Sosial Media
Opsi Update
0
Mensinkronisasi logo dan berita terbaru...
    Home Abu Vulkanik Bencana Berita BMKG Featured Gunung Anak Krakatau Gunung Meletus Lintas Peristiwa Spesial Yogyakarta

    Abu Vulkanik Anak Krakatau ke Barat, BMKG: Potensi Sampai Jogja Minim - IDN Times

    31 min read

     

    JOGJA Masuk/Daftar Masuk/Daftar For You Soccer Times Yuk Pilih ! Iklanin di IDN INSIDENESIA #LokalBerdaya Profil Dokter Quiz Join Community

    07 Sep 2026, 15:41 WIB

    Kota Yogyakarta

    It helps you see more of our articles when you search on Google

    Abu Vulkanik Anak Krakatau ke Barat, BMKG: Potensi Sampai Jogja Minim

    Visualisasi bahwa riwayat tsunami 2018 membuat Anak Krakatau tetap harus terus dipantau.(IDN Times/Foto : Ilustrasi)

    Intinya Sih

    • Citra satelit BMKG pukul 13.00 WIB menunjukkan abu Anak Krakatau bergerak ke barat; potensi mencapai Jawa Tengah dan DIY sangat kecil serta belum terdeteksi.
    • Sebaran abu masih berpotensi di sejumlah wilayah Sumatra, terutama Lampung Barat, sementara Jakarta dan sekitarnya mulai tidak masuk area sebaran.
    • BMKG mengimbau warga memantau kanal resmi BMKG atau PVMBG; partikel abu dapat menjadi inti kondensasi pembentuk awan jika uap air mencukupi.

    This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

    Yogyakarta, IDN Times - Sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau terpantau terus bergerak ke arah barat. Kondisi ini berpotensi abu vulkanik mencapai wilayah Jawa Tengah hingga Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) sangat minim.

    Prakirawan Stasiun Meteorologi Yogyakarta, Bhakti Wira Kusumah mengatakan, pergerakan sebaran abu vulkanik tersebut terpantau melalui citra satelit BMKG pada pukul 13.00 WIB. Sejumlah wilayah di Pulau Jawa tidak masuk area sebaran. Namun sisa partikel abu vulkanik masih perlu diwaspadai di wilayah yang sebelumnya terdampak, termasuk Jakarta dan sekitarnya.

    "Hanya sebagian Jawa Barat di bagian barat, lalu sebagian Banten, bahkan di sekitaran Jakarta ini sudah mulai tidak masuk wilayah sebaran ya untuk adanya debu vulkanik Gunung Krakatau," kata Bhakti saat dihubungi, Senin (7/9/2026).

    Sementara potensi sebaran debu vulkanik masih terdapat di sejumlah wilayah Sumatra, khususnya Lampung Barat. Namun, kondisi tersebut tidak terlihat di Jawa Tengah maupun DIY.

    1. 1. Potensi sebaran abu vulkanik ke DIY sangat kecil

      Abu vulkanik Gunung Anak Krakatau sampai Bekasi. (IDN Times/Imam Faishal)

      Abu vulkanik Gunung Anak Krakatau sampai Bekasi. (IDN Times/Imam Faishal)

      Bhakti mengatakan hingga pemantauan terbaru belum terdeteksi pengaruh debu vulkanik di Jawa Tengah dan DIY. Masyarakat di kedua wilayah tersebut memiliki potensi yang sangat kecil terdampak sebaran abu vulkanik.

      "Wilayah Jateng bahkan hingga DIY memang sampai saat ini belum terdeteksi dipengaruhi adanya debu vulkanik atau potensinya sangat kecil," katanya.

      Dengan arah pergerakan sebaran yang cenderung ke barat, masyarakat DIY tetap diminta tidak mengabaikan informasi terbaru. Pemantauan secara berkala diperlukan karena kondisi sebaran abu vulkanik dapat berubah mengikuti dinamika atmosfer.

    2. 2. Cek informasi dari sumber resmi

      Warga DIY juga diimbau tidak mudah percaya terhadap informasi mengenai sebaran abu vulkanik yang beredar. Informasi terbaru sebaiknya diperoleh dari kanal resmi BMKG maupun Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG).

      "Nah, di situ memang pihak masyarakat atau stakeholder lainnya bisa memantau citra sebaran abu vulkanik sehingga tidak termakan atau tidak mendapat informasi yang tidak valid dari debu vulkanik yang disebabkan oleh erupsi Gunung Anak Krakatau," imbaunya.

      Berdasarkan pantauan citra satelit pukul 13.00 WIB, Jakarta sudah tidak terdeteksi berada dalam wilayah sebaran debu vulkanik.

    3. 3. Abu vulkanik bisa picu pembentukan awan

      Selain keberadaannya mengganggu jarak pandang dan kualitas udara, abu vulkanik dapat berpengaruh terhadap kondisi atmosfer. Bhakti menjelaskan, partikel abu vulkanik dapat berperan sebagai inti kondensasi.

      "Untuk cuaca sendiri, memang abu atau debu vulkanik ini kan bisa menjadi inti kondensasi atau menjadi salah satu pendorong terbentuknya awan, meskipun tergantung dari uap-uap air yang ada di sekitar debu vulkanik tersebut," jelas Bhakti.

      Jika kandungan uap air di atmosfer mencukupi, keberadaan partikel tersebut dapat mendukung terbentuknya awan atau hujan. Namun pengaruhnya terhadap cuaca tidak selalu signifikan.

    Topics

    Editorial Team

    Febriana Sintasari

    • Puluhan Penerbangan di YIA Batal Imbas Erupsi Gunung Anak Krakatau

    • Eks Pengasuh Daycare Aresha Tak Tega Lihat Anak Disakiti, Pilih Resign

    • Mengenal Karakter Erupsi Efusif Gunung Merapi, Status Siaga Sejak 2020

    • Abu Vulkanik Anak Krakatau ke Barat, BMKG: Potensi Sampai Jogja Minim

    • Karhutla Terus Berulang, UGM Dorong Korporasi Pelanggar Dibubarkan

    • Dampak Penutupan Bandara Soetta, Penumpang KA Daop 6 Naik 12,5 Persen

    • BMKG: Cuaca DIY 7 September 2026 Berawan, Suhu hingga 32 Derajat

    •  Alternatif Penutupan Bandara Soetta, KAI Daop 6 Siapkan 2 KA Tambahan

    • Imbas Erupsi GAK, Calon Penumpang YIA Diminta Pantau Jadwal Penerbangan

    • 7 Penerbangan di Adisutjipto Batal Imbas Erupsi Gunung Anak Krakatau

    • 9 Penerbangan di YIA Dibatalkan Imbas Erupsi Gunung Anak Krakatau

    • DIY Didominasi Cuaca Berawan pada 6 September 2026

    • Kecelakaan di Bantul Januari-Agustus 2026, 116 Orang Meninggal

    • 8 SPBU di DIY Kena Sanksi Pertamina Sepanjang 2026, Ini Pelanggarannya

    • Gempa Cilacap Terasa di Jogja, 20 Perjalanan KA Sempat Berhenti

    • 5 Tips Jaga Paru-Paru dari Debu di Musim Kemarau, Jangan Diremehkan!

    • Cuaca Cerah Berawan Dominasi Wilayah DIY pada 4 September 2026

    • Satpol PP Cari Pria Rompi Jaga Warga Diduga Semprot Merica ke Wajah Sema UGM

    • Penumpang KA Bandara YIA Tembus 1,2 Juta, Naik 2,97 Persen

    • Dugaan Keracunan MBG di Sleman, 229 Orang Alami Keluhan Kesehatan

    Komentar
    Additional JS