Sosial Media
0
Mensinkronisasi logo dan berita terbaru...
    Home Berita Dunia Internasional Featured Gaza Info9 Khan Younis Konflik Timur Tengah Masjid Istiqlal Indonesia Spesial

    Citra Satelit Terbaru, Masjid Istiqlal Indonesia di Khan Younis Gaza Hancur Lebur Jadi Debu - SindoNews

    4 min read


    A A A

    Masjid Istiqlal Indonesia di Khan Younis, Gaza, hancur dalam citra satelit pada Januari 2026. Foto/Google Earth/September 2026

    JALUR GAZA - Citra satelit Google Maps yang baru diperbarui memperlihatkan skala kehancuran di seluruh wilayah Jalur Gaza yang terkepung, setelah hampir tiga tahun berlangsungnya perang genosida oleh Israel. Salah satu citra satelit menunjukkan Masjid Istiqlal Indonesia di kawasan Ma’an, Khan Younis, hancur akibat perang padahal baru saja dibuka kembali kurang dari dua tahun sebelumnya.

    Citra Satelit Terbaru, Masjid Istiqlal Indonesia di Khan Younis Gaza Hancur Lebur Jadi Debu

    Masjid Istiqlal Indonesia di kawasan Ma’an, Khan Younis, Gaza, masih berdiri pada Oktober 2023.

    Khan Younis mencatat jumlah bangunan rusak terbanyak dibandingkan wilayah administratif lainnya dalam penilaian UNOSAT bulan Oktober 2025, dengan total 51.885 bangunan.

    Wilayah ini juga merupakan salah satu pusat pertanian utama di Gaza, dan Khan Younis mencatat luas lahan pertanian rusak terbesar di Jalur Gaza.

    Dengan kawasan demi kawasan yang kini rata dengan tanah dan hanya menyisakan samar-samar garis jalan utama, hampir mustahil untuk membedakan satu bagian Gaza dengan bagian lainnya.

    Lahan pertanian telah hangus terbakar, sementara tempat-tempat ibadah yang telah berdiri selama berabad-abad mengalami kerusakan atau bahkan lenyap sama sekali dari lanskap wilayah tersebut.

    Penilaian terkini oleh Pusat Satelit Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNOSAT) menemukan jumlah bangunan yang hancur di seluruh Gaza telah meningkat sebesar 9 persen sejak "gencatan senjata" diberlakukan hampir setahun yang lalu.

    Secara keseluruhan, sekitar 82 persen bangunan di Gaza—atau kurang lebih 200.000 bangunan—telah mengalami kerusakan, dan sekitar dua pertiganya telah hancur total, menurut badan PBB untuk pengungsi Palestina, UNRWA.

    Dengan menggunakan citra satelit yang baru saja dirilis di Google Maps, Al Jazeera membandingkan kondisi Gaza sebelum perang dengan kondisinya saat ini, mulai dari Rafah di selatan hingga Gaza Utara.

    Citra wilayah Rafah diambil pada tahun ini, sedangkan citra wilayah Gaza utara berasal dari tahun 2025 dan 2024. Kondisi terkini terlihat dari beberapa kawasan di Gaza.

    Tal as-Sultan, Rafah

    Rafah, kota paling selatan di Gaza, menjadi tempat pengungsian utama bagi warga Palestina yang terusir dari berbagai wilayah Gaza. Namun, sekitar satu juta orang terpaksa meninggalkan kawasan tersebut setelah operasi militer Israel dimulai di sana pada Mei 2024.

    Sebagian besar dari mereka telah berkali-kali mengungsi dan terpaksa bergerak menuju Khan Younis—kota yang terletak tepat di utara Rafah—serta Deir el-Balah di Gaza tengah, seiring dikosongkannya tempat-tempat penampungan UNRWA di Rafah.

    Di wilayah barat Rafah, kawasan Tal as-Sultan yang dulunya padat penduduk kini hampir seluruhnya hancur lebur. Citra satelit memperlihatkan hamparan pasir di lokasi yang dulunya merupakan permukiman warga.

    Al-Mawasi, Rafah

    Al-Mawasi—kawasan pesisir berupa hamparan pasir dan lahan pertanian yang dulunya berpenduduk jarang dan membentang di sepanjang pantai kegubernuran Rafah serta Khan Younis—ditetapkan sebagai "zona kemanusiaan" oleh Israel pada awal perang.

    Israel menginstruksikan warga Palestina yang mengungsi untuk mencari perlindungan di sana. Pada Mei 2024, saat Israel bersiap menyerbu kota Rafah, Presiden Amerika Serikat saat itu, Joe Biden, memberikan peringatan, "Jika mereka masuk ke Rafah... saya tidak akan memasok senjatanya."

    Israel tetap melancarkan operasi tersebut, yang mendorong ratusan ribu orang lainnya mengungsi ke Al-Mawasi—kawasan yang sejak saat itu telah berulang kali dibom oleh Israel.

    Citra satelit terkini memperlihatkan kawasan yang dulunya sebagian besar kosong itu kini dipenuhi tenda dan sesak oleh keluarga-keluarga yang tidak memiliki tempat tujuan lain.

    Baca juga: Bukan Jet Tempur atau Kapal Perang, Rudal Presisi yang Mampu Ubah Doktrin Militer

    (sya)

    Komentar
    Additional JS