Sosial Media
0
Mensinkronisasi logo dan berita terbaru...
    Home Berita Featured Spesial

    Bulan Ternyata Terus Menyusut Temuan 10.000 Retakan Ungkap Penyebabnya - Media Indonesia

    2 min read

     


    Bulan Ternyata Terus Menyusut! Temuan 10.000 Retakan Ungkap Penyebabnya
    Peta global patahan bulan. Garis merah menunjukkan lebih dari 8.900 tebing berbentuk lobus, sedangkan garis biru menunjukkan lebih dari 2.000 punggungan mare kecil.(NASA/ASU/Intuitive Machines/Smithsonian)

    SATELIT alami Bumi, Bulan, ternyata terus mengalami penyusutan ukuran secara perlahan. Studi terbaru yang menganalisis citra dari Lunar Reconnaissance Orbiter Camera (LROC) milik NASA berhasil mengungkap tingkat penyusutan radius Bulan beserta ribuan retakan di permukaannya.

    Bulan diperkirakan terbentuk sekitar 4,5 miliar tahun lalu akibat benturan hebat antara objek berukuran raksasa dan Bumi muda. Hingga saat ini, bagian dalam Bulan masih mengalami proses pendinginan bertahap pascabenturan purba tersebut. Seiring mendinginnya suhu interior, Bulan mengalami kontraksi yang memicu proses penyusutan secara perlahan dan terus-menerus.

    Melalui analisis gambar LROC, para ilmuwan menemukan lebih dari 10.000 patahan muda atau retakan di seluruh permukaan Bulan. Berdasarkan temuan retakan ini, para peneliti mengestimasi bahwa radius Bulan telah berkurang sekitar 148 kaki (sekitar 45 meter) selama 400 hingga 800 juta tahun terakhir.

    Geolog sekaligus ilmuwan emeritus di Center for Earth and Planetary Studies, Smithsonian's National Air and Space Museum, Thomas Watters, menyampaikan pengamatannya mengenai jumlah patahan muda yang ditemukan.

    "Jumlah patahan muda yang terungkap dalam gambar LROC ini jauh lebih banyak dari yang pernah saya bayangkan," ujar Thomas Watters.

    Watters menambahkan proses pembentukan retakan baru diprediksi akan terus berlanjut seiring mendinginnya bagian dalam Bulan.

    "Seiring bagian dalam Bulan yang terus mendingin dan berkontraksi, pertumbuhan patahan yang ada serta pembentukan patahan baru diperkirakan akan terus berlanjut hingga hari ini," lanjut Watters.

    Melalui pengamatan LROC, para peneliti mengidentifikasi berbagai bentuk bentang alam di permukaan Bulan. Beberapa di antaranya adalah lobate scarps, struktur melengkung panjang yang terbentuk saat permukaan Bulan berkontraksi, retak, dan terdorong ke atas, serta small mare ridges, yaitu kerutan sempit yang membentang di dataran gelap Bulan.

    Aktivitas tektonik di Bulan memiliki karakteristik yang berbeda dengan Bumi. Jika Bumi memiliki sekitar 15 lempeng tektonik utama, Bulan hanya memiliki satu lempeng tunggal (single-plate body). Kerak terluarnya berupa satu kesatuan utuh yang hanya terpecah oleh patahan akibat proses kontraksi. Hal ini menyebabkan retakan atau patahan tersebar di seluruh permukaan Bulan, bukan berkumpul di batas-batas lempeng seperti di Bumi.

    Pemetaan terhadap ribuan fitur geologi ini membantu ilmuwan menyusun kembali sejarah evolusi Bulan. Para peneliti menemukan bahwa area dengan jumlah patahan yang lebih sedikit memiliki lapisan kerak Bulan yang lebih tebal.

    Kondisi tersebut menunjukkan bahwa area berkerak tebal cenderung lebih stabil. Selain itu, temuan ini mengindikasikan bahwa sebagian besar retakan di permukaan Bulan terbentuk pada tahap sejarah Bulan yang lebih akhir, karena kerak tebal pada masa-masa awal bertindak sebagai isolator yang menahan panas interior dan mencegah penyusutan dini.Hasil studi ini telah dipublikasikan secara resmi di The Planetary Science Journal pada 14 Oktober. (Space/Z-2)

    Komentar
    Additional JS