Haji Isam Gadai Saham PGUN dan JARR ke Bank Mandiri, Diproyeksi Lunas 6 Tahun - Bisnis com

Bisnis.com, JAKARTA — Aksi gadai saham milik Haji Isam PT Pradiksi Gunatama Tbk. (PGUN) dan PT Jhonlin Agro Raya Tbk. (JARR) oleh pengendalinya diperkirakan dapat dilunasi enam tahun kemudian.
Research Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia Muhammad Nurkholis Syafruddin menjelaskan akuisisi saham PT Bayan Resources Tbk (BYAN) oleh kelompok usaha Jhonlin menjadi perhatian karena implikasinya terhadap risiko kredit PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI).
“Setelah transaksi, PT Jhonlin Baratama memegang 30,25% saham BYAN. Pada periode tahun buku 2021–2025, BYAN rata-rata membagikan dividen sebesar US$960 juta per tahun, termasuk US$500 juta untuk tahun buku 2025,” ujar Nurkholis, Rabu (14/10/2026).
Nurkholis menuturkan berdasarkan porsi kepemilikan tersebut, bagian dividen Jhonlin secara historis berpotensi mencapai sekitar US$290 juta per tahun.
Nilai tersebut setara dengan imbal hasil dividen sekitar 20% terhadap asumsi fasilitas pembiayaan sebesar Rp26,1 triliun atau sekitar US$1,45 miliar yang sepenuhnya dibiayai utang. Angka ini jauh di atas asumsi biaya pinjaman sebesar 8%.
“Dengan struktur cicilan selama 7-8 tahun, dividen rata-rata BYAN berpotensi menopang pelunasan pinjaman. Beban bunga tahunan sekitar US$116 juta dapat ditutup 2,5 kali oleh dividen rata-rata lima tahun dan 1,3 kali oleh dividen tahun buku 2025. Sementara itu, cicilan tahunan sebesar US$252-US$279 juta dapat ditutup sekitar 1,04-1,15 kali sehingga pinjaman berpotensi lunas dalam sekitar 6,6 tahun,” kata Nurkholis.
Dia melanjutkan kemampuan pembayaran ini turut didukung oleh kinerja operasional BYAN. Pada semester I/2026, perusahaan membukukan laba bersih sebesar US$410 juta, tumbuh 17% secara tahunan, serta memiliki kas sebesar US$934 juta.
Mirae Asset menilai bantalan pembayaran utang masih terbatas dan bergantung pada sejumlah asumsi yang tidak sepenuhnya berada dalam kendali Jhonlin.
Jika menggunakan rata-rata dividen BYAN periode 2023–2025 sebesar US$667 juta per tahun, rasio Debt Service Coverage Ratio (DSCR) diperkirakan turun menjadi 0,72-0,80 kali. Dalam skenario tersebut, BYAN perlu membagikan dividen minimal sekitar US$830 juta per tahun agar DSCR berada di atas 1 kali.
Meskipun demikian, Nurkholis menuturkan risiko juga berasal dari kebijakan dividen BYAN. Jhonlin tidak menerima dividen tahun buku 2025 dan tidak memiliki kendali penuh atas keputusan pembagian dividen, mengingat keluarga Low masih memegang sekitar 32% saham BYAN.
“Selain itu, risiko terkait Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB), kewajiban Domestic Market Obligation (DMO), serta kondisi force majeure dapat menambah ketidakpastian terhadap arus kas dan kemampuan pembayaran utang,” tutur Nurkholis.
Struktur pembiayaan, seperti gadai saham BYAN, rekening penampungan dividen dan cadangan pembayaran utang menurutnya dapat membantu mengelola risiko. Namun, pembayaran tetap bergantung pada arus kas dan siklus batu bara.
Meski transaksi dinilai tidak seburuk yang dikhawatirkan, Mirae Asset tetap berpandangan bearish terhadap BMRI karena tantangan fundamental, termasuk LDR 94,4%, CAR bank-only 17,5%, serta kenaikan Cost of Credit (CoC) di tengah rasio Loan Loss Reserve (LLR) sekitar 2,4%, level terendah sepanjang sejarahnya.
Dengan demikian, Nurkholis menuturkan investor perlu mencermati risiko pembagian dividen BYAN, struktur pembiayaan, dan fundamental BMRI di tengah volatilitas pasar saham.
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel