Wamenkes Dante Tegaskan Kasus Influenza A Tak Berbahaya - Investor Trust

Poin Penting
| ● | Kemenkes menyebut aktivitas influenza masih dalam kategori medium, meski terjadi peningkatan kasus di Indonesia dan Asia Tenggara. |
| ● | Influenza A (H3N2) subclade K menjadi salah satu yang dipantau Kemenkes, tetapi jumlah temuannya pada 2026 disebut lebih rendah dibandingkan 2025. Istilah “superflu” juga bukan nomenklatur resmi WHO maupun CDC. |
| ● | Pola kenaikan influenza dinilai masih mengikuti tren musiman, terutama menjelang musim hujan. |
JAKARTA, investortrust.id — Wakil Menteri Kesehatan (Wamenkes) Dante Saksono Harbuwono menegaskan, kasus Influenza A yang tengah diperbincangkan masyarakat tidak berbahaya. Bahkan, hingga saat ini belum ada kematian yang tercatat akibat Influenza A.
"Tren kasus influenza naik turunnya itu masih sama seperti tahun-tahun sebelumnya. Jadi enggak ada peningkatan kasus yang signifikan baik di global maupun di tingkat nasional," kata Dante saat konferensi pers di kantor Bakom RI, Jakarta, Rabu (30/9/2026).
Menurut Dante, Influenza A merupakan jenis strain baru. Namun, dia menegaskan penyakit tersebut tidak berbahaya. "Namanya influenza A itu jenis strain-nya memang strain baru, tetapi tidak berbahaya. Belum ada kematian yang dicatat akibat influenza A tersebut," ungkapnya.
Dante mengatakan, Influenza A juga merupakan self-limiting disease, yakni penyakit yang dapat sembuh dengan sendirinya tanpa pengobatan.
"Ini adalah self-limiting disease, penyakit yang sembuh dengan sendirinya tanpa diobati. Jadi tidak berbahaya influenza A tersebut," tuturnya.
Baca Juga
Kasus Influenza Meningkat, Klaim Rawat Inap Allianz Life Naik 47%
Dia menambahkan, pola kasus influenza saat ini masih mengikuti pola rutin tahunan. Aktivitas influenza biasanya meningkat menjelang musim hujan, kemudian menurun pada Februari dan Maret mendatang.
"Naik di menjelang musim hujan, nanti akan turun lagi di bulan-bulan Februari dan Maret, dan seterusnya seperti itu. Trennya masih sama di tingkat global, di tingkat nasional itu masih sama," jelas Dante.
Berdasarkan data surveilans Kementerian Kesehatan (Kemenkes), kelompok anak usia 0-4 tahun menjadi kelompok umur dengan jumlah kasus Influenza A (H3N2) subclade K tertinggi dalam data 2025-2026.
Pada 2025, tercatat 62 kasus pada kelompok usia 0-4 tahun. Sementara pada 2026, terdapat delapan kasus pada kelompok usia tersebut. Pada kelompok usia 5-9 tahun juga tercatat delapan kasus pada 2026, disusul lima kasus pada kelompok usia 10-17 tahun.
Secara lebih luas, laporan surveilans terbaru Kemenkes menunjukkan 39% kasus influenza yang terdeteksi berasal dari kelompok usia 0-4 tahun.
Baca Juga
Menkes Pastikan Stok Obat Influenza A Aman, tetapi Tak Dapat Diberi Sembarangan
Aktivitas Influenza Masih Medium
Kemenkes RI turut mencatat adanya peningkatan aktivitas influenza di Indonesia dan kawasan Asia Tenggara. Namun, berdasarkan hasil surveilans hingga minggu ke-38 tahun 2026, kondisi tersebut masih berada dalam rentang medium.
Hasil surveilans sentinel di Indonesia menunjukkan positivity rate influenza sebesar 56% pada minggu ke-38. Pada surveilans di puskesmas, aktivitas influenza berada pada kategori sedang (medium), sedangkan surveilans rumah sakit masih berada pada kategori rendah (low).
Menteri Kesehatan (Menkes), Budi Gunadi Sadikin menilai, peningkatan aktivitas influenza perlu direspons dengan penguatan surveilans dan kesiapsiagaan.
"Memang ada kenaikan kasus influenza, khususnya di Indonesia dan Asia Tenggara. Tetapi berdasarkan data surveilans yang kita miliki, kondisinya masih dalam rentang medium. Karena itu, yang kita lakukan adalah meningkatkan surveilans dan kesiapsiagaan agar perkembangan kasus dapat terus dipantau," ujar Budi dalam keterangannya, dikutip Rabu (30/9/2026).
Menurut data Kemenkes, peningkatan aktivitas influenza pada periode Agustus-September masih sesuai dengan pola musiman yang selama ini terlihat di Indonesia.
Pada minggu ke-38 tahun 2026, dari 265 spesimen yang diperiksa melalui surveilans sentinel, sebanyak 148 spesimen positif influenza. Virus yang dominan adalah Influenza A (H1N1pdm09).
Kemenkes juga memantau perkembangan Influenza A (H3N2) subclade K yang belakangan banyak diperbincangkan masyarakat dengan sebutan "superflu".
Istilah "superflu" tersebut bukan merupakan nomenklatur resmi yang digunakan WHO maupun CDC untuk menyebut subclade K. Ihwal itu, perkembangan influenza perlu dilihat berdasarkan hasil pemeriksaan dan data surveilans.
Budi menuturkan, data surveilans menunjukkan jumlah temuan subclade K pada 2026 lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya.
"Untuk yang disebut sebagai 'superflu' atau H3N2 subclade K, data yang kita pantau justru menunjukkan jumlah temuannya pada tahun ini lebih rendah dibandingkan tahun lalu. Jadi, kita perlu membedakan antara informasi yang beredar dengan kondisi berdasarkan data surveilans," pungkas Menkes Budi.