Sebaran Abu Vulkanik Anak Krakatau Terdeteksi hingga Bandung, BMKG Ungkap Dua Klaster - Kumparan

Baca 10 detik
- Gunung Anak Krakatau masih bererupsi pada Sabtu, 5 September 2026, dan berstatus Siaga level III.
- BMKG mendeteksi sebaran abu vulkanik mencapai Bandung, Lampung, hingga Bengkulu dalam dua klaster ketinggian berbeda.
- Masyarakat di wilayah terdampak diimbau waspada, mengenakan masker, serta mengurangi aktivitas luar ruangan akibat gangguan udara.
Suara.com - Aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau masih berlangsung hingga Sabtu (5/9/2026).
Seiring aktivitas tersebut, sebaran abu vulkanik terpantau bergerak ke sejumlah wilayah dan mencapai bagian Jawa Barat, termasuk wilayah Bandung.
Informasi pemantauan hingga pukul 17.00 WIB menyebutkan sebaran abu vulkanik bergerak ke beberapa arah, terutama tenggara, selatan, barat daya, barat, hingga barat laut.
Sebaran tersebut tidak hanya berada di sekitar kawasan Gunung Anak Krakatau dan Selat Sunda.
Abu vulkanik juga terpantau mencapai sejumlah wilayah seperti Bandar Lampung hingga bagian Jawa Barat.
Analisis citra satelit menunjukkan adanya area yang mengindikasikan sebaran abu vulkanik.
Pada citra tersebut, area berwarna cokelat menunjukkan indikasi material abu vulkanik, sementara area berwarna putih merupakan awan biasa.
![Gunung Anak Krakatau Meletus, BMKG Jepang Kasih Peringatan Ini [Tangkap layar X]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/09/05/98361-gunung-anak-krakatau.jpg)
BMKG Temukan Dua Klaster Sebaran Abu
Sementara itu, berdasarkan informasi PVMBG dan Volcanic Ash Advisory Center (VAAC) Darwin serta analisis citra RGB Himawari-9 pada Sabtu (5/9/2026) pukul 20.00 WIB, BMKG mengidentifikasi dua klaster sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau.
Baca Juga: Gunung Anak Krakatau Erupsi, Abu Vulkanik Sedang Dideteksi Apakah Sudah Sampai Bandara Soetta
Klaster pertama terpantau dari permukaan hingga ketinggian sekitar 20.000 kaki.
Sebarannya bergerak ke arah tenggara hingga selatan dan mencakup sebagian wilayah Banten serta Jawa Barat beserta perairan di sekitarnya.
Sementara klaster kedua terpantau dari permukaan hingga ketinggian 50.000 kaki.
Arah pergerakannya menuju barat daya hingga barat laut, mencakup sebagian Banten, Lampung, Bengkulu, Selat Sunda bagian selatan, serta Samudra Hindia di sebelah barat Lampung dan Banten.
Dengan pola tersebut, wilayah yang berada di jalur pergerakan abu perlu memperhatikan perkembangan kondisi udara dan informasi resmi dari otoritas terkait.
Warga Diminta Waspada
Masyarakat yang berada di wilayah terdampak sebaran abu vulkanik diimbau meningkatkan kewaspadaan, terutama apabila kualitas udara mulai terganggu.
Warga juga disarankan menggunakan masker dan mengurangi aktivitas di luar ruangan ketika kondisi udara tidak mendukung.
Langkah tersebut penting untuk mengurangi paparan abu vulkanik yang terbawa angin.
Gunung Anak Krakatau sendiri masih menjadi perhatian dalam pemantauan aktivitas vulkanik.
Data MAGMA ESDM pada Sabtu (5/9/2026) mencatat Gunung Anak Krakatau berada pada Level III atau Siaga.
BMKG sebelumnya juga menekankan pentingnya masyarakat mengikuti informasi resmi terkait aktivitas Gunung Anak Krakatau.
Pemantauan dilakukan bersama PVMBG dan instansi terkait untuk melihat perkembangan aktivitas gunung api serta potensi bahaya yang menyertainya.
Masyarakat diminta tidak mudah mempercayai informasi yang belum terverifikasi dan mengutamakan sumber resmi pemerintah.
Perkembangan sebaran abu vulkanik dapat berubah mengikuti aktivitas erupsi dan kondisi angin.