Menko Airlangga Sebut Rating MSCI Bukan Satu-satunya - Tempo
MENTERI Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan pasar modal Indonesia tidak bergantung pada satu rating. Selain Morgan Stanley Capital International atau MSCI, kata dia, ada FTSE Russel yang hasil penilaiannya berbeda.
Adapun dalam Equity Country Classification periode September 2026 yang diumumkan pada 6 Oktober lalu, FTSE Russel mempertahankan status pasar modal Indonesia sebagai secondary emerging market.
Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca
"MSCI kan salah satu rating, tapi bukan satu-satunya," kata Airlangga seusai rapat kerja evaluasi Kawasan Ekonomi Khusus di Kemenko Perekonomian, pada Rabu, 21 Oktober 2026.
Oleh karena itu, pemerintah optimistis pasar modal Indonesia tidak turun kelas. "Kami sih confident saja dengan tata kelola yang sedang disiapkan dan Indonesia tidak tergantung hanya pada satu rating," ujar Airlangga
Adapun dalam perdagangan Rabu, 21 Oktober, Indeks Harga Saham Indonesia (IHSG) ditutup melemah 44,53 poin atau 0,84 persen ke posisi 5.234,36 pada perdagangan sesi I hari ini, setelah sempat rebound 282,28 poin atau 5,65 persen ke posisi 5.278,89 pada penutupan perdagangan kemarin.
Sebelumnya, IHSG anjlok usai MSCI mengusulkan penurunan status pasar saham Indonesia dari emerging market menjadi standalone market. MSCI menargetkan pengumuman keputusan final pada akhir Juni 2027.
Keputusan tersebut langsung menyulut panik. Dalam perdagangan Jumat, 16 Oktober 2026, IHSG terjun bebas 8 persen saat pembukaan. Anjloknya IHSG memicu pembekuan sementara perdagangan atau trading halt oleh Bursa Efek Indonesia (BEI) pada pukul 08.58 hingga 09.28 WIB. Saat penutupan, ISHG terkoreksi 11,57 persen ke level 5.185, merosot tajam dibanding posisi hari sebelumnya di level 5.863.
Pada Senin, 19 Oktober 2026, BEI menggelar pertemuan secara daring dengan MSCI. Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik mengatakan beberapa hal dibahas dalam pertemuan tersebut.
Jeffery menyampaikan ada dua inisiatif baru soal kebijakan pelaporan dan transparansi saham, setelah pertemuan tersebut. Adapun dua komitmen baru yang ditunjukkan di antaranya penambahan keterangan afiliasi atau nonafiliasi dalam publikasi nama pemegang saham 1 persen.
Inisiatif selanjutnya, BEI akan mengeluarkan seluruh saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi alias high shareholding concentration (HSC) dari Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).
Sebelumnya, BEI telah merilis aturan yang mewajibkan pembukaan data pemegang saham perusahaan terbuka dengan porsi kepemilikan lebih dari 1 persen sebagai bentuk keterbukaan informasi.
“Dalam publikasi nama pemegang saham 1 persen akan kami tambahkan keterangan apakah nama tersebut terafiliasi atau tidak terafiliasi,” ujarnya di gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin.
Analis saham sekaligus pendiri Republik Investor, Hendra Wardana, mengingatkan bahwa efek domino dari sinyal MSCI berpotensi merembet jauh melebihi lantai bursa.
Ia menilai gejolak tersebut mulai mengancam pasar obligasi negara, stabilitas rupiah, hingga beban pembiayaan Anggaran Pendapatan ddan Belanja Negara. Apalagi akumulasi penjualan bersih atau net sell investor asing di pasar saham telah menembus Rp 114 triliun sepanjang tahun berjalan.
Menurut Hendra, kombinasi sejumlah indikator tersebut merupakan sinyal bahaya yang tidak bisa diabaikan begitu saja. "Ini merupakan ujian serius perihal kepercayaan investor," katanya.
