Sosial Media
0
Mensinkronisasi logo dan berita terbaru...
    Home Berita Featured Keuangan SPESIAL

    Asing Terus Membuang Saham, Net Sell Tembus Rp 77 Triliun - Investor

    8 min read


    Seorang investor melihat smartphone miliknya untuk memantau IHSG yang sedang memasuki zona hijau di Main Hall Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta. Foto: Investortrust/Dicki Antariksa.

    JAKARTA, Investortrust—Tekanan jual investor asing terus membayangi pasar saham Indonesia. Hingga perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jumat (25/9/2026), penjualan bersih atau net sell asing sepanjang tahun berjalan mencapai Rp77,52 triliun. Pada saat bersamaan, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) telah kehilangan 27,81% nilainya sejak akhir 2025, menempatkan bursa Indonesia di posisi terbawah di antara indeks dunia dunia.

    Berdasarkan IDX Daily Statistics edisi 25 September 2026, investor asing membukukan penjualan bersih Rp559,16 miliar pada perdagangan Jumat. IHSG ditutup turun 56,715 poin atau 0,90% menjadi 6.241,892 dari posisi sebelumnya 6.298,607. Indeks sempat menyentuh level tertinggi 6.328,413, tetapi berbalik melemah hingga mencapai titik terendah 6.231,833 sebelum penutupan.

    Pelemahan meluas ke seluruh 11 indeks sektoral BEI. Tekanan juga menjangkau saham-saham berkapitalisasi besar, saham likuid, kelompok saham syariah, hingga saham perusahaan kecil dan menengah. Meski demikian, penurunan yang luas tersebut tidak berarti seluruh saham individual maupun seluruh indeks BEI bergerak turun tanpa pengecualian.

    Akumulasi net sell Rp77,52 triliun menunjukkan bahwa nilai penjualan saham oleh investor asing sejak awal tahun melampaui nilai pembeliannya sebesar angka tersebut. Angka ini bukan total penjualan kotor asing, sebab dalam periode yang sama investor asing tetap melakukan pembelian saham.

    Sebaliknya, net buy atau pembelian bersih terjadi ketika nilai pembelian investor melampaui penjualannya. Sebagai ilustrasi, apabila asing membeli saham Rp3 triliun dan menjual Rp3,5 triliun, posisi akhirnya adalah net sell Rp500 miliar. Jika pembeliannya Rp3,5 triliun dan penjualannya Rp3 triliun, hasilnya adalah net buy Rp500 miliar.

    Dalam cakupan transaksi yang sama, penjualan bersih asing berpasangan dengan pembelian bersih investor domestik. Artinya, saham yang dilepas asing secara neto berpindah kepada investor dalam negeri. Namun, kemampuan domestik menyerap penjualan itu tidak otomatis membuat harga bertahan, karena transaksi tetap dapat berlangsung pada harga yang semakin rendah.

    Penjualan bersih saham juga tidak serta-merta berarti seluruh dananya langsung keluar dari Indonesia. Hasil penjualan dapat ditahan dalam rekening, dipindahkan ke instrumen investasi lain, atau dikonversi ke valuta asing. Karena itu, angka net sell saham harus dibedakan dari keseluruhan arus modal keluar dari perekonomian.

    Besarnya peran asing terlihat dari data kepemilikan saham. Berdasarkan tabel Nilai Saham di Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI), pada akhir Agustus 2026 nilai saham milik investor asing mencapai Rp2.949,49 triliun, sedangkan milik investor lokal Rp4.385,28 triliun. Dari total Rp7.334,77 triliun dalam tabel tersebut, porsi asing sekitar 40,21% dan domestik 59,79%. (web.ksei.co.id⁠)

    Persentase itu mengacu pada nilai saham dalam pencatatan KSEI, bukan persentase jumlah investor, jumlah lembar saham, ataupun kepemilikan langsung atas perusahaan pengelola BEI. Cakupannya juga tidak boleh langsung disamakan dengan seluruh kapitalisasi pasar BEI. Selain berbeda cakupan, data kepemilikan tersebut berposisi akhir Agustus, sedangkan statistik perdagangan yang dibahas berposisi 25 September.

    Porsi sekitar dua perlima tersebut menjelaskan mengapa perubahan strategi investor asing tetap penting bagi pasar. Namun, penurunan nilai portofolio asing tidak seluruhnya berasal dari penjualan saham. Perubahan harga pasar turut mengubah nilai kepemilikan, meskipun jumlah saham yang dipegang tidak berubah.

    Di tingkat global, posisi IHSG terlihat tertinggal. Dalam tabel perbandingan BEI, IHSG menempati peringkat keenam di ASEAN, ke-13 di Asia Pasifik, dan ke-35 dalam kelompok indeks dunia yang ditampilkan. Penurunan 27,81% sejak awal tahun merupakan yang terdalam dalam kelompok pembanding tersebut. Dengan demikian, penyebutan “terburuk di dunia” perlu ditempatkan dalam cakupan indeks yang dipantau BEI, bukan seluruh bursa dan seluruh indeks yang ada.

    Kontrasnya terlihat di kawasan ASEAN. Indeks Thailand meningkat 27,73% sejak awal tahun, Singapura naik 22,92%, dan Vietnam menguat 1,44%. Malaysia melemah 0,51% dan Filipina turun 3,75%, jauh lebih terbatas dibandingkan koreksi IHSG.

    Di Asia Pasifik, KOSPI Korea Selatan melonjak 68,03%, indeks Taiwan naik 65,81%, dan Nikkei 225 Jepang meningkat 31,83%. Bahkan Sensex India yang melemah 13,33% masih mencatat koreksi kurang dari separuh penurunan IHSG. Perbandingan ini menggunakan angka dalam publikasi BEI, yang mengumpulkan data indeks dunia pada pukul 16.00 WIB, sehingga tidak seluruhnya merupakan posisi penutupan perdagangan pada tanggal yang sama.

    Tekanan di dalam negeri juga tercermin pada indeks saham unggulan. LQ45 turun 0,35% pada Jumat dan telah melemah 26,63% sejak awal tahun. IDX30 terkoreksi 0,32% secara harian dan 21,29% sepanjang tahun berjalan. Sementara itu, IDX80 turun 0,57% pada hari tersebut, dengan penurunan kumulatif 29,90%.

    KOMPAS100 telah merosot 31,90% sejak awal tahun, Pefindo I-Grade turun 32,13%, dan Investor33 melemah 21,02%. Di kelompok syariah, Jakarta Islamic Index atau JII mencatat penurunan 35,61%, JII70 turun 31,71%, dan Indeks Saham Syariah Indonesia atau ISSI melemah 30,25%.

    Meski mayoritas indeks berada di zona merah, terdapat pengecualian. IDX-PEFINDO Prime Bank menguat 0,21% pada Jumat, sedangkan IDX High Dividend 20 tercatat berubah 0,00% pada pembulatan dua desimal. Dalam perhitungan sejak awal tahun, Indeks Papan Akselerasi masih naik 24,53%, meskipun pada Jumat turun tajam 3,77%.

    Untuk indeks sektoral, pelemahan memang menyeluruh, baik secara harian maupun sejak awal tahun. Pada Jumat, sektor perindustrian mencatat penurunan terdalam sebesar 2,52%, disusul infrastruktur 2,22%, transportasi dan logistik 1,84%, serta teknologi 1,73%. Sektor barang konsumen primer turun 1,37%, properti dan real estat 1,26%, energi 1,18%, serta barang konsumen nonprimer 1,03%. Bahan baku melemah 0,97%, kesehatan 0,77%, dan keuangan 0,45%.

    Secara kumulatif, properti dan real estat menjadi sektor dengan koreksi terbesar, yakni 34,61%, diikuti infrastruktur 34,27%, teknologi 31,38%, dan kesehatan 30,45%. Energi turun 28,88%, perindustrian 25,28%, serta barang konsumen nonprimer 22,76%. Bahkan sektor transportasi dan logistik yang mencatat penurunan paling terbatas tetap terkoreksi 11,27%.

    Penurunan indeks sektoral tersebut menggambarkan pelemahan kelompok saham secara agregat. Sejumlah saham individual tetap menguat. Pada Jumat, misalnya, BBCA naik 0,40%, BBRI 0,32%, dan BMRI 0,25%. Saham MBTO bahkan melonjak 34,64%, sedangkan SHID meningkat 24,83%. Perbedaan arah ini menunjukkan bahwa pasar tetap melakukan seleksi di tengah tekanan yang luas.

    Kapitalisasi pasar seluruh saham di BEI pada akhir perdagangan mencapai Rp10.905 triliun. Sepuluh saham terbesar berdasarkan kapitalisasi pasar menguasai sekitar Rp3.909 triliun, atau kurang lebih 35,85% dari total tersebut, berdasarkan penjumlahan angka yang dibulatkan dalam publikasi BEI.

    Peringkat kapitalisasi saham:

    1 . BBCA dengan kapitalisasi Rp763 triliun dan porsi terhadap total di BEI 6,99%

    2. BBRI dengan kapitalisasi

    Rp473 triliun dan porsi terhadap total di BEI 4,33%.

    3. DCII dengan kapitalisasi Rp472 triliun dan porsi terhadap total di BEI 4,33%.

    4. BREN dengan kapitalisasi Rp408 triliun dan porsi terhadap total di BEI 3,74%.

    5. BYAN dengan kapitalisasiRp403 triliun dan porsi terhadap total di BEI

    3,70%.

    6. BMRI dengan kapitalisasi Rp377 triliun dan porsi terhadap total di BEI

    3,46%.

    7. AMMN dengan kapitalisasi

    Rp342 triliun dan porsi terhadap total di BEI 3,14%.

    8. TLKM dengan kapitalisasi Rp239 triliun dan porsi terhadap total di BEI

    2,19%.

    9. MORA dengan kapitalisasi Rp229 triliun dan porsi terhadap total di BEI

    2,10%!

    10. DSSA dengan kapitalisasi Rp203 triliun dan porsi terhadap total di BEI

    1,86%.

    Sumber: IDX Daily Statistics, 25 September 2026. Kapitalisasi pasar dibulatkan mengikuti publikasi BEI.

    BBCA tetap menjadi saham dengan kapitalisasi pasar terbesar, diikuti BBRI dan DCII yang nilainya hampir berimbang. Besarnya kapitalisasi 10 saham tersebut memperlihatkan konsentrasi nilai pasar pada sejumlah emiten. Namun, porsi kapitalisasi pasar penuh tidak identik dengan bobot saham dalam IHSG karena perhitungan indeks memperhitungkan penyesuaian saham beredar bebas atau free float.

    Publikasi BEI mencatat kapitalisasi IHSG setelah penyesuaian free float sebesar Rp2.719 triliun. Angka ini memiliki fungsi penghitungan indeks dan tidak dapat diartikan sebagai nilai kepemilikan asing ataupun jumlah dana tunai yang tersedia untuk membeli saham.

    Dari sisi kontribusi terhadap penurunan IHSG sepanjang tahun, DSSA menjadi pemberat terbesar dengan kontribusi negatif 264,28 poin, diikuti BREN sebesar 245,92 poin dan BBCA sebesar 176,37 poin. Harga ketiganya masing-masing telah turun 73,89%, 68,56%, dan 22,60%.

    Tekanan juga datang dari TLKM yang mengurangi IHSG sebesar 112,72 poin, TPIA 107,60 poin, FILM 105,02 poin, serta BRPT 100,67 poin. Data ini menunjukkan bahwa besarnya pengaruh sebuah saham terhadap indeks ditentukan oleh kombinasi perubahan harga dan bobotnya, bukan hanya persentase penurunannya.

    Aktivitas transaksi Jumat juga berada di bawah rata-rata sepanjang tahun. Nilai perdagangan saham mencapai Rp9,53 triliun, sekitar 54,59% lebih rendah daripada rata-rata harian tahun berjalan sebesar Rp20,98 triliun. Sebanyak 26,31 miliar saham berpindah tangan melalui sekitar 1,58 juta transaksi.

    BBCA menjadi saham dengan nilai transaksi terbesar, yakni Rp669 miliar, diikuti TLKM Rp425 miliar, DSSA Rp333 miliar, BMRI Rp291 miliar, dan BUMI Rp283 miliar. Daftar saham teraktif tersebut menggambarkan besarnya aktivitas perdagangan, tetapi tidak dengan sendirinya menunjukkan saham mana yang paling banyak dijual asing secara bersih.

    Dari sisi valuasi, BEI mencatat rasio harga terhadap laba atau price to earnings ratio pasar sebesar 12,69 kali dan rasio harga terhadap nilai buku atau price to book value sebesar 1,65 kali. Angka tersebut perlu dibaca bersama prospek laba, kualitas aset, dan risiko masing-masing perusahaan. Valuasi yang menurun belum cukup untuk memastikan harga saham segera berbalik naik.

    Statistik harian ini memperlihatkan tekanan jual asing, koreksi indeks, serta penurunan aktivitas perdagangan, tetapi belum membuktikan penyebab utama keputusan investor menjual saham.

    Dengan penjualan bersih asing mencapai Rp77,52 triliun dan seluruh indeks sektoral melemah sejak awal tahun, tantangan pasar saham Indonesia adalah memulihkan permintaan yang berkelanjutan. Pembelian investor domestik telah menyerap pelepasan saham asing secara neto, tetapi sejauh ini belum cukup untuk menahan penurunan IHSG. Pemulihan yang lebih kuat memerlukan perbaikan ekspektasi laba, keyakinan terhadap tata kelola pasar, dan kepastian kebijakan yang mampu mengembalikan minat investasi.

    Komentar
    Additional JS