Sosial Media
0
Mensinkronisasi logo dan berita terbaru...
    Home Berita Featured Spesial

    Siphon Metro Kepanjen: Jejak Rekayasa Air Kolonial yang Hidupi Pertanian Malang - Times Indonesia

    3 min read

     


    A-AA+

    MALANG – Dua pipa besar membentang melintasi kawasan Sungai Metro di Kepanjen, Kabupaten Malang. Sekilas terlihat seperti jaringan pipa biasa. Namun, struktur tersebut merupakan bagian dari Siphon Metro, teknologi irigasi yang sejak awal abad ke-20 digunakan untuk mengatasi perbedaan kondisi topografi di wilayah selatan Malang.

    Saat TIMES Indonesia berkunjung Rabu (16/9/2026), struktur Siphon Metro masih terlihat berdiri melintasi aliran Sungai Metro. Air dari jaringan irigasi dialirkan melalui pipa untuk mencapai sisi lain wilayah yang dipisahkan sungai dan perbedaan elevasi.

    Penelitian Joko Sayono dan sejumlah akademisi Universitas Negeri Malang menjelaskan, wilayah Kepanjen memiliki bentang dataran rendah sekaligus perbukitan. Kondisi tersebut menjadi tantangan bagi pengembangan irigasi pada masa kolonial, terutama untuk mendukung kawasan pertanian dan perkebunan.

    Siphon Metro
    Bentang Syphon Metro di Kepanjen, Kabupaten Malang, menjadi bagian dari jaringan Daerah Irigasi Molek. (foto: Raditya Bagus Ardianto)

    Salah satu teknologi yang digunakan adalah siphon. Dalam sistem irigasi, siphon berfungsi membawa air melewati penghalang seperti sungai, lembah, jalan, atau saluran lain agar distribusi air dapat tetap berlanjut.

    Air dalam jaringan tersebut memanfaatkan perbedaan elevasi dan tekanan untuk mengalir. Dengan cara itu, saluran dari satu sisi dapat diteruskan menuju sisi lainnya tanpa harus mencampurkan aliran irigasi dengan air sungai yang dilewati.

    Siphon Metro menjadi bagian dari Daerah Irigasi (DI) Molek yang berkembang sejak masa kolonial Belanda. Kementerian Pekerjaan Umum mencatat jaringan DI Molek dibangun sejak 1901 dan masih berfungsi hingga sekarang.

    siphon metro
    Bagian utama Syphon Metro memperlihatkan struktur masuknya aliran air sebelum diteruskan ke jaringan pipa. (Foto: Raditya Bagus Ardianto)

    Fungsinya bahkan tidak berhenti sebagai tinggalan sejarah. DI Molek memiliki luas layanan sekitar 3.883 hektare dan mengairi kawasan pertanian di Kecamatan Kepanjen, Kromengan, dan Sumberpucung.

    Pada Juli 2026, Balai Besar Wilayah Sungai Brantas juga tengah melakukan rehabilitasi jaringan DI Molek. Penanganan dilakukan untuk meningkatkan keandalan distribusi air sekaligus mendukung produktivitas lahan pertanian di Kabupaten Malang.

    Keberadaan Siphon Metro menunjukkan bahwa nilai sebuah peninggalan infrastruktur tidak hanya terletak pada usianya. Sistem yang dirancang untuk menjawab persoalan topografi lebih dari satu abad lalu masih berkaitan dengan kebutuhan distribusi air pertanian hari ini.

    Dari dua pipa yang melintasi Sungai Metro, tersimpan contoh bagaimana rekayasa air dapat menghubungkan sejarah teknologi dengan kebutuhan masyarakat lintas generasi. (*)

    Pewarta: Raditya Bagus Ardianto

    Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
    Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
    Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

    Komentar
    Additional JS