Anak Karo Hilang Ingatan Seusai Santap MBG, Apa Kata Studi Medis? - Beritasatu

Jakarta, Beritasatu.com - Kasus Febiola Beru Purba (16), siswi SMK Bersama Berastagi, Kabupaten Karo, Sumatera Utara, menjadi perhatian banyak orang baru-baru ini setelah diduga mengalami gangguan ingatan usai menyantap menu makanan bergizi gratis (MBG) pada 13 Agustus 2026. Sebelumnya, Febiola dilaporkan mengalami pusing, muntah, kehilangan kesadaran, kemudian kejang dan gangguan bicara. Lantas, apa kata studi medis mengenai kondisi tersebut?
Ibu Febiola, Elvinus Lusiana Sitanggang, sebelumnya menjelaskan kondisi terkini anaknya. Ia mengatakan Febiola tidak mengenali sejumlah anggota keluarga dan teman sekolah yang sebelumnya dekat dengannya. "Hampir genap satu bulan sejak keracunan, pihak rumah sakit belum mengeluarkan hasil pemeriksaan medis yang dilakukan kepada Febiola," ujarnya.
Humas RSUP Haji Adam Malik Medan, Rosario Dorothy Simanjuntak, membenarkan Febiola merupakan pasien rawat jalan di rumah sakit tersebut. Menurut dia, Febiola telah dua kali menjalani pemeriksaan. "Betul, pasien dengan inisial FB usia 16 tahun saat ini sedang menjalani pengobatan rawat jalan di RS Adam Malik. Untuk kunjungan pertama itu sudah dilakukan oleh pasien sejak 31 Agustus 2026, kemudian 7 September, dan saat ini pasien ditangani oleh spesialis dokter anak," kata Rosa, Selasa (8/9/2026).
Kondisi yang dialami Febiola menimbulkan pertanyaan, apakah keracunan makanan memang dapat menyebabkan seseorang kehilangan ingatan? Sejumlah studi medis menunjukkan kondisi tersebut memang dapat terjadi dalam kasus keracunan tertentu.
Berdasarkan penelusuran Beritasatu.com, salah satu bukti medis paling kuat mengenai hubungan antara makanan dan gangguan memori berasal dari wabah amnesic shellfish poisoning (ASP) di Kanada pada 1987.
Wabah tersebut terjadi setelah masyarakat mengonsumsi remis yang tercemar domoic acid, yakni neurotoksin yang dihasilkan mikroalga laut dari genus Pseudo-nitzschia. Studi berjudul Neurologic Sequelae of Domoic Acid Intoxication Due to the Ingestion of Contaminated Mussels yang diterbitkan dalam New England Journal of Medicine pada 1990 meneliti dampak neurologis pada korban keracunan tersebut.
Penelitian yang ditulis Teitelbaum dan sejumlah peneliti lain itu menunjukkan keracunan domoic acid dapat menimbulkan gangguan neurologis, termasuk gangguan memori yang dapat bertahan setelah fase akut keracunan. Studi tersebut diterbitkan dalam New England Journal of Medicine, volume 322, halaman 1781–1787.
Kasus tersebut kemudian menjadi salah satu dasar penting dalam pemahaman medis mengenai amnesic shellfish poisoning. Gangguan memori terjadi karena domoic acid merupakan neurotoksin yang dapat menyebabkan kerusakan pada bagian otak yang berperan penting dalam proses pembentukan dan penyimpanan memori, terutama hipokampus.
Dengan kata lain, secara medis sudah terdapat bukti pada manusia mengenai toksin dari makanan yang dapat menyebabkan kerusakan neurologis dan gangguan memori.
Bagaimana racun makanan bisa menyerang memori?
Domoic acid bekerja sebagai zat yang dapat merangsang reseptor glutamat secara berlebihan. Kondisi tersebut dapat memicu excitotoxicity, yakni kerusakan sel saraf akibat rangsangan yang terlalu kuat.
Penelitian mengenai efek neurologis domoic acid juga menunjukkan adanya kerusakan pada wilayah otak yang berkaitan dengan fungsi memori. Karena itu, korban keracunan berat dapat mengalami kebingungan, kejang, gangguan kesadaran, hingga gangguan memori.
Sebuah tinjauan ilmiah yang diterbitkan di jurnal Toxins menjelaskan kasus keracunan domoic acid pada manusia sebagai salah satu contoh penyakit neurologis yang berasal dari toksin laut. Tinjauan tersebut juga merujuk pada penelitian New England Journal of Medicine mengenai korban yang mengalami gangguan neurologis setelah mengonsumsi remis tercemar.
Indonesia juga pernah meneliti domoic acid
Fenomena domoic acid juga telah menjadi objek penelitian di Indonesia. Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Harmful Algae pada 2019 berjudul First record of the dynamics of domoic acid producing Pseudo-nitzschia spp. in Indonesian waters as a function of environmental variability meneliti keberadaan Pseudo-nitzschia yang berpotensi menghasilkan domoic acid di perairan Indonesia.
Penelitian tersebut menjadi catatan penting karena menunjukkan keberadaan organisme penghasil domoic acid di perairan Indonesia. Studi itu tidak berarti setiap kerang atau ikan di Indonesia mengandung toksin tersebut, tetapi menunjukkan toksin tersebut memang relevan untuk dikaji dalam konteks perairan Indonesia.
Jadi, kasus Febiola sebenarnya memiliki perbedaan penting dengan wabah amnesic shellfish poisoning di Kanada. Makanan yang dilaporkan dikonsumsi Febiola adalah menu MBG dengan lauk ikan tongkol. Sementara itu, kasus domoic acid yang telah terbukti menyebabkan gangguan memori berkaitan dengan konsumsi kerang-kerangan yang terkontaminasi toksin tersebut.
Ikan tongkol sendiri termasuk kelompok ikan yang dapat mengalami keracunan histamin atau scombroid fish poisoning jika penanganan dan penyimpanannya tidak tepat. Namun, keracunan histamin memiliki pola gejala yang berbeda. Kondisi tersebut umumnya menimbulkan kemerahan pada kulit, rasa panas, sakit kepala, mual, muntah, diare, jantung berdebar, dan gejala lain yang muncul relatif cepat setelah mengonsumsi ikan yang mengandung histamin tinggi.
Karena itu, keberadaan ikan tongkol dalam menu MBG tidak cukup untuk menyimpulkan gangguan ingatan Febiola disebabkan histamin. Masih diperlukan pemeriksaan toksikologi terhadap Fabiola pasien maupun sampel makanan untuk memastikan kondisi sebenarnya.