Sosial Media
0
Mensinkronisasi logo dan berita terbaru...
    Home Berita Featured Karhutla Kebakaran Hutan Kesehatan Lintas Peristiwa Spesial

    Karhutla Tak Kunjung Padam, Ikatan Dokter Anak Indonesia Desak Pemerintah Serius Atasi Kebakaran - Jawa Pos

    4 min read


    Ilustrasi Karhutla. (Sumber : Jawa Pos)

    JP Radar Kediri - Penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan, Sumatra, dan Papua yang dinilai lamban membuat Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mendesak pemerintah dan pihak terkait meningkatkan upaya Penanganan.

    IDAI bahkan menyebut pemerintah tidak boleh hanya berfokus pada luas lahan yang berhasil dipadamkan, tetapi juga harus memastikan kesehatan masyarakat, terutama anak-anak, terlindungi dari paparan asap.

    Ketua Umum Pengurus Pusat IDAI Dr. dr. Piprim Basarah Yanuarso, Sp.A, Subsp.Kardio(K), Sabtu (17/10) mengatakan targetnya bukan hanya diukur dari berapa hektar api yang bisa dipadamkan, tetapi berapa baik kesehatan masyarakat, terutama anak-anak ini bisa terlindungi.

    Menurutnya, karhutla yang belum tertangani secara optimal di Kalimantan dan Sumatra telah menjadi persoalan lintas negara. 

    "Kami mendesak pemerintah dan pihak-pihak terkait untuk ayo segera kita atasi kebakaran ini dengan lebih intens lagi. Jangan sampai korbannya terus berjatuhan,” tegas dr. Piprim.

    Menurut dr. Piprim, keberhasilan penanganan karhutla seharusnya tidak semata-mata diukur dari jumlah hektare lahan yang berhasil dipadamkan. Perlindungan kesehatan masyarakat, khususnya anak-anak yang rentan terhadap dampak polusi udara, juga harus menjadi indikator utama.

    dr. Piprim menegaskan, udara bersih merupakan kebutuhan dasar sekaligus bagian dari hak anak untuk hidup sehat.

    Karena itu, orang tua, pemerintah, hingga tenaga medis memiliki tanggung jawab untuk memastikan anak-anak mendapatkan lingkungan yang sehat agar dapat tumbuh dan berkembang dengan baik.

    “Udara bersih itu bukan sesuatu yang mewah, tapi kebutuhan dasar dan bagian dari hak anak untuk hidup sehat,” ucapnya..

    Iamenambahkan, anak-anak bukan pihak yang menyebabkan kebakaran hutan, tetapi justru menjadi salah satu kelompok yang paling rentan menanggung dampaknya. Oleh karena itu, upaya pencegahan paparan asap harus lebih diutamakan daripada sekadar mengobati anak-anak yang sudah mengalami gangguan kesehatan.

    Salah satu langkah yang disarankan adalah membatasi aktivitas anak di luar ruangan selama kualitas udara memburuk. Selain itu, IDAI mendorong agar sekolah dan fasilitas pendidikan mempertimbangkan pembelajaran jarak jauh (PJJ) atau secara daring untuk mengurangi risiko paparan asap.

    Orang tua juga diminta aktif memantau informasi kualitas udara melalui sumber-sumber yang tersedia secara daring. Penggunaan masker dapat dipertimbangkan sesuai kondisi dan usia anak, dengan memperhatikan bahwa bayi dan anak di bawah usia dua tahun tidak dianjurkan menggunakan masker.

    “Jadi, aktivitas luar ruangan perlu dibatasi. Kemudian sekolah dan fasilitas pendidikan juga mungkin kita advokasi supaya mengutamakan pembelajaran jarak jauh atau online,” pungkas dr. Piprim.

    Komentar
    Additional JS