Sosial Media
0
Mensinkronisasi logo dan berita terbaru...
    Home Berita Featured Kasus Keracunan Kesehatan Spesial Universitas Gajah Mada Yogyakarta

    Pakar UGM Yogyakarta Ungkap Rantai Produksi Picu Keracunan MBG - Tribunnews

    4 min read

     

    Tribun Jogja/Alexander Aprita A-A+ OMPRENG MBG: Tumpukan omprengan Makan Bergizi Gratis (MBG) di SMP Negeri 3 Wates, Kulon Progo, Selasa (21/07/2026). 
    Ringkasan Berita:
    • Kasus keracunan MBG di DIY temukan berbagai bakteri seperti Bacillus cereus, Salmonella, hingga E.coli. 

    • Pakar UGM menilai rantai distribusi panjang membuat bakteri tumbuh, solusi paling aman adalah masak langsung di sekolah.

    Tribunjogja Yogyakarta - Sejumlah kasus keracunan Makan Bergizi Gratis (MBG) di DIY menunjukkan temuan bakteri beragam.

    • Turi Sleman: Bacillus cereus, Staphylococcus aureus
    • Pandowoharjo: Bacillus cereus
    • Kota Yogyakarta: Escherichia coli
    • Nanggulan: Salmonella, Clostridium perfringens, Bacillus cereus, E.coli, Staphylococcus aureus
    • Bantul: Bacillus sp.
    • Bakteri serupa juga ditemukan dalam kasus keracunan di daerah lain seperti Karo dan Sidoarjo.

    Penjelasan Pakar UGM


    Guru Besar Fakultas Teknologi Pangan UGM, Prof. Endang Sutriswati Rahayu, menjelaskan bahwa bakteri memang secara alami ada dalam bahan pangan.

    Bacillus cereus: sporanya tidak rusak saat dimasak, dapat tumbuh kembali dan menghasilkan toksin.

    Salmonella: sumber utama dari pangan hewani.

    Staphylococcus aureus: banyak ditemukan di kulit manusia, sehingga perlu penggunaan sarung tangan saat mengolah makanan.

    “Masak biasa itu tidak langsung membunuh endospora. Kalau dibiarkan lama, endospora tumbuh dan menghasilkan toksin,” jelasnya.

    Rantai Risiko Distribusi

    Prof. Endang menyoroti rantai panjang pengolahan MBG:

    1. Masakan selesai dimasak.
    2. Dilanjutkan pemorsian yang memakan waktu.
    3. Distribusi ke sekolah masing-masing.
    4. Makanan tidak langsung dikonsumsi.

    Dalam proses ini, suhu makanan bisa naik akibat paparan sinar matahari. “Kalau naik suhu, bakteri lebih senang tumbuh,” ujarnya.

    Endang menekankan bahwa makanan yang sudah dimasak harus segera dikonsumsi. Solusi paling efektif adalah memasak langsung di sekolah.

    “Kalau di Jepang, masak di sekolah lalu langsung dimakan. Itu yang paling aman, memastikan 100 persen makanan wajib aman,” tegasnya. (maw)

    Baca juga: Buntut Rentetan Kasus Keracunan, Disdikpora DIY Mendata Sekolah Penolak MBG

    Komentar
    Additional JS