Astronom Temukan Fenomena Aneh Awan Segi 10 Raksasa di Kutub Selatan Saturnus - Media Indonesia

PARA astronom menemukan pola awan raksasa berkonfigurasi segi 10 (dekagon) misterius yang baru terbentuk di sekitar kutub selatan Saturnus. Struktur baru ini menyamai keberadaan pola segi enam (heksagon) raksasa yang telah diamati selama puluhan tahun di kutub utara planet bercincin tersebut.
Pola heksagon di utara Saturnus, dengan lebar sekitar 32.000 kilometer, pertama kali ditemukan pada 1988 melalui data penerbangan wahana Voyager milik NASA. Namun kini, para ilmuwan menemukan struktur yang jauh lebih besar di kutub selatan. Dekagon yang baru terdeteksi ini memiliki lebar sekitar 167.820 kilometer, dengan masing-masing dari 10 sisinya membentang sepanjang 16.782 kilometer.
"Ini adalah fenomena atmosfer yang sangat tidak biasa dan membantu kita memajukan pemahaman tentang meteorologi secara umum," ungkap penulis utama studi, Agustin Sanchez-Lavega, seorang ilmuwan planet dari University of the Basque Country di Bilbao, Spanyol. "Fenomena ini memberi tahu kita bahwa heksagon bukanlah fitur tunggal yang unik seperti yang diperkirakan sebelumnya."
Terkuak Lewat Potret Teleskop Hubble
Penemuan ini terungkap berkat analisis gambar terbaru dari Teleskop Luar Angkasa Hubble milik NASA. Karena kemiringan poros Saturnus, belahan bumi selatan planet tersebut tidak terlihat dari Bumi selama periode 2012 hingga 2023. Begitu citra Hubble tahun 2023 dianalisis, keberadaan dekagon tersebut baru terlihat untuk pertama kalinya.
"Ini tentu saja mengejutkan," kata Sanchez-Lavega. Ia menyebutkan bahwa sejak heksagon ditemukan di utara, ia dan koleganya rutin memeriksa foto-foto Saturnus "untuk melihat apakah ada formasi poligonal di selatan. Dan sebelumnya tidak ada tanda-tandanya."
Struktur dekagon ini bergerak sangat lambat, membutuhkan waktu sekitar 800 hari untuk menyelesaikan satu kali rotasi mengelilingi Saturnus.
Simulasi komputer menunjukkan dekagon terbentuk akibat gelombang berkelok yang terperangkap oleh arus jet atmosfer yang melengkung. Berbeda dengan heksagon yang tingkat kegelapan sisinya konstan, dekagon memiliki tingkat kegelapan yang bervariasi, mengindikasikan struktur ini masih terus berkembang.
"Kami perlu memahami bagaimana dekagon ini berkembang, dengan kata lain, apakah dalam beberapa tahun ke depan ia akan menjadi tidak stabil dan hancur, atau sebaliknya, menjadi lebih stabil dan kuat seiring meningkatnya radiasi matahari, yang akan mencapai puncaknya di garis lintang sekitar 60 derajat selatan pada tahun 2032," jelas Sanchez-Lavega.
Temuan mendalam para peneliti mengenai fenomena ini telah diterbitkan dalam jurnal Science Advances. (Space/Z-2)