Cegah Karhutla Meluas, Pakar Hukum Kehutanan: Kolaborasi Semua Stakeholder Penting - SindoNews
Makin mudah baca berita nasional dan internasional.
Jum'at, 04 September 2026 - 08:44 WIB

Ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di tengah fenomena El Nino ekstrem membutuhkan keterlibatan seluruh pihak. Foto/SindoNews
A A A
JAKARTA - Ancaman kebakaran hutan dan lahan ( karhutla ) di tengah fenomena El Nino ekstrem membutuhkan keterlibatan seluruh pihak. Upaya mencegah dan menanggulangi kebakaran tidak dapat hanya dibebankan kepada pemerintah maupun perusahaan pemegang konsesi, tetapi harus dilakukan melalui kerja sama dan semangat gotong royong.
Pakar Hukum Kehutanan Universitas Al-Azhar Indonesia Sadino mengatakan, kondisi El Nino berpotensi membuat dampak kebakaran menjadi lebih besar dengan durasi yang lebih panjang. Karena itu, penanganannya membutuhkan kesiapan sumber daya, sarana dan biaya yang tidak sedikit.
“Kalau dilihat dari kondisi El Nino memang ada potensi ke sana, dampaknya lebih besar dengan waktu yang lebih panjang. Tentu memerlukan biaya besar, maka diperlukan kerja sama semua pihak,” ujar Sadino, Jumat (4/9/2026).
Baca juga: 118 Titik Panas Terdeteksi di Kalteng dan Kalbar, Karhutla Tembus 1.267 Hektare
Menurutnya, kebakaran merupakan musibah sekaligus ujian yang dapat terjadi di berbagai wilayah dan tidak mengenal status penguasaan lahan. Bahkan, kawasan hutan negara seperti taman nasional juga tidak terlepas dari ancaman kebakaran. “Api tidak bisa membedakan penguasaan lahan,” katanya.
Karena itu, Sadino mengingatkan agar penanganan karhutla dilakukan secara hati-hati dan tidak langsung menggeneralisasi bahwa setiap kebakaran disebabkan oleh perusahaan atau kelompok tertentu. Penyebab kebakaran perlu dibuktikan berdasarkan fakta di lapangan.
Ia menilai sebagian besar pihak tentu tidak menghendaki terjadinya kebakaran. Namun, apabila ditemukan adanya pembakaran yang disengaja dan memiliki motif tertentu, hal tersebut menjadi ranah aparat penegak hukum untuk membuktikannya.
Sadino juga menekankan pentingnya penelusuran fire origin atau asal mula api dalam proses investigasi kebakaran. Penentuan titik awal kebakaran dapat membantu mengetahui dari mana api pertama kali muncul, tetapi belum otomatis menunjukkan siapa yang menyalakan api atau pihak yang harus bertanggung jawab. “Fire origin secara satelit mungkin diketahui, tetapi secara faktual sulit dilacak asal-usul apinya,” ujarnya.
Lihat video: API MEREMBET KE PERMUKIMAN! Karhutla Hanguskan Rumah Warga, Kepanikan Pecah!
Menurut dia, persoalan menjadi lebih kompleks karena masih terdapat kawasan hutan dan lahan yang bersifat open access atau tidak terjaga secara optimal. Karena itu, lokasi kebakaran, titik awal api, sumber api dan pihak yang bertanggung jawab harus dibedakan dalam proses investigasi. Pendekatan berbasis fakta tersebut diperlukan agar penanganan karhutla tidak berubah menjadi saling tuding antarpihak.
Dalam menghadapi El Nino ekstrem, Sadino menilai kolaborasi harus menjadi pendekatan utama, terutama dalam upaya pemadaman dan mencegah api meluas.
Menurutnya, sarana dan prasarana yang dimiliki perusahaan dapat dioptimalkan untuk membantu penanganan kebakaran. Pada saat yang sama, pemerintah pusat dan pemerintah daerah dapat mengerahkan sumber daya manusia serta kemampuan yang dimiliki untuk mendukung operasi di lapangan. “Kerja sama pemadaman dan mengurangi meluasnya lahan terbakar diperlukan gotong royong semua pihak,” tegasnya.
Jika diperlukan, teknologi seperti modifikasi cuaca juga dapat digunakan sebagai bagian dari upaya menghadapi kondisi El Nino. Di tingkat masyarakat, kelompok-kelompok peduli api di wilayah rawan kebakaran juga perlu kembali digerakkan dan dilibatkan secara aktif.
Dengan demikian, penanganan karhutla tidak hanya menunggu api membesar untuk kemudian dipadamkan, tetapi membangun sistem bersama sejak tahap pencegahan, deteksi dini hingga penanganan ketika kebakaran terjadi.
Lebih jauh, Sadino mengatakan, Indonesia juga perlu realistis bahwa kebakaran hutan tidak selalu dapat dicegah dan ditanggulangi secara total. Bahkan negara maju seperti sejumlah negara di Eropa dan Amerika Serikat menghadapi tantangan serupa ketika terjadi kebakaran besar.
Karena itu, strategi yang diperlukan bukan hanya berupaya menghilangkan seluruh risiko kebakaran, tetapi membangun kemampuan untuk beradaptasi terhadap kondisi El Nino dan mengurangi dampaknya.
“Seperti halnya di Eropa juga Amerika, tidak bisa total mencegah dan menanggulangi kebakaran. Agar El Niño tidak berkembang menjadi bencana yang lebih besar, kita mesti adaptif terhadap El Nino,” katanya.
Adaptasi tersebut antara lain dilakukan dengan mengubah kebiasaan masyarakat dalam menggunakan api. Penggunaan api secara sembarangan maupun kebiasaan membakar harus semakin dikendalikan, terutama ketika kondisi lingkungan sangat kering.
Di tengah ancaman tersebut, ia juga mengingatkan pentingnya pendekatan spiritual masyarakat. Salah satunya melalui pelaksanaan salat Istisqa sebagai bentuk ikhtiar dan doa memohon hujan kepada Tuhan.
Pada akhirnya, menghadapi El Nino ekstrem dan ancaman karhutla bukan semata persoalan mencari siapa yang harus disalahkan. Yang paling mendesak adalah memastikan api tidak muncul, dan apabila muncul, api dapat segera dikendalikan agar tidak meluas.
‘’Kerja sama pemadaman dan mengurangi meluasnya lahan terbakar diperlukan gotong royong semua pihak. Sarana prasarana yang ada di perusahaan bisa digerakkan lebih optimal begitu pemerintah daerah dan pusat dengan SDM-nya dan jika diperlukan dengan teknologi untuk modifikasi cuaca. Masyarakat seperti kelompok peduli api di wilayah perlu digerakkan secara bersama,’’ tandasnya.
(cip)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Rekomendasi
Infografis

26 Miliarder Gagal Cegah Zohran Mamdani Jadi Wali Kota Muslim New York
Terpopuler
1
2
3
4
5





