Anak Krakatau Kembali Tumbuh, 2 Pulau Baru Muncul Sejajar dengan Kawah - Kompas
KOMPAS.com - Gunung Anak Krakatau kembali memasuki fase baru setelah sebagian tubuhnya runtuh dan memicu tsunami mematikan di Selat Sunda pada Desember 2018.
Jika keruntuhan tersebut mengubah bentuk gunung api muda itu, kini Anak Krakatau justru kembali membangun tubuhnya. Namun, pertumbuhannya tidak berlangsung secara biasa.
Menurut Antara News, Kamis (24/9/2026), peneliti Pusat Riset Kebencanaan Geologi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengungkapkan, Anak Krakatau sedang menjalani babak baru pertumbuhan setelah fase keruntuhan.
Baca juga: Curah Hujan 94 MM yang Mengubah Solok: Banjir Bandang Makan Korban
“Sejarah erupsi Anak Krakatau menunjukkan bahwa gunung api ini berkembang melalui siklus pertumbuhan, erupsi, keruntuhan, dan pembangunan kembali,” kata Peneliti BRIN, Dini Nurfiani, Senin (21/9/2026).
Kehidupan Warga Sebesi Pascaerupsi Gunung Anak Krakatau
Siklus tersebut menjadi bagian dari perkembangan Anak Krakatau. Setelah tumbuh perlahan sejak kemunculannya pada akhir 1920-an, gunung api ini berkembang dengan bentuk yang tidak simetris.
Sektor barat daya berdiri di atas lereng kaldera 1883 yang curam, sementara timur laut berada di dasar yang lebih dangkal. Perbedaan inilah yang membuat tubuhnya tidak stabil hingga akhirnya kolaps pada 2018.
Kini, data terbaru dari Badan Geologi Kementerian ESDM mengonfirmasi pertumbuhannya kembali berlangsung lebih cepat.
Baca juga: Daratan Baru Seluas 30,3 Hektar Muncul di Dekat Anak Krakatau, Membentuk Gunung Api Baru?
Erupsi 25 jam yang menambah daratan seluas 32,8 hektare
Berdasarkan Laporan Khusus Badan Geologi Kamis (24/9/2026), Anak Krakatau yang dipantau dari Pos PGA Kalianda, Lampung, dan Pasauran, Banten, sempat naik status menjadi Level III (Siaga) sejak Kamis (2/7/2026)
Seri erupsi tipe Strombolian dengan lontaran batu pijar dan abu vulkanik terus berlangsung hingga 3 September 2026.
Puncaknya, terjadi erupsi menerus pada 4 September 2026 pukul 23.07 WIB selama 25 jam hingga Minggu (6/9/2026) pukul 00.04 WIB. Erupsi panjang ini mengalirkan lava ke sektor barat, barat laut, dan barat daya.
Hasil analisis Citra Satelit Sentinel pada Selasa (15/9/2026), yang dilampirkan Badan Geologi, menunjukkan perluasan tubuh Gunung Anak Krakatau sebesar 32,8 hektare.
Karena aktivitas menurun setelah erupsi menerus tersebut, statusnya kemudian diturunkan dari Level III (Siaga) menjadi Level II (Waspada) pada Senin (21/9/2026) pukul 18.30 WIB.
Baca juga: Benarkah Letusan Krakatau 1883 Memisahkan Pulau Jawa dan Sumatera? Ini Kata Ahli
Muncul dua pulau baru, sejajar lurus dengan kawah utama
Dalam keterangan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) saat dihubungi Kompas.com, Kamis (24/9/2026), fenomena paling menarik terjadi sehari setelah penurunan status.
Berdasarkan informasi pelaut dan relawan yang melakukan pelayaran dan pemotretan pada Selasa (22/9/2026), terlihat penampakan pulau baru di dua sektor berbeda.
Badan Geologi mencatat, pulau pertama berada di sektor barat laut, sekitar 760 meter dari pesisir tubuh Anak Krakatau sisi barat laut, dan pulau kedua di sektor tenggara, sekitar 495 meter dari pesisir sisi tenggara.
Baca juga: Gunung Semeru Meletus 9 Kali Pagi Ini, Masyarakat Diminta Waspada
Yang membuat peneliti penasaran, jika ditarik garis lurus, kedua pulau tersebut membentuk kelurusan berarah barat laut, tenggara, dengan kawah Gunung Anak Krakatau berada tepat di antaranya.
Kemunculan kedua pulau baru ini juga terekam pada Citra Sentinel pada Rabu (23/9/2026) sebagai segitiga merah kecil di sekitar Anak Krakatau.
Kepala PVMBG, Dr. Siti Sumilah Rita Susilawati, menyebut interpretasi sementara magma encer keluar melalui jalur bukaan yang memanjang dari barat laut ke tenggara.
Baca juga: PVMBG Ungkap Pertumbuhan Pesat Gunung Anak Krakatau, Pastikan Risiko Runtuhan Masih Rendah
"Tapi sekali lagi ini masih dugaan, apakah kedua pulau tersebut merupakan pusat erupsi baru atau bukan, masih memerlukan data terbaru, analisis serta kajian lebih lanjut," tulis Badan Geologi dalam laporannya.
BRIN menambahkan, perubahan ini berkaitan dengan evolusi magma.
Saat ini magma Anak Krakatau bersifat lebih basaltik, lebih panas, dan tersimpan lebih dalam, yakni 7,4 - 26,6 kilometer, dibandingkan Old dan Young Krakatau yang hanya 0,6 - 3,4 kilometer.
Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.