Sosial Media
Opsi Update
0
Mensinkronisasi logo dan berita terbaru...
    Home Berita Featured Gen Z Kasus Kesehatan Kesehatan Mental Milenial Spesial

    Kasus bunuh diri di Indonesia terus naik, Gen Z dan milenial dominasi keinginan akhiri hidup -

    5 min read

     


    JAKARTA: Kasus bunuh diri yang tercatat di Indonesia meningkat selama tiga tahun berturut-turut, dari 1.332 kasus pada 2023 menjadi 1.403 kasus pada 2024 dan 1.503 kasus pada 2025. Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menilai angka sebenarnya dapat lebih tinggi karena masih ada kasus bunuh diri maupun percobaan bunuh diri yang tidak dilaporkan.

    Data kepolisian tersebut dipaparkan Direktur Pelayanan Kesehatan Kelompok Rentan Ditjen Kesehatan Masyarakat Kemenkes Imran Pambudi dikutip detikHealth dalam agenda Temu Media di Kantor Kemenkes, Jakarta, Rabu (9/9).

    Iklan

    Kesenjangan terlihat ketika angka yang tercatat dibandingkan dengan estimasi Institute for Health Metrics and Evaluation (IHME). Pada 2023, ketika kepolisian mencatat 1.332 kasus, IHME memperkirakan jumlahnya mencapai 5.236 kasus.

    Imran meyakini masih terdapat kasus yang tidak masuk dalam pencatatan, termasuk percobaan bunuh diri yang tidak berujung kematian.

    "Dan saya yakin sebetulnya ada kasus-kasus bunuh diri yang tidak dilaporkan. Nah, ini baru yang tercatat yang sudah terjadi. Belum yang percobaan bunuh diri tapi gak jadi meninggal. Itu juga cukup banyak dan kasus-kasus seperti ini seringkali ditutupi, mereka gak melaporkan," kata Imran.

    USIA 21-30 TAHUN DOMINASI KEINGINAN BUNUH DIRI

    Data layanan konseling Kemenkes juga menunjukkan besarnya persoalan kesehatan jiwa pada kelompok usia muda.

    Sepanjang 31 Juli 2025 hingga 31 Juli 2026, sebanyak 15.979 orang mengakses Healing119.id untuk berbagai kebutuhan.

    Iklan

    Dari jumlah tersebut, 7.600 orang melakukan konseling dan 3.036 orang tercatat memiliki keinginan mengakhiri hidup. Selain itu, 759 orang menghubungi layanan untuk meminta informasi, 203 tercatat sebagai spam, sementara 4.381 tidak memberikan respons atau tidak melanjutkan proses konseling.

    Data Healing119.id tersebut berbeda dengan statistik kepolisian mengenai kasus bunuh diri karena menggambarkan pengguna layanan yang memiliki keinginan mengakhiri hidup, bukan jumlah kematian akibat bunuh diri.

    Dari 3.036 orang yang ingin bunuh diri, kelompok usia 21-30 tahun mendominasi dengan proporsi 54,08 persen. Kelompok usia 11-20 tahun berada di posisi berikutnya sebesar 33,04 persen.

    Kelompok usia 31-40 tahun tercatat 11,01 persen, disusul usia 41-50 tahun sebesar 1,62 persen. Sementara kelompok di atas 50 tahun sebesar 0,19 persen dan usia 8-10 tahun 0,06 persen.

    Layanan tersebut bahkan telah diakses anak-anak berusia sangat muda, yakni satu anak berusia 8 tahun, satu anak berusia 9 tahun, serta sembilan anak berusia 10 tahun.

    Iklan

    Pengakses layanan Healing 119.id disebut lebih banyak perempuan, sekitar 70 persen. Namun, kasus bunuh diri justru lebih banyak terjadi pada laki-laki.

    "Laki-laki tidak bercerita. Langsung bertindak," ungkap Imran.

    Pada kelompok usia muda, salah satu keluhan yang banyak ditemukan berkaitan dengan kesepian. 

    Masalah keluarga juga menjadi pemicu yang paling banyak ditemukan pada pengguna Healing119.id. Persoalan tersebut mencakup kekerasan dalam rumah tangga, hubungan orang tua dan anak, serta konflik keluarga.

    Faktor berikutnya meliputi persoalan psikologis dan psikososial, seperti gejala depresi, stres, kecemasan dan perasaan putus asa.

    Iklan

    Masalah lingkungan sosial juga ditemukan, termasuk bullying, tekanan pertemanan dan isolasi sosial.

    Sementara dari sisi ekonomi, persoalan yang tercatat mencakup biaya sekolah, tekanan finansial keluarga, judi online hingga pinjaman online.

    Kemenkes menilai pencegahan juga membutuhkan perubahan cara masyarakat memperlakukan orang yang sedang menghadapi persoalan kesehatan jiwa.

    "Jadi tema global untuk tahun 2024 sampai 2026 ini adalah Changing the Narrative on Suicide. Jadi kita perlu mengubah narasi tentang bunuh diri. Narasi ini kan tergantung dari POV-nya, seringkali kita berpikiran orang yang mencoba bunuh diri itu adalah orang yang tidak bersyukur, ini kan juga berbeda. Jadi kita perlu mengubah narasinya tentang bunuh diri," urai Imran.

    Kemenkes mendorong tiga perubahan pendekatan, yakni dari stigma menuju empati, dari kebiasaan menghakimi menjadi mendengarkan, serta dari diam menjadi membuka ruang untuk berbicara.

    Menurut Imran, seseorang yang memiliki pemikiran untuk mengakhiri hidup tidak seharusnya langsung diberi label maupun disalahkan. Lingkungan sekitar justru perlu mendengarkan agar dapat memahami beban yang sedang dihadapi.

    Dampak kasus bunuh diri juga dinilai tidak berhenti pada orang yang meninggal. Imran memperkirakan satu kematian dapat berdampak terhadap sedikitnya 30 orang di lingkungan terdekat, mulai dari keluarga dan sahabat hingga petugas yang memberikan pertolongan.

    ---

    Kesehatan mental adalah hal serius. Jika kamu pernah merasa putus asa, mengalami krisis emosional, atau memiliki pikiran untuk mengakhiri hidup, atau mengenal seseorang dalam kondisi tersebut, jangan ragu untuk mencari bantuan profesional.

    Kamu bisa menghubungi Call Center 24 jam Halo Kemenkes 1500-567 dan Hotline Pencegahan Bunuh Diri milik Kementerian Kesehatan dan RS Marzoeki Mahdi secara gratis melalui situs healing119.id, telepon ke 119 ekstensi 8, atau lewat WhatsApp yang terhubung langsung dari situs tersebut.

    Call Center 24 jam Halo Kemenkes 1500-567

    Kemenkes juga menyediakan 5 rujukan RS Jiwa dengan layanan telepon konseling:

    1. RSJ Amino Gondohutomo Semarang: (024) 6722565
    2. RSJ Marzoeki Mahdi Bogor: (0251) 8324024, 8324025, 8320467
    3. RSJ Soeharto Heerdjan Jakarta: (021) 5682841
    4. RSJ Prof Dr Soerojo Magelang: (0293) 363601
    5. RSJ Radjiman Wediodiningrat Malang: (0341) 423444

    Ikuti saluran WhatsApp CNA Indonesia untuk dapatkan berita menarik lainnya. Pastikan fungsi notifikasi telah dinyalakan dengan menekan tombol lonceng.

    Komentar
    Additional JS