Sosial Media
Opsi Update
0
Mensinkronisasi logo dan berita terbaru...
    Home Berita Featured Seskab Teddy Spesial

    Dinamika di Balik Putaran Pulpen Seskab Teddy: Antara Fidgeting Kognitif dan Etiket Meja Perundingan - Koma

    5 min read

     

    Teddy Main Bulpoin Saat Rapat Dengan Putin Holopis
    Sekretaris Kabinet Merah Putih, Letnan Kolonel Inf. TNI Teddy Indra Wijaya tampak bermain bulpoin ketika menjadi salah satu delegasi Indonesia bertemu dengan Presiden Putin dan sejumlah delegasi dari Rusia.

    KOMA.ID, JAKARTA – Potongan video yang memperlihatkan Sekretaris Kabinet (Seskab) Teddy Indra Wijaya memutar-mutar pulpen dengan jarinya (pen spinning) saat mendampingi Presiden Prabowo Subianto dalam forum internasional, seperti Eastern Economic Forum (EEF) di Rusia, mendadak memicu kegaduhan di ruang digital.

    Sebagian warganet dengan cepat melayangkan cap “tidak sopan” atau “bad attitude“.

    Silakan gulirkan ke bawah

    Di sisi lain, pembelaan muncul menganggapnya sebagai hal yang lumrah.

    Agar tidak terjebak dalam bias visual yang dangkal, fenomena ini perlu dibedah secara objektif melalui dua kacamata profesional yang saling melengkapi: psikologi kognitif dan protokoler diplomasi internasional.

    Menatap Forum, Menggerakkan Jari: Sudut Pandang Psikologi Kognitif

    Jika diperhatikan secara saksama, gerakan tangan Seskab Teddy sama sekali tidak memecah fokus visualnya. Tatapan matanya tetap lurus menyimak jalannya forum perundingan bilateral dengan saksama.

    Dalam ilmu psikologi dan neurosains, kombinasi ini dikenal sebagai fidgeting kognitif yang fungsional, bukan bentuk pengalihan perhatian.

    Rapat bilateral tingkat tinggi yang melibatkan translasi bahasa, dinamika geopolitik, dan pembahasan teknis berjam-jam menuntut kerja otak yang sangat berat. Bagi banyak orang, duduk diam total dalam kondisi stres tinggi (high-stakes situation) justru bisa memicu kejenuhan atau membuat pikiran melantur (mind-wandering).

    Gerakan motorik halus yang repetitif—seperti memutar pulpen tanpa bersuara—secara paradoks bertindak sebagai stimulan bawah sadar yang menjaga arousal state (tingkat kewaspadaan) otak agar tetap berada pada level optimal. Bagi figur dengan latar belakang kedisiplinan militer yang kuat, gerakan halus ini juga menjadi katup pelepas ketegangan (stress relief) yang efisien untuk menyalurkan lonjakan adrenalin tanpa harus merusak postur duduk yang tegap dan berwibawa.

    Batas Toleransi dalam Protokoler Diplomasi Modern

    Bila berpindah ke kacamata etiket perundingan antarnegara, apakah gerakan ini melanggar pakem Protocol as a Tool of Diplomacy? Jawabannya berada di area abu-abu, namun cenderung dapat dimaklumi (tolerable).

    Dalam protokol diplomasi modern, elemen penilaian kesopanan delegasi pendukung bersandar pada tiga pilar utama:

    – Kontak Mata (Eye Contact): Menjaga pandangan ke arah pembicara atau forum sebagai bentuk penghormatan tertinggi.

    – Keheningan (Silence): Tidak memotong pembicaraan atau menciptakan suara latar yang mengganggu.

    – Kesiapan (Readiness): Kemampuan menyerap informasi untuk langsung dieksekusi atau dicatat jika dibutuhkan.

    Aktivitas memutar pulpen Seskab Teddy dikategorikan aman dari pelanggaran berat karena sifatnya yang silent fidgeting—tidak menimbulkan suara klik yang berisik ataupun ketukan di atas meja kaca yang dapat menginterupsi komunikasi verbal delegasi asing.

    Sebagai elemen pendukung di belakang atau di samping Kepala Negara, fokus utamanya adalah ketajaman menyimak jalannya substansi. Selama pulpen tersebut tidak sampai terjatuh ke lantai yang dapat menciptakan kecanggungan visual, etiket meja perundingan menganggap variasi gerakan motorik kecil ini sebagai hal yang manusiawi.

    Menjernihkan Bias Publik

    Kegaduhan yang terjadi di media sosial sering kali lahir dari bias atribusi, di mana publik menilai seluruh kualitas profesionalisme seseorang hanya dari satu potongan detail visual berdurasi beberapa detik. Publik kerap menuntut penampilan pejabat di depan kamera harus tampak seperti “patung tak bergerak” demi memenuhi definisi formalitas absolut.

    Padahal, di balik layar diplomasi yang melelahkan, para praktisi hubungan internasional lebih berfokus pada hasil konkret negosiasi dan ketajaman analisis tim delegasi, bukan pada jemari yang bergerak statis.

    Memutar pulpen saat mata tetap tajam menyimak bukanlah tanda ketidakpedulian, melainkan cara tubuh manusia mengunci konsentrasinya agar tidak goyah di tengah tekanan ruang sidang internasional.

    Jangan lupa temukan juga kami di Google News.

    Komentar
    Additional JS