Sosial Media
0
Mensinkronisasi logo dan berita terbaru...
    Home Berita BRIN Diabetes Featured Kesehatan Paru-paru Spesial Vape

    BRIN Ungkap Pengguna Vape Rentan Kena Diabetes dan Paru-paru - Kompas

    5 min read

     

    KOMPAS.com - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengungkap dampak kesehatan yang dihasilkan oleh penggunaan vape.

    Kepala BRIN Arif Satria mengatakan, berdasarkan pengujian yang dilakukan BRIN, penggunaan vape memiliki dampak terhadap kesehatan seperti diabetes dan paru-paru.

    "Vape ini secara medis, dari uji yang dilakukan oleh BRIN, berdampak kepada kesehatan, satu masalah diabetes, kemudian masalah paru-paru, kemudian yang ketiga juga masalah pankreas," kata Arif dikutip dari Antara, Kamis (1/10/2026).

    Baca juga: Siswi SD di Jepang Raih Medali Emas Esports Asian Games dalam Puyo Puyo Champions

    Bisa jadi celah dimanfaatkan untuk penyalahgunaan narkoba

    Selain itu, kata Arif, vape juga bisa menjadi salah satu celah yang dimanfaatkan untuk penyalahgunaan narkoba sehingga perlu diantisipasi.

    Apa yang Terjadi di Paru-Paru Saat Pneumonia?

    Terkait hal itu, BRIN akan berkoordinasi dengan Kementerian Kesehatan, Badan Narkotika Nasional (BNN), Kementerian Hukum, serta Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi untuk mengkaji berbagai regulasi terkait.

    "Namun demikian, vape juga menjadi salah satu celah yang bisa dimanfaatkan untuk penyebaran narkoba. Sehingga ini hal yang segera harus benar-benar diantisipasi," ujarnya.

    Baca juga: Kuliah Gratis di Thailand? Chulalongkorn Buka Beasiswa S2-S3 2026

    Kajian tersebut akan didukung hasil riset

    Menurut Arif, kajian tersebut akan didukung hasil riset dan naskah akademik sebagai dasar penyusunan kebijakan.

    "Intinya bahwa Presiden ingin menyelamatkan generasi ke depan sehingga beliau ingin benar-benar generasi ke depan itu aman dari narkoba," jelas dia.

    Ilustrasi vape. Penelitian terbaru menemukan vape rasa buah, terutama mangga dan semangka, berkaitan dengan perubahan aktivitas ribuan gen yang selama ini dikaitkan dengan berbagai penyakit.

    Lihat Foto

    Sebelumnya diberitakan, merujuk hasil survei Global Adult Tobacco Survey (GATS) 2011 menunjukkan prevalensi perokok elektrik naik 0,3 persen (2011) menjadi 3 persen pada tahun 2021.

    Tidak hanya itu saja, prevalensi perokok remaja usia 13-15 tahun juga meningkat sebesar 19,2 persen.

    Muncul anggapan, vape atau rokok elektrik dianggap lebih sehat daripada rokok konvensional berbahan baku tembakau. Diberitakan Kompas.com (25/1/2019), penggunaan vape atau rokok elektrik dapat merusak paru-paru.

    Baca juga: 3 Lowongan Magang Ditjen Saintek Kemendikti bagi Mahasiswa, Buka sampai 18 Oktober

    Hal tersebut dijelaskan oleh dokter ahli jantung Stanton Glantz. Sebuah studi pada Annual Review of Public Health juga menemukan bahwa menggunakan vape dapat membuat tubuh terkena racun dan partikel ultrafine level tinggi.

    Racun tersebut dapat meningkatkan risiko penyakit kanker paru-paru serta penyakit kardiovaskular lainnya.

    Terdapat dua zat kimia yang berada dalam vape cair, yakni propylene glycol dan vegetable glycerin, dua zat tersebut juga merupakan komponen untuk mesin uap.

    Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.

    Gibran Minta Maaf atas Keracunan MBG di Batang, Tanggung Semua Biaya Pengobatan

    Komentar
    Additional JS