Sebanyak 363 Siswa dan Guru di SMAN 6 Solo Diduga Keracunan MBG - Republika
Peristiwa dugaan keracunan itu terjadi pada 21 Agustus 2026.
Rep: Kamran Dikarma

ANTARA FOTO/Umarul Faruq Santri yang diduga mengalami keracunan makanan mendapatkan perawatan medis di Pondok Pesantren Manbaul Hikam, Tanggulangin, Sidoarjo, Jawa Timur, Rabu (2/9/2026). Pemerintah Provinsi Jawa Timur menegaskan saat ini seluruh pihak terkait fokus memastikan seluruh korban mendapatkan penanganan dengan baik oleh rumah sakit dan tenaga medis.
REPUBLIKA.CO.ID, SEMARANG — Sebanyak 363 siswa dan guru di SMAN 6 Solo, Jawa Tengah (Jateng), diduga mengalami keracunan Makan Bergizi Gratis (MBG). Peristiwa dugaan keracunan itu terjadi pada 21 Agustus 2026.
Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Jateng, Zulfachmi Wahab, mengonfirmasi soal dugaan keracunan di SMAN 6 Solo. Dia mengungkapkan, menu MBG yang diduga menjadi penyebab keracunan dibagikan pada 21 Agustus 2026. Namun para murid, termasuk guru, mulai melaporkan gejala seperti mual, mulas, lemas, dan diare secara bertahap pada 22-23 Agustus 2026.
Kendati demikian, Zulfachmi menyebut tidak ada siswa maupun guru yang menjalani rawat inap. “Jumlah siswa yang terdampak 360 dan tiga orang guru,” ujarnya ketika diwawancara, Jumat (4/9/2026).
Dia menambahkan, Dinkes Jateng sudah mengambil sampel menu MBG yang dibagikan di SMAN 6 Solo pada 21 Agustus 2026 untuk diperiksa di laboratorium. “Makanan yang dicurigai (menjadi penyebab keracunan) dari galantinnya,” kata Zulfachmi.
Menurut Zulfachmi, setelah kejadian dugaan keracunan di SMAN 6 Solo, Badan Gizi Nasional (BGN) selaku pihak yang berwenang sudah mengambil tindakan terhadap SPPG terkait. “SPPG-nya sudah di-suspend oleh BGN selama 30 hari,” ucapnya.
Dia mengatakan, saat ini uji lab atas sampel MBG yang dibagikan di SMAN 6 Solo pada 21 Agustus masih berlangsung di labkesda di Semarang. “Hasilnya mungkin keluar dua atau tiga hari lagi,” ujarnya.
Zulfachmi menjelaskan, dalam uji lab, semua unsur yang berkaitan dengan pengolahan dan penyajian MBG diperiksa. “Tidak hanya makanan, tapi juga semua bahan yang belum dipakai, termasuk sumber airnya,” kata dia.
Halaman 2 / 3
Kasus dugaan keracunan setelah mengonsumsi makanan dalam program MBG kembali terjadi di sejumlah daerah pada awal September 2026. Dalam kurun 1–3 September, laporan gangguan kesehatan muncul di Jawa Timur, Jawa Tengah, Sumatera Barat, hingga Sulawesi Selatan. Ribuan siswa, santri, guru, dan penerima manfaat dilaporkan mengalami gejala seperti mual, muntah, pusing, sakit perut, dan diare.
Kasus pertama terjadi pada Selasa, 1 September 2026, di Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur. Ratusan santri Pondok Pesantren Manbaul Hikam, Tanggulangin, serta siswa dari sejumlah lembaga pendidikan yang menerima makanan dari SPPG Kalitengah mengalami gangguan kesehatan setelah menyantap menu MBG.
Jumlah korban terus bertambah seiring pendataan. Pada 2 September, Dinas Kesehatan Sidoarjo mencatat 566 korban, dengan puluhan orang masih menjalani perawatan. Sehari kemudian jumlah korban yang terdata meningkat menjadi sekitar 730 orang. Sebanyak 706 orang telah diperbolehkan pulang untuk menjalani pengobatan jalan, 23 orang masih dirawat inap, dan satu orang berada dalam observasi.
Menu yang dikonsumsi antara lain nasi putih, telur orak-arik, tempe bumbu Bali, tumis buncis dan baby corn, serta apel. Operasional SPPG Kalitengah kemudian dihentikan sementara untuk penyelidikan.
Kasus berikutnya muncul pada Rabu, 2 September 2026. Di Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur, sedikitnya 100 hingga 125 siswa SMAN 3 Nganjuk dilaporkan mengalami gejala serupa setelah menyantap MBG. Sebagian korban sempat mendapat perawatan di rumah sakit, sementara lainnya diperbolehkan pulang setelah kondisinya membaik.
Pada hari yang sama, dugaan keracunan juga dilaporkan di Kabupaten Agam, Sumatera Barat (Sumbar). Jumlah korban yang semula dilaporkan 237 orang kemudian berkembang menjadi sekitar 334 orang, terdiri atas siswa, guru, dan penerima manfaat lainnya. SPPG yang memasok makanan dihentikan sementara dan sampel makanan dikirim untuk pemeriksaan laboratorium.
Pada Kamis, 3 September 2026, dugaan keracunan juga dilaporkan di Tana Toraja, Sulawesi Selatan. Sekitar 150 orang mengalami gangguan kesehatan setelah mengonsumsi MBG. Sejumlah korban mendapatkan perawatan di fasilitas kesehatan dan sampel makanan diperiksa untuk mengetahui penyebabnya.
Pada tanggal yang sama, kasus terjadi di Lasem, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah. Sebanyak 777 orang, terdiri atas 752 siswa dan 25 guru SMAN 1 Lasem, dilaporkan mengalami diare dan gangguan kesehatan setelah mengonsumsi MBG. Salah satu perhatian dalam penyelidikan adalah menu ayam yang disebut telah mengalami perubahan kondisi. Makanan tersebut dilaporkan dimasak dini hari dan baru dikonsumsi sekitar tengah hari.
Halaman 3 / 3
Kepala SMAN 1 Lasem, Juhartutik, mengungkapkan, makanan dibagikan sekitar pukul 12.00 WIB, bertepatan dengan jam istirahat. Menu MBG pada Rabu lalu terdiri dari nasi, ayam bakar, tempe goreng, lalapan, dan potongan semangka. Menurut Juhartutik, sepulang sekolah, sejumlah siswa sebenarnya telah mengalami diare. Namun mereka tidak melaporkan hal tersebut. “Setelah mereka masuk sekolah hari ini, baru pada ke belakang (toilet) bolak-balik, massal itu,” ucapnya ketika diwawancara, Kamis (3/9/2026).
Dia menambahkan, sekolahnya memiliki 30-an toilet. Namun karena banyaknya murid yang mengalami diare, jumlah toilet menjadi tak memadai. “Jadi pada pakai toilet guru dan toilet (di ruangan) saya juga tadi,” kata Juhartutik.
Menurut Juhartutik, yang terdampak dugaan keracunan MBG lebih dari 750 orang, terdiri dari siswa dan guru. Rata-rata gejala yang mereka alami adalah diare. “Tadi saya baru saja dari puskesmas, ada enam yang dirawat. Saya tanya ada yang masih pusing, demam, dan perutnya mulas. Diare juga masih ada,” ujarnya.
Juhartutik menduga, para siswa dan guru di sekolahnya mengalami keracunan akibat lauk ayam bakar pada menu MBG. “Jadi ayamnya itu saat dipegang seperti sudah berlendir,” ungkapnya.
Hingga 4 September, penyebab pasti seluruh kejadian belum dapat disimpulkan. Pemeriksaan laboratorium terhadap sampel makanan masih diperlukan untuk memastikan apakah gangguan kesehatan disebabkan kontaminasi bahan pangan, proses pengolahan, penyimpanan, distribusi, atau faktor lainnya.
Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Sudaryono menyerahkan proses hukum dugaan tindak pidana dalam kasus gangguan kesehatan setelah konsumsi MBG kepada aparat penegak hukum. Semua, kata ia, tergantung dari penyelidikan aparat. “Pidana atau tidaknya itu tergantung hasil penyelidikan dari pihak aparat penegak hukum,” kata Sudaryono usai rapat dengan Komisi IX DPR di kompleks parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (3/9/2026) malam.
Sudaryono mengatakan, berdasarkan laporan yang diterimanya, sejumlah kasus gangguan kesehatan tersebut telah masuk tahap penyidikan. Namun, dia tidak memerinci lokasi maupun kasus yang dimaksud. “Apakah ada yang tersangka atau tidak? Kita serahkan kepada hasil penyidikan atau penyelidikan oleh aparat penegak hukum di lapangan,” ujarnya.
Dia memastikan BGN tengah melakukan evaluasi menyeluruh menyusul laporan gangguan kesehatan yang diduga terjadi setelah mengonsumsi menu MBG di sejumlah daerah. “Tentu kami sangat terpukul sebetulnya, tapi kami tidak boleh menyerah. Insya Allah ini kami perbaiki semua tata kelolanya, aturannya, penataan keuangannya, dan lain sebagainya,” kata Sudaryono.
Berita Terkait
Kejagung Sita Aset Tersangka MBG Senilai Rp 8,43 Miliar, dari Jam Tangan Mewah hingga Batu Permata
Nasional News - 04 September 2026, 20:10
Sambangi Santri yang Keracunan MBG di Sidoarjo, Wamenag: Harus Investigasi, Ini Ada Apa?
Khazanah Indonesia - 04 September 2026, 18:31
Komnas HAM Minta BGN Setop SPPG Penyedia MBG di Lokasi Keracunan
Nasional News - 04 September 2026, 14:56
Keracunan MBG Berulang, Pakar Sentil Lemahnya Keamanan Pangan
Nasional News - 04 September 2026, 14:54
Zulhas: Tak Ada Toleransi Bagi Petugas MBG yang tidak Bertanggung Jawab
Nasional News - 04 September 2026, 13:43