Saat 500 Ayah Ambil Alih Dapur, Menyiapkan Sarapan untuk Para Ibu di Bandung - Kompas
BANDUNG, KOMPAS.com - Minggu pagi biasanya menjadi waktu ketika seorang ibu kembali sibuk dengan urusan rumah.
Menyiapkan sarapan, memastikan makanan tersaji, hingga memikirkan kebutuhan anggota keluarga lainnya.
Rutinitas yang terlihat sederhana, tetapi berulang hampir setiap hari, termasuk pada hari libur.
Namun, suasana berbeda terlihat di halaman Trans Studio Mall (TSM) Kota Bandung, Minggu (27/9/2026).
Kisah Pengupas Kerang Pesisir Jakarta: Kerja 9 Jam Upah Rp 80.000, Tak Mau Anak Bernasib Sama
Pagi itu, 500 ayah justru berdiri berjejer di depan meja yang telah disiapkan. Mereka mengambil alih satu pekerjaan yang selama ini kerap identik dengan ibu: menyiapkan sarapan.
Satu per satu, para ayah berkreasi menyiapkan sarapan berupa roti. Setelah selesai, sajian itu diberikan langsung kepada para ibu yang hadir.
Bukan sekadar sarapan, kegiatan tersebut menjadi bentuk apresiasi kepada ibu sekaligus mencatatkan rekor Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI).
Baca juga: 300 Orang Bikin 300 Kg Terasi di Bangka Selatan, Raih Rekor MURI
Sebanyak 500 ayah menyiapkan sarapan untuk 500 ibu. Total 1.000 peserta terlibat dalam kegiatan tersebut.
Ketika Peran Pagi Hari Dibalik
Marketing Director Frisian Flag Indonesia Intan Kartika mengatakan, kegiatan itu merupakan bagian dari kampanye "Temani Pagi Penuh Arti".
Menurut dia, kampanye tersebut ingin mengajak keluarga memberikan apresiasi kepada ibu melalui hal-hal sederhana yang bisa dilakukan dalam keseharian.
"Biasanya selama ini ibu yang selalu menyiapkan sajian pagi hari. Nah, kali ini kita pengen dibalik, gimana kalau misalkan bapak-bapak, suaminya, dan juga anak-anak yang menyiapkan sajian di pagi hari," kata Intan ditemui di lokasi kegiatan.
Bagi Intan, apresiasi kepada ibu tidak selalu harus diwujudkan dalam sesuatu yang besar.
"Tujuannya kembali lagi bahwa sebenarnya memberikan apresiasi kepada ibu itu bisa dilakukan dengan cara yang sederhana dan mudah," ujarnya.
Baca juga: Karena Peran Ayah Enggak Cuma Marah-marah Aja ke Anak
Kegiatan di Bandung merupakan bagian dari rangkaian acara yang berlangsung selama tiga hari, mulai Jumat hingga Minggu.
Setelah Bandung, kegiatan serupa akan digelar di Yogyakarta pada 2 Oktober 2026 di Pakuwon Mall.
Sebelumnya, kegiatan serupa juga telah digelar di Jakarta dan Surabaya. Ke depan, program yang berkaitan dengan nutrisi keluarga tersebut diharapkan dapat hadir di lebih banyak kota di Indonesia.
Dalam kegiatan di Bandung, hadir pula Adam Suseno, Darius Sinathrya, dan Ananda Omesh bersama pasangan masing-masing, yakni Inul Daratista, Donna Agnesia, dan Dian Ayu Lestari.
Pekerjaan yang Tak Selalu Terlihat
Di balik kegiatan sederhana seperti menyiapkan sarapan, ada pekerjaan rumah tangga lain yang sering kali berjalan tanpa banyak disadari.
Pakar psikolog Ajeng Raviando mengatakan, masih banyak keluarga yang menganggap pekerjaan rumah tangga sepenuhnya menjadi tanggung jawab ibu.
"Memang seringkali sudah ada stigma bahwa kerjaan rumah itu kerjaannya ibu gitu ya. Yang ngurusin rumah, yang jadi manajer rumah tangga itu adalah ibu. Padahal sebetulnya peran dari seluruh anggota keluarga itu juga sangat dibutuhkan," kata Ajeng.
Baca juga: Bukan Sekadar Membantu Ibu, Peran Ayah dalam Pengasuhan Pengaruhi Tumbuh Kembang Anak
Menurut Ajeng, beban yang terus menumpuk dapat membuat ibu lebih mudah lelah dan stres. Dalam kondisi tertentu, hal itu bahkan dapat menyebabkan kelelahan emosional atau burnout.
Kelelahan tersebut kemudian tidak berhenti pada ibu. Suasana rumah dan hubungan dengan anggota keluarga lain juga bisa ikut terdampak.
"Karena ibunya terlalu lelah, capek, jadi mungkin mudah marah, dan akhirnya seluruh keluarga juga jadi kena dampak dari kondisi-kondisi yang memang tidak positif ya," ujarnya.
Saat Semua Jawaban Ada di Ibu
Menurut Ajeng, persoalan beban ibu dalam rumah tangga bukan hanya tentang banyaknya pekerjaan yang dilakukan.
Ada pula berbagai hal kecil yang membuat ibu seolah menjadi pusat dari seluruh urusan keluarga.
Mulai dari mengetahui letak barang, mengingat kebutuhan anggota keluarga, sampai mengatur berbagai keperluan rumah.
"Semua yang tahu itu ibu. Mau cari baju, mau cari apa, tanya saja sama ibu. Bahkan belum ditanya pun ibu sudah tahu apa yang dibutuhkan anggota keluarganya," kata dia.
Baca juga: Rapor Anak dan Peran Ayah yang Kerap Terlewat
Kondisi tersebut, menurut Ajeng, menghabiskan sebagian besar energi seorang ibu untuk memikirkan kebutuhan orang lain.
Sementara itu, belum tentu ada cukup waktu bagi ibu untuk berhenti sejenak dan memikirkan kebutuhannya sendiri.
Karena itu, Ajeng menilai keluarga perlu membangun sistem dukungan atau support system dengan melibatkan pasangan dan anggota keluarga lainnya dalam pekerjaan rumah tangga maupun pengasuhan.
Bukan hanya ketika ibu sudah kelelahan, tetapi sejak aktivitas sehari-hari dijalankan bersama.
Bukan Hanya Satu Hari untuk Ibu
Bagi Ajeng, waktu bagi ibu untuk beristirahat dan mengisi kembali energi tidak seharusnya hanya diberikan pada momen-momen tertentu.
Kesempatan untuk berhenti sejenak perlu menjadi bagian dari keseharian.
"Jadi memang kalau menurut saya tanggal merah untuk ibu sebetulnya bukan hanya satu tanggal merah, tapi bagaimana bisa dalam keseharian itu tetap ibu punya waktu untuk dia bisa mengisi energinya, supaya nanti juga bisa sharing sama anggota keluarga yang lain," ucapnya.
Minggu pagi di Bandung itu mungkin hanya berlangsung beberapa jam.
Namun, ketika 500 ayah mengambil alih tugas menyiapkan sarapan, ada pesan yang lebih sederhana dari sekadar memecahkan rekor: urusan rumah adalah urusan bersama.
Dan untuk seorang ibu, sesekali duduk menikmati sarapan yang disiapkan orang lain mungkin menjadi jeda kecil untuk mengisi kembali energi.
Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.