Nasib Bu Guru Desy Usai Viral karena Protes Diminta Endus MBG dan Merasa Jadi Anjing Pelacak - TribunnMedan
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/guru-mbg-bogor-tribunmedan1.jpg)
TRIBUN-MEDAN.COM – Beginilah nasib bu guru Desy Idayanti usai viral karena protes soal mengendus ompreng MBG sebelum disajikan ke para siswa.
Adapun nama bu guru Desy Idayanti mendadak jadi sorotan setelah videonya menyindir soal tugas baru seorang guru yakni mengendus ompreng MBG viral di media sosial.
Desy Idayanti merasa dirinya seperi seekor anjing pelacak karena harus mengendus ompreng MBG yang cukup banyak.
Video sindiran ibu tiga anak tersebut terkait MBG bahkan telah disukai 41 ribu netizen.
Sementara itu diketahui, Desy Idayanti merupakan guru di SMK Cipta Karya, Sumedang, Jawa Barat.
Bukan cuma guru, Desy juga dikenal sebagai konten kreator yang kerap membuat video edukasi maupun satire di media sosial.
Kini Desy memiliki 8.700 pengikut di akun Facebook-nya.
"Ada yang bilang ini MBG harus dicium-cium dulu diendus-endus dulu. Ada yang bilang gitu coba. Ini sebanyak ini harus diendus-endus semuanya," kata Desy dilansir TribunnewsBogor.com dari akun Facebook-nya, Rabu (23/9/2026).
Baca juga: Resep Sate Kornet Telur, Jajanan untuk Anak di Rumah yang Doyan Ngemil
Diminta mengendus MBG, Desy mengaku heran.
Sebab diketahui Desy, tugas guru adalah sebagai tenaga pengajar.
Namun kini saat diminta mengendus makanan MBG, Desy merasa dirinya seperti seekor anjing pelacak.
"Jadi tiba-tiba berubah fungsi guru, jadi anjing pelacak sekarang," pungkas Desy.
Atas tugas barunya itu, Desy mengaku masih heran.
"Kita mau ngajar, bukan mau jadi tukang endus-endus MBG. Enggak ngajar dong kalau kayak gini," ujarnya.
Selain diminta mengendus MBG, Desy juga diamanahkan sebagai penanggung jawab MBG di sekolahnya.
Diakui Desy, setiap hari ia cemas ketika petugas SPPG datang membagikan MBG untuk murid-muridnya.
"Horor itu ketika difoto bersama ompreng MBG oleh tim SPPG. Dalam hati berdoa, ya Allah semoga hari ini semua anak-anak ada dalam lindunganMu," akui Desy.
Beberapa hari setelah mengunggah video sindiran terkait MBG viral, Desy buka suara.
Desy rupanya membuat netizen cemas dengan nasibnya yang berani mengkritik kebijakan pemerintah soal MBG.
Hingga diakui Desy, nasibnya masih baik-baik saja.
"Video kemarin viral, saya malah khawatir, Bu. Takut ibu ada yang "ngapa2in". Semoga sehat dan aman ya Bu.
Semoga suara bising ompreng yang kerompyang2 itu nyampe ke kupingnya "orang2 di sana"," kata netizen.
"Alhamdulillah, terima kasih banyak atas perhatian dan doanya, Bu. Sejauh ini saya sehat dan aman.
Baca juga: Polemik Pemkot Samarinda Sewa Mobil Land Rover Rp160 Juta/Bulan, Andi Harun: Dikembalikan Rp4,4 M
Notifikasi memang lumayan “jebol”, tapi saya anggap ini bagian dari dinamika ketika sebuah suara menyentuh banyak orang.
Semoga apa yang kita sampaikan bukan menjadi gaduh, tetapi menjadi pengingat agar setiap program yang menyangkut anak-anak terus diperbaiki dan dilaksanakan dengan sebaik-baiknya.
Terima kasih sudah ikut khawatir dan mendoakan.
Semoga suara “ompreng kerompyang” itu benar-benar sampai sebagai pengingat, bukan untuk mencari siapa yang salah, tetapi supaya semuanya lebih peduli pada keamanan dan kenyamanan anak-anak," kata Desy.
Lebih lanjut, Desy pun mengurai penjelasan soal alasannya mengkritik kebijakan soal guru mengendus MBG tersebut.
Desy mengaku hanya ingin mengungkapkan keresahannya sebagai seorang guru.
"Saya berharap Bpk/Ibu juga dapat memahami bahwa di balik video tersebut sebenarnya ada keresahan seorang guru yang ingin memastikan bahwa ketika kita berbicara tentang keamanan pangan MBG, maka yang dilindungi bukan hanya siswa, tetapi juga guru dan seluruh pihak yang terlibat," akui Desy.
Diungkap Desy, tugas untuk memeriksa makanan MBG bukanlah tugas guru melainkan ahli.
"Menurut saya, pemeriksaan keamanan pangan semestinya dilakukan berdasarkan prosedur dan standar yang tepat, termasuk melalui sistem pengawasan serta pemeriksaan oleh pihak yang memang memiliki kompetensi di bidang keamanan pangan.
Di sinilah letak kegelisahan saya sebagai guru. Guru memiliki kompetensi utama dalam pendidikan dan pembelajaran, bukan sebagai tenaga ahli keamanan pangan atau analis laboratorium yang dapat menentukan ada atau tidaknya kontaminasi mikrobiologis pada makanan hanya melalui penciuman atau pencicipan," ungkap Desy.
Di akhir klarifikasinya, Desy pun mengungkap inti dari kritikannya.
Yakni ingin agar program pemerintah seperti MBG bisa berjalan sesuai standar dan sistem yang telah diatur.
"Dan setelah saya mengetahui adanya penjelasan TERBARU dan Resmu ( 15 september 2026 ) dari BGN yang menegaskan bahwa guru bukan diminta mencicipi makanan sebagai alat untuk mengetahui apakah makanan tersebut menyebabkan keracunan,
melainkan ikut makan bersama siswa serta melakukan pemeriksaan kondisi makanan sebelum dikonsumsi, tentu saya menghargai adanya penjelasan tersebut. Jadi, inti dari video itu,
saya ingin menyampaikan bahwa program sebesar MBG perlu dijalankan dengan sistem keamanan pangan yang kuat, sehingga guru tidak berada pada posisi harus mempertaruhkan keselamatan (Medis dan Profesi) dirinya demi memastikan makanan aman bagi siswa," pungkas Desy.
BGN Luruskan Peran Guru dalam Program MBG
Badan Gizi Nasional (BGN) memberikan penjelasan mengenai keterlibatan guru dalam memastikan makanan MBG aman dikonsumsi siswa.
Kepala BGN Sudaryono menjelaskan bahwa keterlibatan guru bukan berarti menjadikan guru sebagai pemeriksa makanan secara teknis.
Menurutnya, guru diharapkan makan bersama siswa sekaligus memberikan edukasi mengenai kebersihan, antrean, adab makan, dan pemahaman mengenai gizi.
Baca juga: Bukan Cuma Angelo Meneses, PSMS Punya 4 Kandidat Kapten di Championship 2026/2027, Berikut Profilnya
“Nah, jadi yang dimaksud guru itu ikut mencicipi sebetulnya bukan guru ikut mencicipi, tapi guru ikut makan MBG-nya itu bersama dengan siswa-siswinya yang ada di kelas,” kata Sudaryono.
Ia menjelaskan bahwa sebelum makanan dikonsumsi, kondisi makanan tetap perlu diperhatikan untuk memastikan tidak ada indikasi yang membahayakan siswa.
Pengecekan tersebut antara lain dengan melihat kondisi makanan, mencium apakah terdapat indikasi makanan basi, memeriksa label pada ompreng, serta memastikan makanan belum melewati batas waktu konsumsi.
“Maka sebelum dimakan kan tentu saja ya dicek begitu apakah bau, apakah ada kemungkinan basi, apakah omprengnya ada labelnya, apakah waktunya sudah melewati batas batas waktunya dan lain sebagainya,” jelasnya.
Jika makanan dinilai tidak aman untuk dikonsumsi, guru diminta menghentikan pemberian makanan tersebut kepada siswa.
“Manakala dirasa tidak aman, maka guru kemudian kami minta untuk di-stop jadi enggak boleh dimakan,” ujar Sudaryono.
(*/Tribun-medan.com//Tribunnewsbogor)
Baca berita TRIBUN MEDAN lainnya di Google News
Ikuti juga informasi lainnya di Facebook, Instagram dan Twitter dan WA Channel
Berita viral lainnya di Tribun Medan