Sosial Media
0
Mensinkronisasi logo dan berita terbaru...
    Home Berita Featured Karhutla Kebakaran Hutan Lintas Peristiwa Spesial

    3 Bulan Karhutla Melumpuhkan Kutai Barat: ISPA Melonjak, Penerbangan Batal - Kompas

    5 min read

     



    BALIKPAPAN, KOMPAS.com – Bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang memicu kabut asap pekat terus menyelimuti wilayah Kabupaten Kutai Barat (Kubar), Kalimantan Timur, selama kurun waktu dua hingga tiga bulan terakhir.

    Kondisi memprihatinkan ini tidak hanya melumpuhkan aktivitas harian masyarakat, tetapi juga memicu krisis kesehatan, kelumpuhan ekonomi, hingga gangguan pada fasilitas publik dasar.

    Seorang warga Kecamatan Barong Tongkok, Husor Situmorang (42), membeberkan bahwa fenomena kabut asap pekat di wilayahnya berulang kali terjadi tanpa kepastian kapan akan usai.

    Meskipun sempat turun hujan deras sebanyak dua kali, durasinya yang singkat sama sekali tidak mampu memadamkan titik api di medan yang sulit dijangkau.

    BEGINU : Cerita Membuat Orang Belajar Tanpa Digurui

    Baca juga: Titik Panas Kaltim Tembus 8 Ribu, Ini Langkah Berau, Mahulu dan Kubar Hadapi Karhutla

    "Asap pekat di Barong Tongkok ini berulang kali terjadi sejak sekitar tiga bulan terakhir. Bolak-balik terjadi, agak cerah sehari dua hari, nanti pekat lagi beberapa hari, begitu terus menerus sampai hari ini. Ada dua kali hujan deras tapi hanya sebentar dan belum berpengaruh ke kondisi karhutla," kata Husor saat dihubungi dari Balikpapan, Sabtu (24/10/2026).

    Pria yang akrab disapa Ucoy ini menceritakan, dampak paparan asap pekat kini telah menggerogoti kesehatan keluarga serta tetangganya yang mulai mengeluhkan gangguan pernapasan dan iritasi mata.

    "Saya pribadi, anak-anak, keluarga, dan tetangga sudah mulai susah bernapas tidak seperti biasanya. Saya mulai batuk dan berdahak, padahal saya tidak merokok atau vape serta menerapkan hidup sehat selama ini. Mata juga mulai perih-perih, tidak tahan lama berada di luar rumah," ujar Ucoy.

    Berdasarkan pemantauan pada Sabtu, kualitas udara di Kutai Barat telah masuk kategori berbahaya dengan Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) menyentuh angka 516.

    Dinas Kesehatan Kutai Barat mencatat akumulasi kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) telah mencapai 1.504 kasus sepanjang Juni hingga September 2026.

    Kepala Dinas Kesehatan Kutai Barat, Barnabas, menyampaikan bahwa peningkatan kasus tercatat paling signifikan pada Agustus, sebelum melandai pada September berdasarkan data faskes, posyandu, dan puskesmas keliling.

    "Di bulan Juni itu 194, kemudian di bulan Juli 415, di Agustus itu 478, kemudian di September ini 417. Jadi total keseluruhan sampai dengan bulan September ini 1.504 kasus," kata Barnabas.

    Baca juga: Karhutla Sulsel Ancam Lukisan Gua Tertua di Dunia Berusia 67.800 Tahun

    Dampak Sektor Ekonomi, Pendidikan, dan Pemadaman Listrik

    Dampak karhutla juga melumpuhkan aktivitas belajar mengajar dan perekonomian warga.

    Anak-anak sekolah diinstruksikan oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan setempat untuk Belajar dari Rumah (BDR) selama hampir tiga bulan.

    Di sektor pertanian, warga gagal bercocok tanam akibat lahan kebun sawit, singkong, karet, dan tanaman buah milik mereka hangus terbakar.

    "Sinar matahari pun sampai tidak dapat menembus kabut asap, hanya sedikit saja terasa, tapi udara sangat panas dan kering berkabut asap pekat. Jelas ini sangat mempengaruhi penghasilan warga," kata Ucoy.

    Penderitaan warga kian bertambah dengan adanya gangguan pasokan listrik PLN yang padam bergilir hingga dua kali sehari akibat kerusakan mesin pembangkit.

    Padahal, warga sangat membutuhkan pendingin ruangan (AC) untuk melindungi bayi dan anak-anak dari paparan asap di dalam rumah.

    Kendati Pemda Kubar telah membagikan lebih dari 100 ribu masker dan mengagendakan pelayanan kesehatan siaga, Ucoy menilai keterbatasan alat dan anggaran daerah membuat penanganan tidak maksimal.

    Ia mendesak Pemerintah Pusat untuk segera mengambil alih penanganan darurat.

    "Kami minta Presiden segera ke Kaltim dan Kalteng meninjau langsung kondisi lapangan. Pemda kalau saya lihat sudah maksimal, tapi karena keterbatasan sumber tenaga, teknologi, dan dana yang banyak dipangkas pusat, maka Pemerintah Pusat harus segera bantu lewat pemadaman udara (water bombing), kirim bantuan sembako, vitamin, pengobatan gratis, dan masker," tutur Ucoy.

    Operasional Bandara Melalan Lumpuh Total

    Dampak buruk kabut asap pekat juga melumpuhkan total moda transportasi udara melalui Bandara Melalan di Kecamatan Melak.

    Kepala Kantor UPBU Kelas III Melalan Melak, Bernard Repelita Purba, mengonfirmasi bahwa maskapai Wings Air dan Smart Cakrawala Aviation kembali membatalkan seluruh jadwal penerbangan pada Sabtu (24/10/2026).

    "Karena kondisi kabut asap membuat jarak pandang tak ideal untuk penerbangan, maskapai memutuskan membatalkan penerbangan dengan pertimbangan keselamatan," kata Bernard.

    Pembatalan ini memperpanjang lumpuhnya rute penerbangan di Kutai Barat, di mana sebelumnya Kantor Otoritas Bandara Wilayah VII Balikpapan mencatat sebanyak 22 penerbangan di Bandara Melalan terpaksa dibatalkan pada periode 12–18 Oktober 2026 akibat jarak pandang terbatas.

    Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.

    Komentar
    Additional JS