Sosial Media
0
Mensinkronisasi logo dan berita terbaru...
    Home Badan Gizi Nasional Berita Featured Kasus Keracunan Kesehatan Makan Bergizi Gratis Spesial SPPG

    BGN Regional DIY Pecat Satu Pegawai SPPG yang Mengolok-olok Korban Diduga Keracunan MBG di Medan - Kompas

    5 min read

     

    YOGYAKARTA, KOMPAS.com - Badan Gizi Nasional (BGN) Regional Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) pecat pegawai Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Kaupaten Bantul karena mengolok-olok korban dugaan keracunan Program Makan Bergizi Gartis (MBG) di Karo, Medan.

    Koordinator Regional BGN DIY, Wirandita Gagat Widyatmoko, menyampaikan bahwa keputusan tersebut merupakan bagian dari upaya menjaga standar perilaku, etika, dan profesionalitas seluruh jajaran dalam penyelenggaraan Program MBG.

    “Kami menyayangkan adanya pernyataan tersebut. Setelah dilakukan penanganan sesuai ketentuan, yang bersangkutan telah diberhentikan."

    Baca juga: Pegawai SPPG Bantul Diduga Ejek Korban Keracunan MBG Karo, BGN DIY: Seharusnya Empati

    "Ini menjadi pelajaran bagi seluruh jajaran bahwa bekerja dalam Program MBG tidak hanya dituntut memiliki kemampuan teknis, tetapi juga memiliki etika, empati, sensitivitas, dan tanggung jawab dalam berkomunikasi,” ujar Gagat melalui keterangannya, Senin (21/9/2026).

    Gibran Sentil Pegawai SPPG yang Ejek Korban Keracunan MBG di Karo

    Gagat mengatakan setiap kejadian yang berkaitan dengan keamanan pangan harus menjadi perhatian bersama. 

    Menurut dia, ketika terdapat masyarakat atau penerima manfaat yang diduga terdampak, seluruh jajaran harus mengedepankan rasa kemanusiaan, empati, serta sikap saling menghormati, bukan menjadikan kejadian tersebut bahan candaan ataupun olok-olok.

    Ia juga mengingatkan seluruh jajaran SPPG untuk berhati-hati dalam menggunakan media sosial maupun menyampaikan pernyataan di ruang publik.

    Setiap pernyataan yang disampaikan oleh personel SPPG dapat memengaruhi persepsi masyarakat terhadap penyelenggaraan Program MBG secara keseluruhan.

    “Kita harus memahami sensitivitas persoalan yang sedang dihadapi masyarakat. Jangan sampai persoalan yang seharusnya menjadi pembelajaran bersama justru dikomentari dengan cara yang tidak tepat." 

    "Empati dan saling menghormati harus menjadi bagian dari budaya kerja kita,” ungkapnya.

    Baca juga: Viral Video Pegawai SPPG Olok-olok Korban Dugaan Keracunan MBG, BGN DIY Berikan Teguran

    Fokus tingkatkan kualitas pelayanan

    Gagat pun mengarahkan seluruh jajaran BGN Regional DIY untuk tidak terjebak dalam polemik, tetapi menjadikan persoalan tersebut sebagai momentum untuk memperbaiki diri dan meningkatkan kualitas pelayanan.

    Menurutnya, perhatian masyarakat terhadap Program MBG saat ini semakin besar.

    Karena itu, seluruh SPPG harus menjawab perhatian tersebut melalui kinerja, kedisiplinan, keamanan pangan, kualitas makanan, pelayanan, dan komunikasi yang baik.

    “Kami mengarahkan seluruh jajaran untuk fokus bekerja. Tingkatkan kualitas pelayanan, pastikan keamanan pangan, laksanakan SOP, perkuat pengawasan, dan berikan pelayanan terbaik kepada penerima manfaat."

    "Saat ini masyarakat memberikan perhatian yang besar terhadap Program MBG, maka jawab perhatian tersebut dengan kinerja yang semakin baik,” ujarnya.

    BGN secara nasional juga terus memperkuat tata kelola SPPG dan menempatkan kepatuhan terhadap SOP sebagai perhatian utama dalam menjaga keamanan pangan. 

    BGN juga telah mengambil langkah tegas terhadap SPPG maupun personel ketika ditemukan persoalan yang memerlukan penindakan, termasuk suspend operasional dan pencopotan kepala SPPG dalam kasus tertentu. 

    Baca juga: Buntut 77 Penerima MBG Keracunan, BGN Suspend Operasional SPPG Karangan Trenggalek

    Menjadi pelajaran bagi seluruh jajaran

    Ia menegaskan bahwa kejadian tersebut harus menjadi pelajaran bersama, bukan sekadar persoalan terhadap individu.

    Seluruh unsur SPPG, mulai dari Korwil, Korcam, Kepala SPPG, Pengawas Gizi, Pengawas Keuangan, hingga seluruh personel, diminta untuk menjaga integritas, profesionalitas, etika, serta komunikasi dalam menjalankan tugas.

    “Jangan sampai satu perilaku menghapus kerja baik banyak orang. Mari kita jadikan ini pelajaran."

    "Bekerja dengan benar, berkomunikasi dengan baik, dan tetap memiliki empati. Kita hadir untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat, bukan untuk merendahkan pihak lain,” ungkapnya.

    Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.

    Komentar
    Additional JS