konflik yang berkepanjangan akan menciptakan biaya politik yang semakin besar bagi Washington, tetapi kedua belah pihak mungkin salah tentang seberapa cepat tekanan tersebut akan menjadi penentu,” pungkasnya.

    KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

    Komentar
    Additional JS