Dwi Bagus Martono Dikenal Ber-IQ Tinggi, Kerja di Industri Perkapalan dan Pengeboran Lepas Pantai - Tribun-medan
Editor: Juang Naibaho
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/Dwi-pelaku-pembunuh-istri-dan-anaknya.jpg)
TRIBUN-MEDAN.com - Warga Kota Madiun, Jawa Timur, Dwi Bagus Martono (40) telah ditetapkan sebagai tersangka kasus pembunuhan istri siri dan anaknya.
Korban Dini Hardianti (30) dan AGF (4) asal Bogor, Jawa Barat, sempat dilaporkan hilang sejak 20 September 2026. Belakang terungkap, keduanya ternyata dihabisi oleh Bagus.
Kuasa hukum keluarga korban, Ikbal Sermaf menuturkan, pelaku selama ini bekerja di dunia perkapalan serta industri minyak internasional.
"Pelaku ini cukup dikenal di kalangan teman-temannya di bidang perkapalan. Dia bukan ABK biasa, melainkan tenaga kerja yang sangat dibutuhkan oleh perusahaan asing di luar negeri," kata Ikbal.
Pihaknya juga sudah bertemu langsung dengan pelaku dan dari hasil pertemuan tersebut, ia mengatakan bahwa Bagus berprofesi sebagai konsultan di dunia perkapalan.
"Mungkin semacam konsultan untuk perkapalan-perkapalan, seperti itu yang saya dalami dan saya profiling dari hasil pertanyaan saya kepada pelaku," katanya.
Dikutip dari Surya.co.id, Bagus mempunyai keahlian khusus di bidang pengeboran minyak lepas pantai atau offshore serta las di bawah air atau underwater welding.

Diketahui, gaji dari kedua pekerjaan tersebut mencapai ratusan ribu dollar AS sekali kontrak.
"Pelaku ini ahli di pengeboran minyak lepas pantai dengan kisaran gaji 100 sampai 150 ribu Dolar AS setiap kali kontrak. Statusnya saat ini masih aktif bekerja dan izin kerjanya tembus sampai Eropa," ujar seorang narasumber internal.
Ketua RT tetangga Bagus, Agung Rusmanto mengatakan bahwa warga di sekitar kediaman pelaku merasa kaget atas kejadian ini.
Pasalnya, rumah lokasi pembunuhan tersebut merupakan rumah kosong yang didatangi Bagus sesekali untuk dibersihkan.
"Di sini itu biasanya dia datang, mungkin bersih-bersih. Tapi kalau tempat tinggal enggak, kosong," jelasnya.
Di mata tetangga, Bagus juga dikenal jadi sosok yang baik dan cukup bersosialisasi dengan lingkungan sekitar.
"Kalau yang saya tahu, orangnya baik. Di lingkungan sendiri dia tidak pernah terlibat kriminal atau apa. Rata-rata warga lingkungan syok, pasti kaget. Basic-nya dia baik, kemarin habis haji juga. Jadi, masyarakat masih kaget, tidak menyangka," tuturnya.
Dikenal Pintar dan IQ Tinggi
Bagus dikenal sebagai sosok yang pintar, pendiam, dan selalu menyempatkan diri bersosialisasi dengan tetangga di tengah kesibukan pekerjaannya.
Hal ini diakui Eko Sumaryono, tetangga Bagus di Gang Tentrem, Jalan Doho, Kota Madiun. "Pintar orangnya, setelah lulus SMA langsung kuliah ke luar kota," kata Eko Sumaryono, Selasa (27/10/2026).
Bagus merupakan lulusan SMAN 2 Madiun, setelah itu dia melanjutkan kuliah di Institut Teknologi Bandung (ITB).
Sumber lain menyebut, Bagus tumbuh di keluarga terpandang yang taat beragama. "Dia ini orangnya pendiam. Keluarganya tokoh yang terpandang, mampu, dan agamis. Masyarakat sangat kaget, tidak menyangka kok dia sampai bertindak sekeji itu," ungkapnya.
Selain itu, pelaku juga memiliki kecerdasan intelektual (IQ) yang terbilang mumpuni. Direktur Ditreskrimum Polda Jatim, Kombes Roy Sihombing, mengatakan kepolisian sudah melakukan tes psikologis terhadap pelaku.
"Dia mempunyai kelebihan dari sisi IQ, juga kepintaran yang tinggi. Memang ada kecenderungan tersangka ini bersifat superior," ujarnya dalam konferensi pers di Mapolda Jatim, pada Selasa (27/10/2026).
Kecerdasan yang bisa dibilang berada di atas rata-rata itu, diduga membuat pelaku bisa merencanakan upaya penghilangan jejak pembunuhan yang baru dilakukan dengan cara demikian, yakni membakar, mencacah dan membuang serpihan jasad kedua korban.
"Waktu yang dibutuhkan 2 hari mulai dari dia melakukan peristiwa pembunuhan sampai dia mengamankan seluruh perbuatan yang dia lakukan," pungkasnya.
Kenal di Samarinda dan Tinggal di Ponorogo
Ikbal Sermaf menjelaskan, hubungan antara Dini dan pelaku telah terjalin selama kurang lebih tiga tahun.
Keduanya memutuskan untuk melangsungkan pernikahan secara siri di Kota Samarinda, Kalimantan Timur.
Hal senada diungkapkan oleh kakak korban, Yuni. Ia menceritakan bahwa adik perempuannya itu pertama kali bertemu dengan pelaku saat sedang berada di Kalimantan.
"(Bertemu) Di Kalimantan. Adeknya nikah sama orang Kalimantan, jadi tinggal di sana, ketemunya di situ," ujar Yuni.
Setelah menikah secara siri di Samarinda, pasangan ini sempat singgah di daerah asal Dini di Bogor, Jawa Barat.
Setelah itu, mereka memutuskan untuk tinggal di Kabupaten Ponorogo.
Di Ponorogo, Dini bersama suami siri dan anaknya sempat menetap di sebuah penginapan atau homestay selama empat bulan sebelum akhirnya bertolak menuju tempat tinggal orang tua pelaku di Madiun.
"Korban ini tinggal di homestay dari Ponorogo, setelah itu mereka tinggal selama 4 bulan dari peristiwa ini," jelas Ikbal Sermaf di depan Lobby Gedung Ditreskrimum Mapolda Jatim, Senin (26/10/2026) malam.
Status Pernikahan dan 4 Bulan Menetap di Homestay
Ikbal menyebutkan bahwa korban sebenarnya telah mengetahui sejak awal status pelaku yang memiliki istri sah.
Meski ada niat untuk meresmikan pernikahan secara hukum negara, rencana tersebut belum sempat terealisasi.
Kendati demikian, menurut penilaian pihak keluarga, hubungan asmara antara Dini dan Bagus selama tiga tahun ini relatif berjalan harmonis tanpa adanya riwayat konflik besar maupun kekerasan dalam rumah tangga (KDRT).
"Kalau kita melihat pada indikator dasar, sebenarnya aman-aman saja dan berjalan dengan baik. Pertengkaran hampir jaranglah, kalau kita bisa lihat kan seumumnya orang berpasangan yang mungkin ada perbedaan pendapat, wajar lah kira-kira begitu," ungkap Ikbal. (*)
Sebagian artikel ini telah tayang di Surya.co.id