Deteksi Mutasi dan Serotipe Virus Dengue pada Nyamuk Aedes albopictus di Pulau Mengare, Indonesia - Unair
Indonesia merupakan negara tropis yang endemis terhadap infeksi dengue, dengan tren peningkatan kasus dari tahun ke tahun, yang memengaruhi hampir semua kabupaten dan kota di seluruh negeri. Jawa, pulau terpadat penduduknya di Indonesia, menyumbang jumlah infeksi dengue tertinggi, mencakup setengah dari semua kasus yang tercatat. Kematian yang disebabkan oleh virus dengue yang terkonsentrasi di tiga provinsi (yaitu, Jawa Timur, Jawa Barat, dan Jawa Tengah) mencapai 58% dari total 1.236 kematian. Pola infeksi bersifat musiman, dengan puncak penularan terjadi selama dan setelah musim hujan. Hal ini sejalan dengan pola reproduksi nyamuk sebagai vektor penularan dengue. Pulau Mengare merupakan desa pesisir di Jawa dengan potensi reproduksi nyamuk yang tinggi karena melimpahnya vegetasi, seperti hutan bakau. Menurut data tahun 2023, Kabupaten Gresik melaporkan 180 kasus dengue, termasuk empat kasus dari Kecamatan Bungah di Pulau Mengare. Langkah-langkah pencegahan dan pengendalian nasional untuk infeksi dengue diimplementasikan secara sistematis oleh Kementerian Kesehatan Republik Indonesia melalui pengasapan (fogging) di wilayah sasaran setelah terkonfirmasi kasus dengue. Pemerintah Indonesia mengadopsi pengasapan (fogging), yang mengandung diklorodifeniltrikloroetana (DDT) dan piretroid, sebagai strategi komprehensif untuk pengendalian dengue.
Mekanisme penting di balik ketidakpekaan terhadap DDT dan piretroid adalah resistensi knockdown (kdr). Piretroid mengganggu sinyal elektronik dalam sistem saraf, menyebabkan nyamuk mati dan lumpuh. Istilah "knockdown" sering digunakan untuk menggambarkan fenomena ini. Pada populasi Aedes yang resisten terhadap piretoid di seluruh dunia, mutasi F1534C telah ditemukan di domain III, sedangkan mutasi pada tiga lokasi kodon gen VGSC (S989P, I1011M/V, dan V1016G/I) terutama telah dilaporkan di domain II. Berdasarkan demografi, Pulau Mengare dianggap sebagai daerah berisiko tinggi untuk penyebaran dengue. Oleh karena itu, penting untuk deteksi flavivirus, serotipe virus dengue, dan resistensi insektisida terhadap vektor pembawanya, karena ancaman yang berkelanjutan dan meningkatnya insiden kasus dengue menunjukkan pentingnya hal ini. Deteksi serotipe dan analisis mutasi kdr juga penting untuk pencegahan dan pengendalian dengue yang efektif. Penelitian ini bertujuan untuk deteksi flavivirus dan serotipe virus dengue, serta mutasi kdr pada nyamuk Aedes albopictus yang diperoleh dari Pulau Mengare, Gresik, Indonesia.
Desain eksperimen cross-sectional digunakan, memanfaatkan Reverse Transcriptase-Polymerase Chain Reaction (RT-PCR) untuk deteksi flavivirus dan serotipe virus dengue, serta untuk mengidentifikasi mutasi kdr.
Enam nyamuk Aedes albopictus betina dewasa dianalisis dalam penelitian ini. Hasilnya tidak menunjukkan bukti infeksi flavivirus atau serotipe virus dengue pada sampel nyamuk tersebut. Demikian pula, analisis mutasi kdr menunjukkan bahwa semua sampel merupakan tipe liar homozigot, tanpa mutasi yang terdeteksi pada lokus V1016G atau F1534C. Sebagai kesimpulan, temuan ini menunjukkan tidak adanya penularan virus dengue aktif atau resistensi insektisida yang signifikan pada populasi nyamuk yang diteliti dari Pulau Mengare. Penelitian ini menyoroti pentingnya pemantauan berkelanjutan terhadap keberadaan flavivirus dan mutasi resistensi. Variabilitas frekuensi mutasi kdr di berbagai wilayah menggarisbawahi perlunya pengawasan berkelanjutan dan langkah-langkah pengendalian yang efektif untuk memitigasi potensi wabah di daerah berisiko tinggi.
Penulis: Hariyono, Teguh Hari Sucipto, Tasya Amalia Dwiyanti, dkk.
Judul Artikel: Detection of Serotypes and Knockdown-Resistance Mutations in Dengue and Other Flavivirus Samples Collected from Mengare Island, Indonesia
Informasi detail tentang artikel ilmiah ini dapat dilihat di: https://scholarly.unair.ac.id/fk-fmi/vol61/iss1/5/